Selasa, 22 September 2020

Materi IPS Kelas 8 Semester Genap

 

3.3 Memahami keunggulan dan keterbatasan ruang dalam penawaran dan permintaan, teknologi serta pengaruhnya terhadap interaksi antarruang bagi kegiatan ekonomi, sosial, budaya, di Indonesia dan negara-negara ASEAN.

 

A. Keunggulan dan Keterbatasan Antarruang serta Peran Pelaku Ekonomi dalam Suatu Perekonomian

 

1.  Menjelaskan keunggulan dan keterbatasan antarruang dalam permintaan, penawaran, teknologi;

Barang dan jasa yang dibutuhkan manusia sebagian besar dihasilkan oleh manusia, dan hanya sebagian kecil yang disediakan langsung oleh alam. Oleh karena itu, manusia harus melakukan kegiatan untuk menghasilkan barang dan jasa yang biasa disebut dengan istilah produksi.

Sebagai negara tropis yang memiliki ribuan pulau dan lautan yang luas, Indonesia mempunyai kekayaan alam yang cukup banyak. Di daratan, suhu dan curah hujan yang tinggi memungkinkan penduduknya menanam berbagai macam barang pertanian dan perkebunan. Curah hujan yang tinggi juga menjamin tersedianya air untuk kepentingan budidaya perikanan darat. Indonesia juga memiliki laut yang luas dan garis pantai yang sangat panjang. Potensi ikan di Indonesia cukup banyak.

 


Indonesia merupakan salah satu negara penghasil tambang terbesar di dunia. Pengelolaan tambang-tambang tersebut masih didominasi pihak asing. Kondisi tersebut mengakibatkan tingginya pemasukan negara dari sektor pertambangan. Pengelolaan sumber daya alam membutuhkan sumber daya manusia yang baik serta penguasaan teknologi yang unggul. Apakah saat ini Indonesia sudah memiliki kedua hal tersebut? Bagaimanakah upaya yang harus kita lakukan agar negara Indonesia mampu mengelola sumber daya secara mandiri? Diskusikan dengan teman kalian!

 

2.  Menjelaskan pengertian pelaku ekonomi;

  Pelaku ekonomi adalah orang/lembaga yang melakukan kegiatan ekonomi baik produksi, konsumsi maupun distribusi.

 

3. Mendeskripsikan 4 (empat) macam pelaku ekonomi;

     Ada 4 macam pelaku ekonomi yaitu: RTK (Rumah Tangga Keluarga/Konsumen), RTP (Rumah Tangga Perusahaan/Produsen), Rumah Tangga Pemerintah dan Rumah Tangga Luar Negeri. Keempat rumah tangga tersebut berperan penting dalam menggerakkan perekonomian suatu daerah atau negara. RTK berperan dalam melakukan kegiatan konsumsi, RTP berperan dalam melakukan kegiatan produksi, sedangkan Rumah tangga pemerintah berperan untuk mengatur, mengendalikan, serta mengadakan control terhadap jalannya roda perekonomian. Hasil produksi di dalam negeri sebagian digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan sebagian lagi dijual ke luar negeri (ekspor) untuk memenuhi kebutuhan masyarakat luar negeri. Disamping itu, untuk memenuhi kebutuhan barang dan jasa di dalam negeri diperlukan barang dan jasa dari luar negeri (impor). Lembaga/orang yang melakukan kegiatan ekspor dan impor adalah Rumah Tangga Luar Negeri.

 

4. Mengidentifikasi peran pelaku ekonomi;

a. Peran Rumah Tangga Keluarga/Rumah Tangga Konsumen (RTK)

Rumah tangga konsumen adalah kelompok masyarakat yang melakukan kegiatan konsumsi barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Rumah tangga konsumen membutuhkan barang dan jasa yang dihasilkan oleh rumah tangga perusahaan. rumah tangga keluarga/konsumen harus memiliki pendapatan. Pendapatan rumah tangga keluarga diperoleh dari penggunaan faktor produksi yang dimilikinya.

Pendapatan rumah tangga keluarga terdiri atas:

1) Sewa (rent), yaitu balas jasa yang diterima rumah tangga keluarga karena telah menyewakan tanahnya kepada perusahaan.

2) Upah (wage), yaitu balas jasa yang diterima rumah tangga keluarga karena telah mengorbankan tenaganya untuk bekerja pada perusahaan dalam kegiatan produksi. 

3) Bunga (interest), yaitu balas jasa yang diterima rumah tangga keluarga karena telah meminjamkan sejumlah dana untuk modal usaha perusahaan dalam kegiatan produksi.

4)  Laba/keuntungan (profit), yaitu balas jasa yang diterima rumah tangga keluarga karena telah memberikan kontribusi berupa tenaga dan pikirannya dalam mengelola perusahaan sehingga perusahaan memperoleh laba.

Peran rumah tangga konsumen adalah sebagai:

1).   Pemakai (konsumen) barang dan jasa yang dihasilkan perusahaan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

2).   Pemasok faktor produksi kepada rumah tangga perusahaan untuk melakukan proses produksi.

b. Peran Rumah Tangga Perusahaan/Rumah Tangga Produsen (RTP) 

Rumah tangga perusahaan atau biasa disebut sebagai produsen merupakan pelaku ekonomi yang berperan sebagai penyedia barang dan jasa bagi konsumen Peran pertama dari rumah tangga perusahaan adalah memproduksi barang/jasa. 

Barang/jasa yang dihasilkan perusahaan kemudian ditawarkan kepada konsumen atau pembeli. 

Rumah tangga produsen di Indonesia dikelompokkan menjadi Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milik Swasta (BUMS), dan Koperasi. Dalam perekonomian, rumah tangga perusahaan berperan sebagai produsen sekaligus pengguna faktor produksi

Hubungan antara rumah tangga keluarga/konsumen dan rumah tangga perusahaan/konsumen dapat kalian amati pada Gambar: Arus lingkar kegiatan ekonomi 2 sektor di bawah ini.

 

 


c. Peran Rumah Tangga Pemerintah

1)    Pengatur atau Regulator dalam Perekonomian

Pemerintah berperan sebagai pengatur atau regulator dalam perekonomian suatu negara. Perekonomian harus diatur sehingga perekonomian dapat menyejahterakan masyarakat secara adil dan merata.

2)    Konsumen

Rumah tangga pemerintah juga memiliki peran sebagai konsumen. Dalam menjalankan fungsinya sebagai pengatur, pemerintah membutuhkan sarana dan prasarana penunjang, yang dibeli dari rumah tangga perusahaan/produsen. Contohnya, kantor dinas  pendidikan, untuk menjalankan aktivitasnya sehari-hari, membutuhkan kertas, printer, dan tinta.

3)    Produsen

Selain sebagai konsumen, pemerintah juga berperan sebagai produsen. Dalam menjalankan perannya sebagai produsen, pemerintah memproduksi barang atau jasa. Rumah tangga produsen di negara kita salah satunya berbentuk BUMN (Badan Usaha Milik Negara).Contoh Badan Usaha Milik Negara adalah PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan PLN (Perusahaan Listrik Negara).

 


 

d. Peran Rumah Tangga Luar Negeri 

Peran masyarakat luar negeri dalam perekonomian terlihat nyata dalam perdagangan internasional. 

Contoh perdagangan internasional: Indonesia mengekspor produk tekstil ke negara Jepang, dan Jepang mengekspor kendaraan bermotor ke Indonesia.

 

e. Sumber pendapatan RTK

1. RTK menyediakan faktor produksi alam, imbalannya RTK mendapat balas jasa berupa sewa

2.  RTK menyediakan faktor produksi modal imbalannya RTK mendapat balas jasa berupa bunga

3.  RTK menyediakan faktor produksi tenaga kerja imbalannya RTK mendapat balas jasa berupa gaji

4.  RTK menyediakan faktor produksi kewirausahaan imbalannya mendapat balas jasa berupa laba

 

f.   Jenis-jenis faktor-faktor produksi:

1. Alam

     Faktor produksi alam adalah segala sesuatu yang disediakan oleh alam yang dapat digunakan sebagai faktor pendukung produksi barang dan jasa. Pemilik lahan berperan sebagai pemasok faktor produksi alam kepada perusahaan. Sebagai imbalannya, ia akan mendapat balas jasa berupa sewa atas faktor produksi yang ditawarkan.

2.  Modal

     Faktor produksi modal tidak selalu berwujud uang tapi bisa berupa barang modal seperti mesin, gedung, serta alat-alat yang digunakan dalam proses produksi. RTK yang meminjamkan faktor produksi modal dalam bentuk uang akan memperoleh balas jasa berupa bunga.

 

3.  Tenaga Kerja

     RTK yang memiliki faktor produksi tenaga kerja akan memperolah balas jasa berupa gaji/upah. Contoh faktor produksi tenaga kerja adalah guru, dokter, teknisi, resepsionis, dll.

4.  Keahlian/kewirausahaan

Kewirausahaan adalah kemampuan mengatur, mengorganisasikan, serta mengambil resiko dalam menjalankan usaha. Keistimewaan dari kewirausahaan terletak kreativitas dan inovasi. Pelaku kewirausahaan adalah wirausahawan. RTK yang memiliki faktor produksi kewirausahaan akan mendapat balas jasa berupa keuntungan/laba.

 

B.   Perdagangan Antardaerah atau Antarpulau dan Perdagangan Internasional

1.  Menjelaskan pengertian perdagangan antardaerah/pulau dengan tepat

Perdagangan atau perniagaan merupakan kegiatan tukar menukar barang atau jasa berdasarkan kesepakatan bersama tanpa ada unsur pemaksaan. Perdagangan antardaerah atau antarpulau merupakan perdagangan yang dilakukan oleh penduduk/lembaga suatu daerah atau pulau dengan penduduk/lembaga suatu daerah atau pulau lain dalam satu batas wilayah negara atas dasar kesepakatan bersama.

 

2. Menjelaskan tujuan perdagangan antarpulau dengan benar

1)    Memperoleh Keuntungan

Tujuan utama dilakukan perdagangan antarpulau adalah untuk memperoleh keuntungan. Keuntungan diperoleh dari selisih antara harga beli dengan harga jual. Jika barang diproduksi sendiri, maka keuntungan diperoleh dari selisih antara harga jual dan biaya produksi.

2)    Memperluas Jangkauan Pasar

Perdagangan sampai ke luar daerah atau luar pulau dapat memperluas jangkauan pasar. Jangkauan pasar yang dimaksud adalah jumlah konsumen yang mengonsumsi barang tersebut semakin banyak dan tersebar di berbagai daerah.

 

3. Mengidentifikasi faktor pendorong perdagangan antarpulau/antardaerah secara benar

a)    Perbedaan Faktor Produksi yang Dimiliki

       perbedaan faktor produksi yang dimiliki terutama faktor alam menjadi pendorong timbulnya perdagangan antar pulau/antardaerah. Contoh: Kab. Bima – NTB merupakan daerah penghasil Bawang merah dan dijual ke daratan pulau Flores. Manggarai merupakan daerah penghasil kopi dan kemiri, lalu dikirim ke daerah pulau Jawa.

b)    Perbedaan Tingkat Harga Antardaerah

Selain perbedaan kekayaan alam, tingkat harga juga mempengaruhi perdagangan antarpulau/daerah. Contoh daerah pesisir pantai merupakan daerah penghasil ikan laut yang harganya cukup murah lalu ikan tersebut dijual ke daerah pedalaman dengan harga yang cukup mahal.

 

4. Mengidentifikasi manfaat perdagangan antarpulau/antardaerah secara benar

a)    Menyediakan alternatif alat pemuas kebutuhan bagi konsumen

b)    Meningkatkan produktivitas

c)    Memperluas kesempatan kerja bagi masyarakat

 

5.  Menjelaskan pengertian perdagangan antarnegara/internasional dengan benar

Perdagangan antarnegara yang dimaksud adalah individu atau lembaga dari negara kita yang menjual atau membeli barang dari individu atau badan yang ada di luar negeri. Terjadinya aktivitas perdagangan antaranegara akan menimbulkan aktivitas yang dinamakan ekspor dan impor.

Perdagangan antarnegara atau sering disebut perdagangan internasional merupakan aktivitas perdagangan yang dilakukan oleh masyarakat suatu negara dengan masyarakat negara lain atas dasar kesepakatan bersama

 

6.  Menjelaskan ruang lingkup perdagangan antarnegara/internasional secara tepat;

1.    Perpindahan barang/jasa dari suatu negara ke negara lain

2.    Perpindahan modal melalui investasi asing dari luar negeri ke dalam negeri

3.    Perpindahan tenaga kerja dari suatu negara ke negara lain

4.    Perpindahan teknologi dengan mendirikan pabrik-pabrik di negara lain

5.    Penyampaian informasi tentang kepastian adanya bahan baku dan pangsa pasar

 

7.  Mengidentifikasi aktivitas perdagangan antarnegara secara tepat;

1)    Ekspor

Ekspor merupakan kegiatan menjual barang atau produk ke luar negeri. Ekspor dilakukan oleh seseorang atau badan. Pelaku ekspor ini disebut eksportir. Tujuan utama kegiatan ekspor adalah untuk memperoleh keuntungan. Barang yang diekspor akan dibayar oleh pihak pembeli dengan alat pembayaran berupa mata uang asing atau mata uang luar negeri, seperti Dollar. Mata uang asing ini ditampung oleh pemerintah dan disebut sebagai devisa negara. Devisa yang terkumpul akan digunakan untuk membiayai impor.

2)    Impor

Impor merupakan kegiatan membeli barang dari luar negeri. Seseorang atau badan yang melakukan impor disebut importir. Seorang importir membayar barang yang ia beli dengan mata uang asing.Barang-barang yang di impor oleh Indonesia terdiri dari dua macam, yaitu migas dan non-migas. Barang-barang yang termasuk dalam kelompok migas antara lain minyak tanah, bensin, solar, dan elpiji. Adapun barang-barang yang termasuk dalam kelompok non-migas antara lain adalah karet, kopi, ikan, kayu

 

8.  Mengidentifikasi kebijakan pemerintah untuk mendorong ekspor secara cermat;

1)    Memberi Kemudahan Kepada Produsen Barang Ekspor

2)    Menjaga Kestabilan Nilai Tukar Rupiah

3)    Membuat Perjanjian Dagang Internasional

4)    Meningkatkan Promosi

 

9.  Menjelaskan faktor pendorong ekspor secara tepat;

1)    Keadaan Pasar Luar Negeri

Besar atau kecilnya permintaan dan penawaran dari berbagai negara dapat memengaruhi harga di pasar dunia.

2)    Keuletan Eksportir untuk Menangkap Peluang Pasar

       Seorang eksportir harus pandai menangkap dan memanfaatkan peluang pasar

3)    Kondisi Sosial, Ekonomi, Politik Suatu Negara

Bidang ekonomi, sosial, dan politik merupakan bidang yang terkait satu sama lain. Ketika ada ketidakstabilan pada salah satu bidang, maka bidang lain akan terpengaruh.

 

10. Mengidentifikasi manfaat perdagangan antarnegara secara cermat;

1)    Memperoleh Keuntungan

2)    Memperoleh Barang yang Tidak Dapat Diproduksi di dalam Negeri

3)    Menjalin Persahabatan Antarnegara

4)    Transfer Teknologi Modern

 

11. Menjelaskan faktor pendorong perdagangan antarnegara secara cermat;

1)    Untuk memenuhi kebutuhan barang dan jasa dalam negeri.

2)    Keinginan memperoleh keuntungan dan meningkatkan pendapatan negara.

3)    Adanya perbedaan kemampuan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam mengolah sumber daya ekonomi.

4)    Adanya kelebihan produk dalam negeri sehingga perlu pasar baru untuk menjual produk tersebut.

5)    Adanya perbedaan keadaan seperti sumber daya alam, iklim, tenaga kerja, budaya, dan jumlah penduduk yang menyebabkan adanya perbedaan hasil produksi dan adanya keterbatasan produksi.

6)    Keinginan membuka kerja sama, hubungan politik, dan dukungan dari negara lain.

7)    Terjadinya era globalisasi sehingga tidak satu negara pun di dunia dapat hidup sendiri

 

 

 

12. Menjelaskan perbedaan perdagangan antar pulau dengan perdagangan antarnegara secara tepat.

Ada tiga perbedaan utama antara perdagangan antarnegara dan perdagangan domestik/perdagangan antarpulau, yaitu sebagai berikut.

1)    Peluang Perdagangan yang Lebih Luas

Pada perdagangan antarnegara, suatu negara dapat menjual barang/jasanya ke negara lain dan bisa membeli barang/jasa dari negara lain. Dalam perdagangan antarpulau, kita hanya dapat melakukan perdagangan antardaerah atau pulau dalam lingkup satu negara. Jika tidak ada perdagangan antarnegara, orang Indonesia tidak bisa memiliki mobil, orang Amerika belum dapat makan pisang, seluruh dunia tidak dapat menikmati film Hollywood, dan lain sebagainya.

2)    Adanya Kedaulatan Bangsa

Pada perdagangan antarnegara, bangsa-bangsa dapat mengatur aliran barang/ jasa, tenaga kerja, dan keuangan. Negara-negara menunjukkan kedaulatannya di sini. Sementara di perdagangan domestik, aliran perdagangan berjalan secara bebas tanpa regulasi yang berarti dari negara.

3)    Penggunaan Kurs Tukar

Dalam melakukan perdagangan antarnegara negara-negara menggunakan kurs tukar yang berbeda-beda.

 

13.Teori Perdagangan Internasional

Perdagangan internasional adalah perdagangan atau pertukaran suatu barang, jasa, sumber daya yang dilakukan suatu negara dengan negara lainnya melalui perjanjian atau kerjasama yang sudah disepakati sebelumnya. Dengan adanya perdagangan internasional membuat munculnya teori -- teori yang mendasari penyebab terjadinya kegiatan perdagangan internasional.

·      Teori keunggulan mutlak (Absolute Advantage). Di pelopori oleh Adam Smith.  

Teori ini menyatakan bahwa perdagangan internasional akan memberikan keuntungan pada negara yang dapat memproduksi dengan harga yang lebih rendah dibandingkan dengan harga yang ditetapkan di negara lain. Ilustrasi akan diberikan pada tabel di bawah ini:

Karena negara A memiliki efisiensi dalam memproduksi buku sementara negara B memiliki efisiensi dalam memproduksi pensil, maka perdagangan antara negara A dan B akan memberikan keuntungan jika A menjual buku dan B menjual pensil

 

·      Teori keunggulan komparatif (Comparative Advantage).

Berdasarkan teori ini, meskipun suatu negara tidak memiliki keunggulan mutlak dalam memproduksi barang, negara tersebut dapat melakukan perdagangan internasional pada barang yang paling produktif dan efisien untuk diproduksi. Ilustrasinya akan dibahas pada tabel berikut ini:

Jika kita lihat pada dasarnya negara A memiliki keunggulan baik dalam produksi pensil maupiun buku. Meskipun demikian, biaya relatif pensil yang diproduksi di negara A lebih besar dibandingkan negara B (1 pensil di negara A = 2 buku di negara A, sementara 1 pensil di negara B = 1 buku negara B). Oleh karenanya negara A dan B dapat melakukan perdagangan, dengan A memproduksi buku dan B memproduksi pensil.

 

Bentuk perdagangan internasional

·           Perdagangan bilateral
Adalah perdagangan yang dilakukan antar dua negara

·           Perdagangan regional
Adalah perdagangan yang dilakukan oleh negara-negara yang berada pada lingkup kawasan tertentu, misalnya ASEAN, negara uni Eropa

·           Perdagangan multilateral
Adalah perdagangan antar negara tanpa dibatasi kawasan tertentu

 

Faktor pendorong perdagangan internasional

·       Ketersediaan sumber daya alam

Tidak semua negara merupakan penghasil rempah-rempah, atau tidak semua negara merupakan penghasil bahan tambang

·       Perbedaan faktor produksi

Meskipun memiliki sumber daya melimpah, tidak semua negara memiliki modal dan pengetahuan untuk mengolah sumber daya alam tersebut

·       Dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri

Tidak semua kebutuhan dalam negeri dapat dipenuhi dengan produksi dalam negeri.

·       Memperoleh keuntungan dari perdagangan antar negara

Keuntungan yang diperoleh meningkat karena semakin besarnya pangsa pasar dari barang yang diproduksi

·       Keinginan untuk memperluas pasar
Perluasan pasar diperlukan untuk mencapai skala ekonomis dalam berproduksi

·       Keinginan melakukan kerjasama dengan negara lain
Perdagangan internasional dapat menjadi salah satu cara yang dilakukan untuk mempererat hubungan dengan negara lain sehingga kerjasama dalam bidang lain dapat tercipta

 

Manfaat perdagangan internasional

·       Memperoleh barang yang tidak dapat diproduksi di negara sendiri
Masyarakat negara Indonesia dapat mengkonsumsi kurma walaupun tidak dapat tumbuh di Indonesia

·       Memperluas pasar sehingga meningkatkan efisiensi produksi
Dengan adanya perdagangan internasional maka pasar untuk barang yang diproduksi di suatu negara akan bertambah sehingga akan meningkatkan skala ekonomis sehingga biaya produksi semakin murah

·       Memperoleh keuntungan dari spesialisasi
Walau pun A negara dapat memproduksi barang X yang juga diproduksi di negara B, negara A dapat melakukan spesialisasi pada barang lain yang lebih efisien diproduksi dan mengimpor barang X dari negara B.

·       Sebagai sumber devisa negara
Adanya perdagangan internasional akan memberikan devisa pada negara yang menjual barang ke luar negeri. Devisa ini dapat digunakan untuk membeli barang dari luar negeri yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

·       Mendorong alih teknologi
Dengan melakukan perdagangan dengan negara maju, negara berkembang dapat mempelajari teknologi yang digunakan, sehingga mendorong peningkatan pengetahuan akan teknologi di negara berkembang.

 

C. Penguatan Ekonomi Maritim dan Agrikultur di Indonesia

1.      Menganalisis model penguatan ekonomi maritim

a. Potensi Ekonomi Maritim Indonesia

Ekonomi kelautan (marine economy) merupakan kegiatan ekonomi yang dilakukan di wilayah pesisir dan lautan serta di darat yang menggunakan sumber daya alam (SDA) dan jasa-jasa lingkungan kelautan untuk menghasilkan barang dan jasa. Ekonomi maritim (maritime economy) merupakan kegiatan ekonomi yang mencakup transportasi laut, industri galangan kapal dan perawatannya, pembangunan dan pengoperasian pelabuhan beserta industri dan jasa terkait.75% dari total wilayah Indonesia terdiri dari wilayah perairan/lautan. Wilayah laut Indonesia yang sangat luas merupakan potensi yang penting dan perlu dipelihara serta ditingkatkan kualitasnya. Berdasarkan Statistik Perikanan Tahun 2012 dari Food and Agriculture Organization (FAO), Indonesia merupakan negara peringkat kedua dalam produksi perikanan tangkap dan peringkat keempat dalam produksi perikanan budidaya. Indonesia juga merupakan negara kedua dalam hal banyaknya jumlah kapal yang dimiliki setelah Tiongkok

 

 

 

b. Kondisi Ekonomi Maritim di Indonesia dan Negara-Negara ASEAN

Pembangunan di bidang kelautan diarahkan untuk mencapai empat tujuan, yakni:

1) Pertumbuhan ekonomi tinggi secara berkelanjutan.

2)  Peningkatan kesejahteraan seluruh pelaku usaha, khususnya para nelayan,ikan, dan masyarakat kelautan lainnya yang berskala kecil.

3) Terpeliharanya kelestarian lingkungan dan sumber daya kelautan.

4) Menjadikan laut sebagai pemersatu dan tegaknya kedaulatan bangsa

 

Kondisi ekonomi maritim di Indonesia, dilihat dari:

a)    Sektor Pelayaran

Industri pelayaran merupakan infrastruktur dan tulang punggung kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun dalam realita, industri pelayaran nasional saat ini dalam kondisi belum begitu baik. Ditinjau dari segi daya saing, pangsa muatan armada kapal nasional masih tergolong rendah

b)    Sektor Perikanan

Potensi sektor perikanan Indonesia sangat besar dan sepantasnya Indonesia menjadi negara industri perikanan terbesar di Asia 

c)    Sektor Pariwisata Bahari

Pengembangan pariwisata bahari diyakini dapat mempunyai efek berganda (multiplier effect) yang dapat menyerap tenaga kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, mendatangkan wisatawan yang berasal dari luar negeri (devisa).

 

c. Strategi dan Kebijakan Pengembangan Ekonomi Maritim di Indonesia

Pengembangan ekonomi maritim sangat diperlukan mengingat besarnya potensi ekonomi maritim yang kita miliki.Kebangkitan ekonomi kelautan Indonesia ditandai dengan perubahan paradigma pembangunan nasional, dari pembangunan berbasis daratan (land-based development) menjadi pembangunan berbasis kelautan (ocean-based development). Bentuk kebijakan lain di bidang ekonomi maritim adalah dalam menyambut ASEAN Connectivity, Indonesia menyiapkan lima pelabuhan besar.Lima pelabuhan yang dimaksud adalah Pelabuhan Belawan di Sumatra Utara, Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta, serta pelabuhan-pelabuhan di Surabaya, Makassar, dan Kalimantan. Dari 47 pelabuhan yang akan dikembangkan di ASEAN, 14 di antaranya ada di Indonesia.

 

2.         Menganalisis model penguatan agrikultur

Ekonomi agrikultur merupakan upaya peningkatan perekonomian dengan memberdayakan sektor pertanian. Agrikultur merupakan kegiatan pemanfaatan sumber daya hayati yang dilakukan manusia untuk menghasilkan bahan pangan, bahan baku industri, sumber energi, atau untuk mengelola lingkungan hidupnya

a.    Potensi Agrikultur di Indonesia

Salah satu produk pertanian Indonesia yang berpotensi menjadi andalan adalah produk pertanian segar dalam bentuk buahbuahan dan sayuran. Produk lain yang turut menjadi andalan adalah rempah-rempah dan Bahan Bakar Nabati (BBN). Di bidang tanaman pangan, Indonesia memiliki tanaman unggul, seperti padi, kedelai, kacang tanah, ubi kayu, dan berbagai varietas yang lain. Sektor pertanian menyerap 35.9% dari total angkatan kerja di Indonesia dan menyumbang 14.7% bagi pendapatan nasional Indonesia (BPS: 2012).

b.    Peran Agrikultur di Indonesia

Pembangunan agrikultur atau pertanian di Indonesia mempunyai peranan penting, antara lain: potensi sumber daya alam yang besar dan beragam, pangsa terhadap pendapatan nasional yang cukup besar, besarnya pangsa terhadap ekspor nasional, besarnya penduduk Indonesia yang menggantungkan hidupnya pada sektor ini, perannya dalam penyediaan pangan masyarakat dan menjadi basis pertumbuhan di pedesaan.

c.    Hambatan Pengembangan Agrikultur di Indonesia

Pengembangan di bidang agrikultur di Indonesia mempunyai beberapa hambatan, antara lain sebagai berikut.

1)    Skala usaha pertanian pada umumnya relatif kecil;

2)    Modal terbatas;

3)    Penggunaan teknologi masih sederhana;

4)    Sangat dipengaruhi musim;

5)    Pada umumnya berusaha dengan tenaga kerja keluarga;

6)    Akses terhadap kredit, teknologi, dan pasar rendah;

7)    Pasar hasil pertanian sebagian besar dikuasai oleh pedagang-pedagang besar sehingga akan merugikan petani;

8)    Alih fungsi lahan pertanian menjadi lahan nonpertanian;

9)    Kurangnya penyediaan benih yang bermutu bagi petani

 

3.    Strategi Pengembangan Agrikultur di Indonesia

a.    Ekofarming

Strategi ekofarming merupakan peningkatkan sistem budidaya di sektor pertanian yang ramah lingkungan dan terintegrasi dengan kearifan lokal di setiap daerah di Indonesia.

b.    Distribusi Pupuk Secara Merata

Strategi yang kedua ini, berupa distribusi pupuk secara merata di seluruh wilayah Indonesia. Langkah yang ditempuh dalam strategi ini adalah petani diminta menjumlahkan kebutuhan pupuk untuk kebutuhan tanamnya perhektar selama satu tahun.

c.    Perbaikan Irigasi

Pertanian yang berhasil tidak lepas dari baiknya sistem irigasi yang diterapkan. Oleh karena itu, pemerintah mengusahakan keterjaminan ketersediaan air untuk pertanian dengan perbaikan atau pengadaan irigasi yang baik

 

D. Menganalisis pendistribusian kembali (redistribusi) pendapatan nasional.

1. Menjelaskan pengertian redistribusi pendapatan dengan benar;

Redistribusi (pendistribusian kembali) pendapatan adalah pendistribusian kembali pendapatan masyarakat kelompok kaya kepada masyarakat kelompok miskin baik berasal dari pajak ataupun pungutan-pungutan lain. Redistribusi pendapatan dilakukan sebagai salah satu bentuk jaminan sosial yang dilakukan negara kepada masyarakat 

a. Redistribusi vertikal menunjuk pada transfer uang dari orang kaya ke orang miskin. 

Di sini, jaminan sosial merupakan bentuk dukungan warga masyarakat yang kuat kepada warga masyarakat yang lemah secara ekonomi.

b. Redistribusi horizontal adalah transfer uang “antar-kelompok”, yaitu dari kelompok satu ke kelompok lain. Contohnya, dari laki-laki ke perempuan, dari orang dewasa kepada anak-anak, dari remaja ke orang tua.

 

2.  Menganalisis program redistribusi pendapatan dengan kritis;

a.     Program Pemberian Jaminan Akses Kebutuhan Dasar bagi Rakyat Bawah

Langkah awal dalam upaya pemerataan pendapatan di masyarakat adalah dengan memenuhi kebutuhan rakyat terlebih dahulu. Kebutuhan tersebut adalah mencakup kebutuhan dasar (sandang, pangan, papan), akses kesehatan, dan pendidikan. Strategi pemenuhan kebutuhan dasar rakyat yang dilakukan pemerintah di antaranya Bantuan Langsung Tunai (BLT) untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari rakyat, Bantuan Tunai Bersyarat (BTB) atau disebut juga Program Keluarga Harapan (PKH), Jaminan sosial (social security), Bantuan Operasional Sekolah (BOS), dan Beasiswa untuk memenuhi akses pendidikan bagi mereka yang kurang mampu, serta Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) untuk memenuhi kebutuhan akan kesehatan yang gratis.

b.    Program Kredit Lunak dan Penjaminan Kredit Berbasis Komunitas

Pada tanggal 5 November 2007 telah diresmikan program Kredit Usaha Rakyat (KUR). Kebijakan ini tentunya merupakan angin segar yang sudah lama ditunggu oleh masyarakat, khususnya usaha mikro dan usaha kecil.

c.     Pengembangan Usaha atau Industri Kecil

Upaya pemerintah dalam melaksanakan pemberdayaan UMKM melalui penerapan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM Mandiri Perdesaan) merupakan salah satu mekanisme program pemberdayaan masyarakat yang digunakan PNPM Mandiri dalam upaya mempercepat pemerataan pendapatan, penanggulangan kemiskinan, dan perluasan kesempatan kerja di wilayah perdesaan

d.    Pemerintah Bekerja Sama dengan Swasta Lokal dan Asing untukMenjalankan Program Corporate Social Responsibility (CSR).

Untuk keperluan tersebut, pemerintah hendaknya melaksanakan prinsip tanggung jawab sosial yang menjadi tumpuan dan jaminan bahwa segenap lapisan masyarakat secara keseluruhan bisa menikmati hasil-hasil pembangunan ekonomi yang tengah dilakukan.

 

 

e.  Pemerintah Konsisten dalam Mewujudkan Kebijakan Penegakan Hukum dan Keadilan Ekonomi

Peran pemerintah sangatlah besar sebagai pembuat strategi dan kebijakan-kebijakan dalam menciptakan pembagian pendapatan di golongan masyarakat yang lebih merata, dan berperan secara aktif dalam pelaksanaan program pemerataan pendapatan di masyarakat, serta secara konsisten mewujudkan penegakan hukum sehingga dunia usaha nasional dan asing dapat melakukan usaha secara berkesinambungan untuk menciptakan lapangan kerja secara luas demi terciptanya pemerataan pendapatan

 

3.      Menganalisis strategi pendistribusian kembali pendapatan secara kritis.

Pemerintah sebagai pembuat kebijakan telah mengusahakan beberapa hal terkait dengan alternatif pendistribusian pendapatan, yaitu sebagai berikut.

a.      Subsidi

Dalam rangka pendistribusian pendapatan, pemerintah berupaya untuk mendorong usaha kecil dan menengah agar tetap hidup dan memiliki daya saing. Maka dari itu, pemerintah memberikan subsidi baik berupa potongan harga ataupun memberikan tambahan modal kepada produsen.

 

Contoh subsidi pupuk kepada petani. Subsidi pupuk dari pemerintah kepada petani dimaksudkan supaya petani dapat menekan biaya produksi. Dengan harga pupuk yang lebih rendah, diharapkan para petani dapat menjual hasil pertanian dengan harga yang lebih rendah sehingga dapat bersaing.

b.      Pengenaan Pajak

Selain pemberian subsidi, cara lain yang digunakan pemerintah untuk mendistribusikan pendapatan adalah dengan pengenaan pajak. Terdapat banyak jenis pajak di Indonesia, antara lain pajak penghasilan, pajak kendaraan bermotor, pajak terhadap barang mewah, dan sebagainya. Contohnya, seseorang yang membeli mobil mewah dari luar negeri dikenakan pajak sebesar 10% dari harga barang mewah tersebut. Pajak penghasilan adalah pajak yang dibayarkan oleh seseorang yang sudah berpenghasilan dengan batas minimal penghasilan sebesar angka yang telah ditentukan pemerintah. Pajak kendaraan bermotor biasanya satu paket dengan perpanjangan masa berlaku STNK.

 

Pajak merupakan sumber penerimaan terbesar negara. Berbagai proyek pemerintah dibiayai dari hasil pembayaran pajak dari masyarakat. Pemberian subsidi kepada masyarakat juga berasal dari pendapatan pajak. Dengan demikian, pajak dan subsidi merupakan alat utama dalam pendistribusian pendapatan. Pajak merupakan sejumlah uang tunai yang dibayarkan oleh rakyat kepada negara yang sifatnya dapat dipaksakan berdasarkan undang-undang. Pajak yang diterima pemerintah digunakan untuk membiayai pembangunan dan hasil pembangunan inilah yang akan kembali ke rakyat.

 

Jadi, dalam rangka mewujudkan pemerataan redistribusi pendapatan, pemerintah telah melakukan beberapa usaha antara lain pemberian subsidi dan pengenaan pajak.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3.4 Menganalisis kronologi, perubahan, dan kesinambungan ruang (geografis politik, ekonomi, pendidikan, sosial, budaya) dari masa penjajahan sampai tumbuhnya semangat kebangsaan.

 

A.   Mengidentifikasi Latar Belakang Kedatangan Bangsa-bangsa Barat ke Indonesia.

Mengapa bangsa-bangsa Barat tertarik dengan kekayaan Indonesia? Kekayaan apa saja yang mendorong kedatangan bangsa-bangsa Barat ke Indonesia? Beberapa daya tarik dan faktor pendorong bangsa Barat ke Indonesia antara lain sebagai berikut:

a.     Daya Tarik Indonesia bagi Bangsa-Bangsa Barat

Mengapa bangsa-bangsa Barat sangat membutuhkan rempah-rempah? Indonesia dan bangsa-bangsa di Eropa memiliki perbedaan kondisi alam. Lokasi memengaruhi perbedaan iklim dan kondisi tanah di Indonesia dan Eropa. Hal ini mengakibatkan hasil bumi yang diperoleh juga berbeda.

Indonesia merupakan negara yang kaya akan hasil pertanian karena wilayah Indonesia berada pada daerah tropis yang subur sehingga memungkinkan berbagai tanaman dapat dengan mudah tumbuh dan berkembang, mengakibatkan bangsa barat berbondong-bondong datang ke Indonesia.

b.    Motivasi 3G (Gold, Gospel, dan Glory)

Gold, Gospel, Glory merupakan motivasi Bangsa-bangsa Barat melakukan penjelajahan samudra. Terkenal dengan sebutan 3G karena memang semboyan tersebut berawalan dengan huruf “G”, yakni Gold, Glory, dan Gospel. Apa yang dimaksud dengan Gold, Glory, dan Gospel? Gold artinya emas, yang identik dengan kekayaan. Semboyan ini menggambarkan bahwa tujuan bangsa Barat ke Indonesia adalah untuk mencari kekayaan. Itulah yang membuat mereka melakukan ekspedisi dan penjelajahan. Glory bermakna kejayaan bangsa. Gospel adalah keinginan bangsa Barat untuk menyebarluaskan atau mengajarkan agama Nasrani khususnya agama Kristen ke bangsa-bangsa di Asia, Afrika, dan Amerika Selatan.

 

c.     Revolusi Industri

Revolusi Industri adalah pergantian atau perubahan secara menyeluruh dalam memproduksi barang dari sebelumnya menggunakan tenaga manusia dan hewan menjadi tenaga mesin. Penggunaan mesin dalam industri menjadikan produksi lebih efisien, ongkos produksi dapat ditekan, serta barang dapat diproduksi dalam jumlah besar dan cepat. Berkembangnya revolusi industri menyebabkan bangsa-bangsa Barat memerlukan bahan baku yang lebih banyak.

Salah satu pengaruh Revolusi Industri yang sangat terasa adalah dalam kegiatan transportasi. Penemuan mesin uap yang dapat dijadikan mesin penggerak perahu merupakan teknologi baru pada masa tersebut.

Perahu dengan mesin uap merupakan penemuan sangat penting yang mendorong penjelajahan bangsa-bangsa Barat. Penggunaan mesin uap dapat memperpendek waktu perjalanan.

Selain penemuan mesin uap, Revolusi Industri didukung berbagai penemuan lain, seperti kompas, mesin pemintal, dan sebagainya. Penemuan-penemuan tersebut memicu bangsa-bangsa Barat untuk melakukan berbagai petualangan.

 

Akibat Revolusi Industri pada bidang sosial Ekonomi dan sosial politik antara lain:

a.    Bidang sosial ekonomi

1.    Barang melimpah dengan harga murah karena proses pembuatan yang lebih murah dan cepat

2.    Berkembangnya urbanisasi yang menimbulkan kota-kota dan pusat maritim yang baru. Akibat selanjutnya menurunnya kegiatan pertanian

3.    Upah buruh rendah karena melimpahnya tenaga kerja

4.    Munculnya kelompok buruh dan kelompok majikan

5.    Perdagangan semakin berkembang sampai keluar negeri kerena terjadi surplus di dalam negeri

b.    Bidang sosial politik

1.    Terjadinya revolusi sosial

2.    Munculnya partai politik

3.    Munculnya imperialisme

Dampak revolusi industri bagi bangsa Indonesia:

1.      Indonesia dijadikan daerah pemasaran bagi bangsa Eropa

2.      Indonesia menjadi daerah penghasil bahan baku bagi Eropa

3.      Indonesia menjadi lahan penanaman modal

4.      Indonesia mengenal teknologi

5.      Indonesia dijadikan daerah jajahan

 

Revolusi Industri menyebabkan bangsa barat datang ke Indonesia

Sejak terjadinya perubahan secara menyeluruh dalam memproduksi barang yaitu dari menggunakan tenaga manusia dan hewan menjadi tenaga mesin di Eropa yang disebut Revolusi Industri mengakibatkan adanya tuntutan penggunaan bahan baku yang lebih banyak dari sebelumnya. Sementara itu kondisi bahan baku di Eropa jumlahnya terbatas maka untuk memenuhi kekurangan bahan baku tersebut bangsa Eropa melakukan pencarian ke negara-negara lain seperti di Amerika, Afrika, dan Asia terutama ke negara Indonesia yang terkenal akan kekayaan rempah-rempahnya.

 

B.    Menganalisis Proses Kedatangan Bangsa-bangsa Barat ke Indonesia

Bagaimana proses kedatangan bangsa-bangsa Barat ke Indonesia? Kegiatan apa saja yang mereka lakukan dalam perjalanan tersebut?

 


Perhatikan peta rute kedatangan bangsa Belanda ke Indonesia di atas! Belanda adalah negara yang paling lama menjajah Indonesia. Selain Belanda, bangsa-bangsa Barat yang datang ke Indonesia pada masa penjajahan adalah Portugis, Spanyol, dan Inggris.

Kalian telah mencoba menemukan rute kedatangan bangsa-bangsa Barat ke Indonesia. Berikut ini uraian yang akan membantumu memahami bangsa-bangsa Barat datang ke Indonesia.

a.   Kedatangan Bangsa Portugis di Maluku

Perjalanan bangsa Portugis mencari sumber rempah-rempah diawali dari kota Lisabon, Portugis. Pada tahun 1486, Bartolomeus Diaz melakukan pelayaran pertama menyusuri pantai barat Afrika. Ia bermaksud melakukan pelayaran ke India, namun gagal. Portugis mencapai Malaka pada tahun 1511 di bawah pimpinan Alfonso d’Albuquerque. Ia berhasil menguasai Malaka dan Myanmar. Selanjutnya Portugis menjalin hubungan dagang dengan Maluku. Pada tahun 1512, bangsa Portugis telah berhasil sampai di Maluku di bawah pimpinan Antonio de Abreu dan Fransisco Serao.

 

b.   Ekspedisi Bangsa Inggris

Persekutuan dagang milik Inggris diberi nama EIC (East Indian Company). Di dalamnya bergabung para pengusaha Inggris. Walaupun Inggris tiba di Kepulauan Nusantara, pengaruhnya tidak terlalu banyak seperti halnya Belanda. Hal ini disebabkan EIC terdesak oleh Belanda, sehingga Inggris menyingkir ke India/Asia Selatan dan Asia Timur.

 

c.   Kedatangan Bangsa Belanda di Jayakarta (Jakarta)

Jayakarta merupakan pelabuhan penting di Pulau Jawa yang kemudian menjadi markas VOC. Bagaimana proses kedatangan Belanda di Indonesia? Seorang pelaut Belanda Cornelis de Houtman memimpin ekspedisi ke Indonesia.

 

Pada tahun 1595, armada de Houtman mengarungi ujung selatan Afrika, selanjutnya terus menuju ke arah timur melewati Samudra Hindia. Pada tahun 1596, armada de Houtman tiba di Pelabuhan Banten melalui Selat Sunda.

 

Kedatangan Houtman di Indonesia kemudian disusul ekspedisi-ekspedisi lainnya. Dengan banyaknya pedagang Belanda di Indonesia maka muncullah persaingan di antara mereka sendiri.

 

Untuk mencegah persaingan yang tidak sehat, pada tahun 1602 didirikan Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC/Perserikatan Maskapai Hindia Timur) yang merupakan merger (penggabungan) dari beberapa perusahaan dagang Belanda.

 

Gubernur Jenderal pertama VOC adalah Pieter Both. Ia mendirikan pusat perdagangan VOC di Ambon, Maluku. Namun kemudian, pusat dagang dipindahkan ke Jayakarta (Jakarta) karena VOC memandang bahwa Jawa lebih strategis sebagai lalu-lintas perdagangan. Selain itu, Belanda ingin menyingkirkan saingan mereka, yaitu Portugis di Malaka.

 

Pangeran Jayawikarta (penguasa bagian wilayah Banten) memberi izin kepada VOC untuk mendirikan kantor dagang di Jayakarta.

 

Selain memberikan izin kepada VOC, Pangeran Jayawikarta juga memberikan izin pendirian kantor dagang kepada EIC (Inggris). Kebijakan ini membuat Belanda merasa tidak menyukai Pangeran Jayakarta.

 

Gubernur Jendral VOC Jan Pieterszoon Coen membujuk penguasa Kerajaan Banten untuk memecat Pangeran Jayawikarta, sekaligus memohon agar izin kantor dagang Inggris EIC dicabut. Pada tanggal 31 Mei 1619, keinginan VOC dikabulkan raja Banten.

Momentum inilah yang kemudian menjadi mata rantai kekuasaan VOC dan Belanda pada masa berikutnya. VOC menikmati keleluasaan dan kelonggaran yang diberikan penguasa Banten.

 

Jayakarta oleh VOC diubah namanya menjadi Batavia. VOC mendirikan benteng sebagai tempat pertahanan, pusat kantor dagang, dan pemerintahan. Pengaruh ekonomi VOC semakin kuat dengan dimilikinya hak monopoli perdagangan. Masa inilah yang menjadi sandaran perluasan kekuasaan Belanda pada perjalanan sejarah selanjutnya.

 

Kondisi Masyarakat Indonesia Pada Masa Penjajahan

Kondisi masyarakat Indonesia pada masa penjajahan" mungkin dari  kalian banyak yang bertanya "Apakah dalam masa penjajahan ada sistem perdagangan? bagaimana cara melakukannya?" untuk menjawab pertanyaan tersebut simaklah uraian berikut.

1. Pengaruh Monopoli dalam Perdagangan

Pada awal kedatangannya, bangsa-bangsa Barat diterima dengan baik oleh rakyat Indonesia. Hubungan perdagangan tersebut kemudian berubah menjadi hubungan penguasaan atau penjajahan. VOC terus berusaha memperoleh kekuasaan yang lebih dari sekedar jual beli. Itulah yang memicu kekecewaan, kebencian, dan perlawanan fisik.

 

Pada awalnya, VOC meminta keistimewaan hak-hak dagang. Akan tetapi, dalam perkembangannya menjadi penguasaan pasar (monopoli). VOC menekan para raja untuk memberikan kebijakan perdagangan hanya dengan VOC.  Monopoli adalah penguasaan pasar yang dilakukan oleh satu atau sedikit perusahaan. Belanda memaksa kerajaan-kerajaan di Indonesia untuk menandatangani kontrak monopoli dengan berbagai cara.

 

Salah satu caranya adalah politik adu domba atau dikenal devide et impera. Untuk meluaskan kekuasaan, VOC mempersiapkan penguasaan dengan cara perang (militer). Beberapa gubernur jenderal, seperti Antonio van Diemon (1635-1645, Johan Maatsuyeker (1653-1678), Rijklof van Goens (1678-1681), Cornellis Janzoon Speelman (1681-1684), merupakan tokoh-tokoh peletak dasar politik ekspansi VOC.

 

VOC mengalami kebangkrutan pada akhir abad XVIII. Korupsi dan manajemen perusahaan yang kurang baik menjadi penyebab utama kebangkrutan VOC. Akhirnya, tanggal 13 Desember 1799, VOC dibubarkan.

 

2. Pengaruh Kebijakan Kerja Paksa

 


Jalur anyer-Panarukan tersebut memanjang lebih dari 1.000 kilometer dari Cilegon (Banten), Jakarta, Bogor, Bandung, Cirebon, Semarang, Pati, Surabaya, Probolinggo, hingga Panarukan (Jawa Timur). Saat ini, jalur tersebut merupakan salah satu jalur transportasi utama bagi masyarakat di Pulau Jawa. Anyer-Panarukan dibangun 200 tahun yang lalu oleh pemerintah Gubernur Jenderal Daendels yang merupakan bagian dari Repulik Bataaf (Prancis). Gubernur Jenderal Daendels, yang memerintah tahun 1808-1811, melakukan berbagai kebijakan seperti pembangunan militer, jalan raya, perbaikan pemerintahan, dan perbaikan ekonomi.

 

Pembanguan jalan Jalur Anyer – Penarukan sebagian besar menggunakan tenaga manusia. Puluhan ribu penduduk dikerahkan untuk membangun jalan tersebut tanpa digaji dan tidak menerima makanan yang layak. Akibatnya ribuan penduduk meninggal karena kelaparan dan terkena penyakit. Pengerahan penduduk untuk bekerja di proyek Belanda inilah yang disebut kerja rodi atau kerja paksa.

 

3. Pengaruh Sistem Sewa Tanah

Saat Inggris menguasai Indonesia, Gubernur Jenderal Lord Minto membagi daerah jajahan Hindia Belanda menjadi empat gubernement, yakni Malaka, Sumatra, Jawa, dan Maluku. Lord Minto selanjutnya menyerahkan tanggung jawab kekuasaan atas seluruh wilayah itu kepada Letnan Gubernur Thomas Stamford Raffles. Salah satu kebijakan terkenal pada masa Raffles adalah sistem sewa tanah atau landrent-system atau landelijk stelsel.

Sistem tersebut memiliki ketentuan, antara lain sebagai berikut.

a. Petani harus menyewa tanah meskipun dia adalah pemilik tanah tersebut.

b   Harga sewa tanah tergantung kepada kondisi tanah.

c. Pembayaran sewa tanah dilakukan dengan uang tunai.

d. Bagi yang tidak memiliki tanah dikenakan pajak kepala.

Beberapa penyebab kegagalan pelaksanaan sistem sewa tanah adalah sebagai berikut. 

a.     Sulit menentukan besar kecil pajak bagi pemilik tanah karena tidak semua rakyat memiliki tanah yang sama.

b.    Sulit menentukan luas dan tingkat kesuburan tanah petani.

c.     Keterbatasan jumlah pegawai.

d.    Masyarakat desa belum mengenal sistem uang

 

4.      Pengaruh Sistem Tanam Paksa

Pada tahun 1830 pemerintah Belanda mengalami kesulitan ekonomi karena kekosongan kas negara. Kondisi ini disebabkan besarnya biaya yang harus dikeluarkan Belanda dalam menghadapi perang diponegoro (1825-1830) dan perang belgia (1830-1831). Kesulitan ekonomi tersebut mendorong pemerintahan Belanda mengeksploitasi Hindia Belanda agar memberikan keuntungan bagi Belanda .Oleh karena itu, pada 1830 pemerintah Belanda mengirimkan Johanes Van den Bosch ke Hindia Belanda sebagai gubernur jenderal. 

Pada masa kepemimpinan di Hindia Belanda Van den Bosch menerapkan kebijakan tanam paksa atau cultuur stelsel.

Aturan dalam sistem tanam paksa

1.    sistem penduduk wajib menyerahkan seperlima lahan garapannya untuk ditanami tanaman wajib berkualitas ekspor. Misalnya nila, kopi tembakau, tebu  dan kakao.

2.    tanah yang disediakan untuk tanaman wajib dibebaskan dari pembayaran pajak tanah.

3.    Hasil panen tanaman wajib harus diserahkan kepada pemerintah kolonial.  Setiap kelebihan hasil panen dari jumlah pajak harus dibayarkan, dan dikembalikan kepada rakyat.

4.    Hasil panentenaga dan waktu diperlukan untuk menggarap tanaman wajib tidak boleh melebihi tenaga dan jumlah waktu yang diperlukan untuk menanam padi atau kurang lebih 3 bulan.

5.    Penduduk yang tidak memiliki tanah wajib bekerja selama 66 hari di perkebunan pemerintah.

6.    setiap kerusakan atau kegagalan dalam panen menjadi tanggung jawab pemerintah (jika bukan kesalahan petani).

7.    Pelaksanaan tanam paksa diserahkan sepenuhnya kepada kepala desa.

 

Pada tahun 1830, Johannes van den Bosch menerapkan sistem tanam paksa (cultuur stelsel). Kebijakan ini diberlakukan karena Belanda menghadapi kesulitan keuangan akibat perang Jawa atau Perang Diponegoro (1825-1830) dan Perang Belgia (1830- 1831).

 

Praktik-praktik penekanan dan pemaksaan terhadap rakyat tersebut antara

lain sebagai berikut.

a. Menurut ketentuan, tanah yang digunakan untuk tanaman wajib hanya 1/5 dari tanah yang dimiliki rakyat. Namun kenyataannya, selalu lebih bahkan sampai ½ bagian dari tanah yang dimiliki rakyat.

b. Kelebihan hasil panen tanaman wajib tidak pernah dibayarkan.

c. Waktu untuk kerja wajib melebihi dari 66 hari, dan tanpa imbalan yang memadai.

d. Tanah yang digunakan untuk tanaman wajib tetap dikenakan pajak.

e.  Petani lebih mencurahkan banyak perhatian tenaga dan waktu untuk tanaman ekspor sehingga tidak dapat mengerjakan sawah dan ladang sendiri.

f.   Kegagalan panen tanaman wajib menjadi tanggung jawab petani. 

 

Akibat tanam paksa

Penderitaan rakyat Indonesia akibat kebijakan Tanam Paksa ini dapat dilihat dari jumlah angka kematian rakyat Indonesia yang tinggi akibat kelaparan dan penyakit kekurangan gizi. Pada tahun 1848-1850, karena paceklik, 9/10 penduduk Grobogan, Jawa Tengah mati kelaparan. Dari jumlah penduduk yang semula 89.000 orang, yang dapat bertahan hanya 9.000 orang. Penduduk Demak yang semula berjumlah 336.000 orang hanya tersisa sebanyak 120.000 orang. banyak pihak bersimpati dan mengecam praktik Tanam Paksa. Kecaman tidak hanya datang dari bangsa Indonesia, tetapi juga orang-orang Belanda antara lain Baron van Hoevel, E.F.E. Douwes Dekker (Multatuli), dan L. Vitalis

           

Bagaimana dampak kebijakan kerja paksa bagi bangsa Indonesia?

Dampak kebijakan kerja paksa bagi Indonesia adalah terjadi banyak penderitaan dan korban jiwa yang dialami rakyat Indonesia. Rakyat dipaksa bekerja dan diperbudak dalam berbagai proyek baik pada pembangunan jalan, pertambangan maupun perkebunan tanpa diperhatikan asupan makanan dan gaji yang selayaknya diterima.

 

Sistem tanam paksa memberikan dampak positif dan dampak negatif bagi bangsa Indonesia dan bangsa Belanda.

           Dampak Positif :

1)      Rakyat Indonesia mengenal teknik jenis-jenis tanaman baru. 

2)      Rakyat Indonesia mulai mengenal tanaman dagang yang berorientasi ekspor

Dampak Negatif :

1)      Kemiskinan serta penderitaan fisik dan mental yang berkepanjangan. 

2)      Kelaparan dan kematian terjadi di banyak tempat.

 

Bagaimana keuntungan penerapan tanam paksa bagi bangsa Indonesia?

Keuntungan penerapan tanam paksa bagi bangsa Indonesia adalah rakyat menjadi tahu dan mengenal jenis-jenis tanaman komoditas ekspor serta mendapat pengetahuan tentang bagaimana bercocok tanam yang baik.

 

 

Dampak bagi bangsa Belanda:

1)      Mendatangkan keuntungan dan kemakmuran rakyat Belanda.

2)      Hutang-hutang Belanda dapat terlunasi.

3)      Penerimaan pendapatan melebihi anggaran belanja.

4)      Kas Negeri Belanda yang semula kosong, dapat terpenuhi.

5)      Berhasil membangun Amsterdam menjadi kota pusat perdagangan dunia. 

6)      Perdagangan berkembang pesat.

 

5. Perlawanan terhadap Kolonialisme dan Imperialisme

a. Kolonialisme 

Kolonialisme adalah penguasaan suatu wilayah dan rakyatnya oleh negara lain untuk tujuan-tujuan yang bersifat militer atau ekonomi.

b. Imperialisme

Imprealisme adalah usaha untuk menguasai daerah lain atau perluasan daerah jajahan atau kekuasaan. Tujuannya adalah untuk memperoleh kekayaan, rizki, segala macam kemewahan dunia dan kebendaan dengan segala macam cara. 

     Kolonialisme lebih ditekankan pada penguasaan wilayah sedangkan imperialism lebih mengarah pada praktek penjajahannya.

 

a.     Perlawanan terhadap Persekutuan Dagang

1)    Sultan Baabullah Mengusir Portugis

Penyebab utamanya adalah Portugis menghalang-halangi perdagan Banda dan Tidore.

Latar belakang upaya Sultan Baabullah mengusir Portugis dari Maluku!

Yang menjadi latar upaya Sultan Baabullah mengusir Portugis dari Maluku adalah tindakan kelicikan dan kejahatan Portugis sendiri. Portugis pernah menawarkan perjanjian damai kepada Raja Kerajaan Tidore Sultan Hairun (ayah dari Sultan Baabullah) akan tetapi Portugis membunuh Sultan Hairun ketika perjanjian damai tersebut berlangsung. Faktor inilah yang menimbulkan Sultan Baabullah dan rakyatnya melakukan perjuangan mengusir Portugis.

 

2)    Perlawanan Aceh

Sejak Portugis dapat menguasai Malaka, Kerajaan Aceh merupakan saingan terberat dalam dunia perdagangan. Para pedagang muslim segera mengalihkan kegiatan perdagangannya ke Aceh Darussalam. Melihat kemajuan Aceh ini, Portugis selalu berusaha menghancurkannya, tetapi selalu menemui kegagalan. Di antara raja-raja Kerajaan Aceh yang melakukan perlawanan adalah sebagai berikut:

1. Sultan Ali Mughayat Syah (1514–1528) 

Berhasil membebaskan Aceh dari upaya penguasaan bangsa Portugis.

2. Sultan Alaudin Riayat Syah (1537–1568) 

Berani menentang dan mengusir Portugis yang bersekutu dengan Johor.

3. Sultan Iskandar Muda (1607–1636) 

Raja Kerajaan Aceh yang terkenal sangat gigih melawan Portugis adalah Iskandar Muda.
Pada tahun 1615 dan 1629, Iskandar Muda melakukan serangan terhadap Portugis di Malaka. Kemunduran Aceh mulai terlihat setelah Iskandar Muda wafat dan penggantinya adalah Sultan Iskandar Thani (1636–1841). Tetapi setelah Aceh dipimpin oleh Sultan Safiatuddin (1641–1675), Aceh tidak bisa berbuat banyak mempertahankan kebesarannya.

 

3)    Ketangguhan “Ayam Jantan dari Timur”

 

Ketika VOC datang ke Maluku untuk mencari rempah-rempah, Makassar juga dijadikan daerah sasaran untuk dikuasai. VOC melihat Makassar sebagai daerah yang menguntungkan karena pelabuhannya ramai dikunjungi pedagang dan harga rempah-rempah sangat murah. VOC ingin menerapkan monopoli perdagangan namun ditentang oleh Sultan Hasanuddin. 


Pada bulan Desember 1666, armada VOC dengan kekuatan 21 kapal yang dilengkapi meriam, mengangkut 600 tentara yang dipimpin Cornelis Speelman tiba dan menyerang Makassar dari laut. Arung Palaka dan orang-orang suku Bugis rival suku Makassar membantu VOC menyerang melalui daratan. Akhirnya VOC dengan sekutu-sekutu Bugisnya keluar sebagai pemenang. Sultan Hasanuddin dipaksa menandatangani Perjanjian Bongaya pada tanggal 18 November 1667, yang berisi:

1.    Belanda memperoleh monopoli dagang rempah-rempah di Makassar;

2.    Belanda mendirikan benteng pertahanan di Makassar;

3.    Bone dan kerajaan-kerajaan Bugis lainnya terbebas dari kekuasaan Gowa.

4.    Aru Palaka diakui sebagai Raja Bone

 

Sultan Hasanuddin tetap gigih, masih mengobarkan pertempuran-pertempuran. Serangan besar-besaran terjadi pada bulan April 1668 sampai Juni 1669, namun mengalami kekalahan. Akhirnya Sultan tak berdaya, namun semangat juangnya menentang VOC masih dilanjutkan oleh orang-orang Makassar. Karena keberaniannya itu, Belanda memberi julukan Ayam Jantan dari Timur kepada Sultan Hasanuddin.

 

Mengapa Sultan Hasanuddin tidak berhasil mengalahkan pasukan Belanda dalam perang Makassar?

Yang menyebabkan Sultan Hasanuddin tidak berhasil mengalahkan pasukan Belanda dalam perang Makasar adalah karena politik adu domba Belanda yaitu dengan meminta bantuan kepada Sultan Bone, Aru Palaka yang kemudian bersekutu untuk bersama-sama melawan Kerajaan Gowa.

 

4)    Serangan Mataram terhadap VOC

Setelah berhasil mempersatukan kerajaan-kerajaan Islam di Jawa, Sultan Agung mengalihkan perhatiannya pada VOC (Kompeni) di Batavia. VOC di bawah pimpinan Jan Pieterzoon Coen berusaha mendirikan benteng untuk memperkuat monopolinya di Jawa. Niat VOC (kompeni) tersebut membuat marah Sultan Agung sehingga mengakibatkan Mataram sering bersitegang dengan VOC (kompeni)

 

Serangan pertama dilakukan pada tahun 1628. Pasukan Mataram dipimpin Tumenggung Baurekso, yang tiba di Batavia tanggal 22 Agustus 1628. Selanjutnya, menyusul pasukan Tumenggung Sura Agul-Agul, dan kedua bersaudara yaitu Kiai Dipati Mandurejo dan Upa Santa.

 

Serangan kedua dipersiapkan dengan lebih matang. Serangan dimulai pada tanggal 1 Agustus dan berakhir 1 Oktober 1629. Perlawanan pasukan Mataram yang kedua terpaksa mengalami kegagalan karena kekurangan bahan pangan, senjata, terserang wabah penyakit, dan kelelahan setelah menempuh jarak yang jauh.

 

b.    Perlawanan terhadap Pemerintah Hindia Belanda

1)    Perang Saparua di Ambon

Merupakan perlawanan rakyat Ambon yang dipimpin Thomas Matulesi (Pattimura). Dalam perlawanan terhadap Pemerintah Hindia Belanda tersebut, seorang pahlawan wanita bernama Christina Martha Tiahahu melakukan perlawanan dengan gagah berani. Perlawanan Pattimura dapat dikalahkan setelah bantuan pasukan Hindia Belanda dari Jakarta datang. Pattimura bersama tiga pengikutnya ditangkap dan akhirnya dihukum gantung.

2)    Perang Paderi di Sumatra Barat (1821-1838)

Merupakan perlawanan yang sangat menyita tenaga dan biaya sangat besar bagi rakyat Minang dan Pemerintah Hindia Belanda. Bersatunya Kaum Paderi (ulama) dan kaum adat melawan Pemerintah Hindia Belanda menyebabkan Belanda kewalahan memadamkannya. Bantuan dari Aceh juga datang untuk mendukung pejuang Paderi. Pemerintah Hindia Belanda benar-benar menghadapi musuh yang tangguh. Belanda menerapkan sistem pertahanan Benteng Stelsel. Benteng Fort de Kock di Bukit tinggi dan Benteng Fort van der Cappelen merupakan dua benteng pertahanannya. Dengan siasat tersebut akhirnya Belanda menang ditandai dengan jatuhnya benteng pertahanan terakhir Paderi di Bonjol tahun 1837. Tuanku Imam Bonjol kemudian ditangkap, dan diasingkan ke Priangan, kemudian ke Ambon, dan terakhir di Menado hingga wafat tahun 1864.

 

3)    Perang Diponegoro (1825-1830)

Perang Diponegoro merupakan salah satu perang besar perlawanan terhadap Pemerintah Hindia Belanda. Latar belakang perlawanan Pangeran Diponegoro diawali dari campur tangan Belanda dalam urusan politik Kerajaan Yogyakarta. Beberapa tindakan Belanda yang dianggap melecehkan harga diri dan nilai-nilai budaya masyarakat Yogyakarta menjadi penyebab lain kebencian rakyat kepada Belanda. Perlawanan terhadap Pemerintah Hindia Belanda.

 

 Pemerintah Hindia Belanda membangun jalan baru pada bulan Mei 1825. Mereka memasang patok-patok pada tanah leluhur Pangeran Diponegoro. Terjadi perselisihan saat pengikut Diponegoro Patih Danureja IV mencabuti patok- patok tersebut. Belanda segera mengutus serdadu untuk menangkap Pangeran Diponegoro. Perang tidak dapat dihindarkan lagi, pada tanggal 20 Juli Tegalrejo sebagai basis pengikut Diponegoro direbut dan dibakar oleh Belanda.

 

Pada bulan Maret 1830 Diponegoro bersedia mengadakan perundingan dengan Belanda di Magelang, Jawa Tengah. Perundingan tersebut hanyalah tipu muslihat Belanda karena ternyata Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Manado, kemudian ke Makasar hingga wafat tahun 1855. Setelah berakhirnya Perang Jawa (Diponegoro), tidak lagi muncul perlawanan yang lebih berat di Jawa.

 

4)    Perang Aceh

Semangat jihad (perang membela agama Islam) merupakan spirit perlawanan rakyat Aceh terhadap Pemerintah Hindia Belanda. Jendral Kohler terbunuh saat pertempuran di depan masjid Baiturrahman Banda Aceh. Kohler meninggal dekat sebuah pohon yang sekarang diberi nama Pohon Kohler. Siasat konsentrasi stelsel dengan sistem bertahan dalam benteng besar oleh Belanda tidak berhasil dalam perang itu. Belanda semakin terdesak, korban semakin besar, dan keuangan terus terkuras. Perlawanan terhadap Penjajahan Pemerintah Hindia Belanda Snouck Hurgroje

 

Pemerintah Hindia Belanda sama sekali kewalahan dan tidak mampu menghadapi secara fisik perlawanan rakyat Aceh. Menyadari hal tersebut, Belanda mengutus Dr. Snouck Hurgroje yang memakai nama samaran Abdul Gafar (seorang ahli bahasa, sejarah ,dan sosial Islam) untuk mencari kelemahan rakyat Aceh. Setelah lama belajar di Arab, Snouck Hugronje memberikan saran-saran kepada Belanda mengenai cara mengalahkan orang Aceh. Menurut Hurgronje, Aceh tidak mungkin dilawan dengan kekerasan, sebab karakter orang Aceh adalah pantang menyerah, jiwa jihad orang Aceh sangat tinggi.

 

Taktik yang paling mujarab adalah dengan mengadu domba antara golongan Uleebalang (bangsawan) dengan ulama. Pemerintah Hindia Belanda kemudian menjanjikan kedudukan pada Uleebalang yang bersedia damai. Taktik ini berhasil, banyak Uleebalang yang tertarik pada tawaran Belanda. Belanda memberikan tawaran kedudukan kepada para Uleebalang apabila kaum ulama dapat dikalahkan. Sejak tahun 1898 kedudukan Aceh semakin terdesak. Belanda mengumumkan perang Aceh selesai tahun 1904. Namun demikian perlawanan rakyat Aceh secara sporadis masih berlangsung hingga tahun 1930-an.

 

5)    Perlawanan Sisingamangaraja, Sumatra Utara

Perlawanan terhadap Pemerintah Hindia Belanda di Sumatra Utara dipimpin oleh Sisingamangaraja XII, Perlawanan di Sumatra Utara berlangsung cukup lama, yaitu selama 24 tahun. Pertempuran diawali dari Bahal Batu sebagai pusat pertahanan Belanda tahun 1877. Untuk menghadapi Perang Batak (sebutan perang di Sumatra Utara), Pemerintah Hindia Belanda menarik pasukan dari Aceh. Pasukan Sisingamangaraja dapat dikalahkan setelah Kapten Christoffel berhasil mengepung benteng terakhir Sisingamangaraja di Pakpak. Kedua putra beliau Patuan Nagari dan Patuan Anggi ikut gugur dalam pertempuran tersebut, sehingga seluruh Tapanuli dapat dikuasai Belanda.

 

6)    Perang Banjar

Perang Banjar berawal ketika Pemerintah Hindia Belanda ikut campur tangan dalam urusan pergantian raja di Kerajaan Banjarmasin. Belanda memberi dukungan kepada Pangeran Tamjid Ullah yang tidak disukai oleh rakyat. Pangeran Antasari dengan kekuatan 300 prajurit menyerang tambang batu bara milik Belanda di Pengaron pada tanggal 25 April 1859. Selanjutnya peperangan demi peperangan dilakukan oleh Pangeran antasari di seluruh wilayah Kerajaan Banjar. Pangeran Antasari menyerang pos-pos Belanda di Martapura, Hulu Sungai, Riam Kanan, Tanah Laut, Tabalong, sepanjang sungai Barito sampai ke Puruk Cahu dengan dibantu para panglima dan prajuritnya yang setia.

 

Pemberontakan dilakukan oleh Prabu Anom dan Pangeran Hidayat. Pada tahun 1859, Pangeran Antasari memimpin perlawanan setelah Prabu Anom tertangkap Belanda, dengan bantuan pasukan dari Belanda, pasukan Pangeran Antasari dapat didesak. Tahun 1862 Pangeran Hidayat menyerah dan berakhirlah perlawanan rakyat Banjar di pulau Kalilmantan. Perlawanan baru benar-benar dapat dipadamkan pada tahun 1866.

 

7)    Perang Jagaraga di Bali

Perang Jagaraga berawal saat Pemerintah Hindia Belanda dan kerajaan di Bali bersengketa tentang hak tawan karang. Hak tawan karang berisi peraturan bahwa setiap kapal yang kandas di perairan Bali merupakan hak penguasa di daerah tersebut. Pemerintah Belanda memprotes Raja Buleleng yang menyita dua kapal milik Belanda. Raja Buleleng tidak mau menerima tuntutan Belanda untuk mengembalikan kedua kapalnya, persengketaan ini menyebabkan Belanda melakukan serangan terhadap kerajaan Buleleng tahun 1846. Belanda berhasil menguasai kerajaan Buleleng, sementara Raja Buleleng menyingkir ke Jagaraga dengan dibantu oleh Kerajaan Karangasem.

 

Setelah berhasil merebut Benteng Jagaraga, Pemerintah Hindia Belanda melanjutkan ekspedisi militernya pada tahun 1849. Dua kerajaan Bali, Gianyar dan Klungkung menjadi sasaran Belanda. Tahun 1906, seluruh kerajaan di Bali jatuh ke pihak Pemerintah Hindia Belanda setelah rakyat melakukan perang habis-habisan sampai mati, yang dikenal dengan Perang Puputan.

 

Strategi Belanda Menghadapi Perlawanan terhadap Pemerintah Hindia Belanda

1.    Memecah belah bangsa Indonesia.

2.    Mengasingkan para pimpinan perlawanan.

 

C.    Menjelaskan reaksi bangsa Indonesia terhadap kedatangan bangsa-bangsa barat ke Indonesia;

Sikap masyarakat Indonesia terhadap kedatangan bangsa-bangsa Barat adalah sebagian besar terjadi penolakan di berbagai daerah karena menyebabkan banyak penderitaan pada rakyat. Bangsa Indonesia merasa telah dijajah oleh bangsa-bangsa Barat dan berusaha untuk mengusirnya dari bumi pertiwi namun seringkali gagal.

Nasib para pedagang Asia setelah kedatangan bangsa-bangsa Barat adalah mereka mengalami kehilangan pekerjaan karena pembeli/konsumen yang sebagian besar berasal dari bangsa-bangsa Barat datang langsung ke sumber penghasil barang dengan melakukan kolonialisme dan imperialisme.

 

Perluasan Kolonialisme dan Imperialisme Barat dan Pengaruhnya bagi Perkembangan Masyarakat Indonesia

Dampak Politik, Sosial, Ekonomi, dan Budaya dari keberadaan Kolonialisme dan Imperialisme Barat di Indonesia, sebagai berikut:

1. Perubahan dalam Bidang Politik

-    Baik Daendels maupun Raffles telah meletakkan dasar pemerintahan modern.Para Bupati dijadikan pegawai negeri dan diberi gaji, padahal menurut adat, kedudukan bupati adalah turun temurun dan mendapat upeti dari rakyat.Bupati telah menjadi alat kekuasaan pemerintah kolonial. Pamog praja yang dulu berdasarkan garis keturunan diubah menjadi sistem kepegawaian.

-    Jawa menjadi pusat pemerintahan dan membaginya menjadi wilayah perfektuf

-    Hukum yang dulu menggunakan hukum adat diubah menggunakan sistem hukum barat modern

-    Belanda dan Inggris juga melakukan intervensi terhadap persoalan kerajaan, misalnya soal pergantian tahta kerajaan sehingga imperialis mendominasi politik di Indonesia.Akibatnya peranan elite kerajaan berkurang dalam bidang politik, bahkan kekuasaan pribumi mulai runtuh.

 

2. Perubahan dalam dalam Bidang Sosial

-    Pembentukan status sosial dimana yang tertingi adalah Eropa lalu Asia dan Timur Jauh yang terakhir kaum Pribumi

-    Terjadinya penindasan dan pemerasan secara kejam. Tradisi yang dimiliki oleh bangsa Indonesia, Seperti upacara dan tata cara yang berlaku dalam lingkungan istana menjadi sanga sederhana, bahkan cenderung dihilangkan. Tradisi tersebut secara perlahan-lahan digantikan oleh tradisi pemerintah belanda.

-    Daerah Indonesia terisolasi di laut sehingga kehidupan berkembang ke pedalaman. Kemunduran perdagangan di laut secara tak langsung menimbulkan budaya feodalisme di pedalaman. Dengan feodalisme rakyat pribumi dipaksa untuk tunduk/patuh pada tuan tanah Barat/Timur Asing. Sehingga kehidupan penduduk Indonesia megalami kemerosotan.

 

3. Perubahan dalam Bidang Ekonomi

-    Belanda membuka tambang minyak bumi di Tarakan Kaltim

-    Belanda membangun rel kereta api untuk memperlancar arus perdagagngan

-    Liberialisme ekonomi 

-    Eksploitasi ekonomi, monopoli dagang VOC menyebabkan mundurnya perdagangan nusantara di panggung perdagangan internasional. Peranan syahbandar digantikan oleh para pejabat Belanda

 

Kebijakan tanam paksa sampai sistem ekonomi liberal menjadikan Indonesia sebagai penghasil bahan mentah. Eksportirnya dilakukan oleh bangsa Belanda, pedagang perantara dipegang oleh orang timur asing terutama bangsa Cina dan bangsa Indonesia hanya menjadi pengecer, sehingga tidak memiliki jiwa wiraswasta jenis tanaman baru serta cara memeliharanya.

 

Dengan dilaksanakannya politik pintu terbuka, maka pengusaha pribumi yang modalnya kecil kalah bersaing sehingga gulung tikar.

 

Perkebunan di Jawa berkembang sedangkan di Sumatra kesulitan tenaga kerja sehingga dilakukan program transmigrasi.

 

Untuk mendukung program penanaman modal Barat di Indonesia pemerintah Belanda membangun : Irigasi, waduk, jalan raya, jalan kereta api dan pelabuhan. Untuk pembangunan tersebut digunakan tenaga secara paksa dengan sistem rodi (kerja paksa)

 

Dengan memperkenalkan sistem sewa tanah, terjadi pergeseran dari sistem ekonomi barang ke sistem ekonomi uang yang juga menyebar di kalangan petani.

 

4. Perubahan dalam Bidang Budaya

-    Tindakan pemerintah Belanda untuk menghapus kedudukan menurut adat penguasa pribumi dan menjadikan mereka pegawai pemerintah, merutuhkan kewibawaan tradisional penguasa pribumi.

-    Upacara dan tatacara yang berlaku di istana kerajaan juga disederhanakan dengan demikian ikatan tradisi dalam kehidupan pribumi menjadi lemah.

-    Dengan merosotnya peranan politik maka para elit politik baik raja maupun bangsawan mengalihkan perhatiannya ke bidang seni budaya. Contoh Paku Buwono V memerintahkan penulisan serat Centhini, R.Ng Ronggo Warsito menyusun Kitab Pustakaraya Purwa, Mangkunegara IV menyusun kitab Wedatama dan lain-lain.

-    Budaya Barat berkembang secara meluas, bahkan merusak sendi-sendi kehidupan budaya tradisional yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Sebagai contohnya, kebiasaan minum minuman keras yang dilakukan oleh golongan bangsawan. Kebiasaan tersebut bukan milik asli bangsa Indonesia, tetapi kebiasaan yang berlaku di kalangan bangsa Barat yang dibawa oleh para penjajah (Westernisasi menyebar lewat jalur pendidikan dan pemerintahan).

-    Birokrat menggunakan bahasa belanda sebagai simbol status mereka

-    Masuknya agama katholik dan protestan


E. Menganalisis pergerakan kebangsaan Indonesia dalam memperjuangkan secara kritis

1.  Latar Belakang munculnya Nasionalisme Indonesia

Pada Awal Abad XX, corak perjuangan bangsa Indonesia berubah dari yang bersifat kedaerahan menuju perjuangan yang bersifat nasional. Bangsa Indonesia telah menemukan identitas kebangsaan sebagai pengikat perjuangan bersama. Paham kebangsaan atau nasionalisme telah tumbuh dan menjelma menjadi sarana perjuangan yang sangat kuat.

 

Ditinjau dari asal pengaruhnya, pergerakan nasional dilatarbelakangi berbagai kejadian di dalam negeri Indonesia dan berbagai kejadian di luar negeri. Berbagai kejadian dari dalam negeri atau sering disebut faktor internal yang melatarbelakangi pergerakan nasional, misalnya perluasan pendidikan, kegagalan perjuangan diberbagai daerah, rasa senasib sepenanggungan dan perkembangan berbagai organisasi etnik kedaerahan. Adapun berbagai hal dari luar Indonesia (Faktor Eksternal) yang melatarbelakangi terjadinya pergerakan nasional, antara lain munculnya paham – paham baru di dunia seperti Pan – Islamisme, nasionalisme, sosialisme, liberalisme dan demokrasi. Beberapa peristiwa seperti kemenangan Jepang atas Rusia dalam perang 1905 dan perkembangan berbagai organisasi pergerakan nasional di berbagai negara juga menjadi faktor eksternal pendorong pergerakan nasional di Indonesia.

A.  Perluasan pendidikan

Pemerintah Hindia belanda menerapkan kebijakan Politik Etis pada tahun 1901, yaitu dalam bidang irigasi / pengairan, emigrasi / transmigrasi dan edukasi / pendidikan. Tiga kebijakan tersebut sebenarnya bertujuan memperbaiki kondisi masyarakat yang semakin terpuruk. namun, pelaksanaan kebijakan politik etis tetap lebih berpihak kepada penjajah. Dalam pelaksanaannya, banyak penyelewengan dalam Politik Etis, seperti :

1.    Irigasi hanya ditujukan untuk kepentingan perkebunan Belanda.

2.   Emigrasi / Transmigrasi hanya untuk mengirim orang-orang Jawa keluar Jawa guna dijadikan buruh perkebunan dengan upah murah.

3.    Pendidikan hanya sampai tingkat rendah, yang bertujuan memenuhi pegawai rendahan. Pendidikan tinggi hanya untuk orang Belanda dan sebagian anak pejabat.

 

Segi positif yang paling dirasakan bangsa Indonesia adalah pendidikan. Semakin banyak orang Indonesia berpendidikan modern, yang kemudian mempelopori gerakan pendidikan, sosial dan politik. Pengaruh pendidikan inilah yang melahirkan para tokoh pemimpin gerakan nasional Indonesia.

 

Pendidikan adalah investasi peradaban. Melalui pendidikan akan tertanamkan pengetahuan dan kesadaran nasionalisme bangsa Indonesia. Secara bertahap, mulai masuk abad XX, kesempatan memperoleh pendidikan bagi rakyat Indonesia semakin besar. hal ini dipengaruhi kebijakan baru pemerintah Hindia Belanda melalui Politik Etis (Politik Balas Budi).

 

Politik colonial liberal yang memeras rakyat Indonesia menimbulkan keprihatinan sebagian masyarakat Belanda. C Theodore van Deventer menuangkan kritiknya dalam sebuah majalh de Gids yang berjudul Een Eereschuld atau debt of Honour (Hutang Budi / Hutang Kehormatan) yang terbit pada tahun 1899. Van Deventer mengusulkan agar Belanda melakukan balas budi untuk bangsa Indonesia. Balas Budi yang diusulkan adalah dengan melakukan educatie, emigratie dan irrigatie (edukasi / pendidikan, emigrasi/perpindahan penduduk dan irigasi / pengairan). kebijakan Politik Etis memungkinkan berdirinya sekolah – sekolah di berbagai daerah di Indonesia.

 

Mulai abad XX, perkembangan pendidikan yang diselenggarakan swasta juga semakin banyak. Perkembangan pendidikan bukan hanya diselenggarakan oleh pemerintah, tetapi juga oleh berbagai organisasi sosial dan keagamaan. Misionaris (Agama Katolik) dan Zending (Agama Kristen protestan) mendirikan berbagai sekolah di pusat – pusat penyebaran agama Kristen. Di beberapa kota berkembang pendidikan berdasarkan keagamaan, seperti Muhammadiyah, Persatuan Islam, nahdatul Ulama, dan sebagainya. Sekolah kebangsaan juga tumbuh, seperti Taman Siswa dan sekolah – sekolah yang didirikan organisasi pergerakan.

 

Pendidikan sangat besar peranannya dalam menumbuhkembangkan nasionalisme. Pendidikan menyebabkan terjadinya transformasi ide dan pemikiran yang mendorong semangat pembaharuan masyarakat.

 

B.  Kegagalan perjuangan diberbagai daerah

Bangsa Indonesia menyadari berbagai penyebab kegagalan perjuangan kemerdekaan pada masa lalu. Salah satu penyebab kegagalan perjuangan tersebut adalah perlawanan yang bersifat kedaerahan.

 

Memasuki abad XX, corak perjuangan bangsa Indonesia berubah dari bersifat kedaerahan menuju perjuangan yang bersifat nasional. Bangsa Indonesia menemukan identitas kebangsaan sebagai perekat perjuangan bersama. Paham kebangsaan atau nasionalisme telah tumbuh dan menjelma menjadi sarana perjuangan yang sangat kuat. Corak perjuangan nasional bangsa Indonesia ditandai dengan momentum penting, yaitu diikrarkannya Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928

 

C.  Rasa senasip sepenanggungan

Perluasan kekuasaan Barat di Indonesia telah mempengaruhi perubahan politik, ekonomi dan sosial bangsa Indonesia. tekanan pemerintah Hindia Belanda pada bangsa Indonesia telah memunculkan perasaan kebersamaan rakyat Indonesia sebagai bangsa terjajah. Hal inilah yang mendorong tekad bersama untuk menghimpun kebersamaan dalam pergerakan kebangsaan Indonesia.

 

D.  Perkembangan organisasi etnis, kedaerahan dan keagamaan

Organisasi pergerakan nasional tidaka muncul begitu saja. Awalnya, organisasi yang berdiri di Indonesia adalah organisasi etnis, kedaerahan dan keagamaan. Berbagai organisasi tersebut sering melakukan pertemuan hingga akhirnya muncul ide untuk mengikatkan diri dalam organisasi yang bersifat nasional.

 

Organisasi etnis banyak didirikan para pelajar perantau di kota – kota besar. Mereka membentuk perkumpulan berdasarkan latar belakang etnis. Beberapa contohnya antara lain Serikat Pasundan serta Perkumpulan Kaum Betawi yang dipelopori oleh M Husni Thamrin. Selain organisasi etnis, muncul juga beberapa organisasi kedaerahan seperti Trikoro Dharmo (1915), Jong Java (1915) dan Jong Somatranen Bond (1917).

 

Berbagai organisasi bernapaskan keagamaan pada awal abad XX sangat mempengaruhi perkembangan kebangsaan Indonesia. Beberapa organisasi bernapas keagamaan yang muncul pada masa awal abad XX antara lain Jong Islamiten Bond, Muda Kristen Jawi, Muhammadiyah, Nahdatul Ulama (NU) didirikan oleh para kyai pada tanggal 31 januari 1926 di Jawa Timur dengan pimpinan pertama KH M Hasyim Asy’ari. NU cepat berkembang terutama di Jawa karena basis pesantren yang sangat banyak di Jawa.

 

Kaum wanita juga aktif berperan dalam berbagai organisasi baik organisasi sosial maupun politik. Peran serta perempuan dalam memperjuangkan kemerdekaan telah ada sejak dahulu. Beberapa tokoh pejuang wanita zaman dulu adalah RA Kartini, Dewi Sartika dan Maria Walanda Maramis. RA Kartini adalah putri bupati Jepara Jawa tengah yang memperjuangkan emansipasi (persamaan derajat) antara laki – laki dan perempuan. Beliau mendirikan sekolah khusus untuk perempuan.

 

E.   Berkembangnya berbagai paham baru

Paham – paham baru seperti Pan – Islamisme, nasionalisme, liberalism, sosialisme dan demokrasi menjadi salah satu pendorong pergerakan nasional Indonesia. Paham – paham tersebut mengajarkan bagaimana langkah – langkah memperbaiki kondisi kehidupan bangsa Indonesia. Berbagai paham tersebut mempengaruhi berbagai organisasi pergerakan nasional Indonesia.

 

F.   Berbagai peristiwa dan pengaruh dari luar negeri

Berbagai peristiwa di luar negeri yang turut menjadi pendorong pergerakan kebangsaan Indonesia adalah sebagai berikut:

1.   Kemenangan Jepang atas Rusia Pada Tahun 1905.

Pada tahun 1904 – 1905 terjadi peperangan Jepang melawan Rusia. Rusia adalah bangsa Eropa, sedangkan Jepang adalah bangsa Asia. Tentara Jepang berhasil mengalahkan Rusia dan menjadi inspirasi negara-negara lain bahwa orang Asia bisa mengalahkan bangsa Barat. Bangsa-bangsa Asia pun semakin yakin mampu melawan penjajah.

2.    Berkembangnya Nasionalisme di berbagai Negara.

Pada abad XX, negara-negara terjajah di Asia dan Afrika menunjukkan perjuangan pergerakan kebangsaan. Di India, wilayah jajahan Inggris, muncul pergerakan dengan tokoh-tokohnya Mahatma Gandhi dan Muhammad Ali Jinnah. Di Filipina, Jose Rizal memimpin perlawanan terhadap penjajah Spanyol. Di Tiongkok, muncul dr. Sun Yat Sen, yang terkenal dengan gerakan pembaharuannya

 

F. Mendeskripsikan perjuangan pergerakan kebangsaan pada masa pendudukan Jepang.

2.  Organisasi Pergerakan Nasional

a.    Budi Utomo (BU).

Pada awal abad XX, sudah banyak mahasiswa di kota – kota besar terutama di Pulau Jawa. Sekolah kedokteran bernama STOVIA (School tot Opleideing van Inlandsche Artsen) terdapat di Batavia (Jakarta). Para tokoh mahasiswa kedokteran sepakat untuk memperjuangkan nasib rakyat Indonesia dengan memajukan pendidikan rakyat. Pada tanggal 20 Mei 1908, mereka sepakat mendirikan sebuah organisasi bernama Budi Utomo (BU) dan memilih dr Sutomo sebagai ketua. Tokoh lain pendiri Budi Utomo adalah Gunawan, Cipto mangunkusumo dan RT Ario Tirtokusumo.

b.   Sarekat Islam (SI).

Pada masa penjajahan, Pasar Klewer di Solo atau Surakarta, Jawa Tengah telah ramai oleh para pedagang Indonesia, Arab dan Tiongkok. Akibat persaingan yang tidak sehat antara pedagang pribumi dan pedagang Tiongkok, pada tahun 1911 didirikan Serikat Dagang Islam (SDI) oleh KH Samanhudi dan RM Tirtodisuryo di Solo. Tujuan utama pada awalnya adalah melindungi kepentingan pedagang pribumi dari ancaman pedagang Tiongkok. Saat itu, para pedagang Tiongkok menguasai perdagangan di pasar, menggeser para pedagang local yang kurang pendidikan dan pengalaman.

 

Dalam Kongres di Surabaya tanggal 30 September 1912, SDI berusaha menjadi Sarekat Islam (SI). Perubahan nama dimaksudkan agar kegiatan organisasi lebih terbuka ke bidang – bidang lain, tidak hanya perdagangan. Pada tahun1913, SI dipimpin oleh Haji Umar Said Cokroaminoto. Perjuangan SI sangat menarik rakyat karena kegiatannya yang membela rakyat. Pada tahun 1915, jumlah anggota SI mencapai 800.000.

 

Pada tahun 1923, SI berubah nama menjadi Partai Sarekat Islam (PSI) yang bersifat non kooperatif terhadap Belanda. Tahun 1927 PSI, menetapkan tujuan pergerakan secara jelas, yaitu Indonesia merdeka berasaskan Islam.

 

c.    Indische Partij (IP).

Indische Partij (IP) adalah partai politik pertama di Indonesia. Ada tiga orang yang merupakan pendiri IP yang terkenal dengan sebutan tiga serangkai, yakni E.F.E. Douwes Dekker (Danudirjo Setiabudi), R.M. Suwardi Suryaningrat dan dr Cipto mangunkusumo. Indische Partij dideklarasikan tanggal 25 Desember 1912. Tujuan utama IP sangat jelas, yakni mengembangkan semangat nasionalisme bangsa Indonesia. Keanggotaannya pun terbuka bagi semua golongan tanpa memandang suku, agama dan ras.

 

Pada tahun 1913, Belanda mempersiapkan pelaksanan perayaan 100 tahun pembebasannya dari kekuasaan Prancis. Belanda meminta rakyat Indonesia untuk turut memperingati hari tersebut. Para tokoh Indische Partij menentang rencana tersebut. Suwardi Suryaningrat menulis artikel yang dimuat dalam harian De Expres, dengan judul “Als Ik een Nederlander was (Seandainya Aku Orang Belanda). Suwardi mengecam Belanda, katanya : Bagaimana mungkin bangsa terjajah (Indonesia) disuruh merayakan kemerdekaan penjajah. Pemerintah Belanda marah dengan sikap para tokoh Indische Partij. Akhirnya Douwes dekker, Tjipto Mangukusumo dan Suwardi Suryaningrat ditangkap dan dibuang ke Belanda.

 

d.   Perhimpunan Indonesia (PI).

Semula bernama Indische Vereeniging, PI didirikan oleh orang – orang Indonesia di Belanda pada tahun 1908. Pada tahun 1922, Indische Vereeniging berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging dengan kegiatan utama politik. Pada tahun 1925 berubah menjadi Perhimpunan Indonesia (PI). Nama majalahnya Hindia Putra, yang kemudian berubah menjadi Indonesia Merdeka.

 

Tujuan utama PI adalah mencapai Indonesia merdeka, memperoleh suatu pemerintahan Indonesia yang bertanggung jawab kepada seluruh rakyat. Tokoh – tokoh PI adalah Mohammad Hatta, Ali Sastroamijoyo, Abdulmajid Joyoadiningrat, Iwa Kusumasumantri, Sastro Mulyono, sartono, Gunawan Mangunkusumo, dan Nazir datuk Pamuncak.

Pada tahun 1925, PI secara tegas mengeluarkan manifesto arah perjuangan, yaitu :

1.    Indonesia bersatu, menyingkirkan perbedaan, dapat mematahkan kekuasaan penjajah.

2.    Diperlukan aksi massa yang percaya pada kekuatan sendiri untuk mencapai Indonesia Merdeka.

3.   Melibatkan seluruh lapisan masyarakat merupakan sarat mutlak untuk perjuangan kemerdekaan.

4.    Anasir yang berkuasa dan esensial dalam tiap – tiap masalah politik.

5.   Penjajahan telah merusak dan demoralisasi jiwa dan fisik bangsa, sehingga normalisasi jiwa dan materi perlu dilakukan secara sungguh – sung.

 

Manifesto 1925 sangat menggugah kesadaran bangsa Indonesia serta sangat mempengaruhi pola pergerakan nasional bangsa Indonesia. Gagasan manifesto 1925 terealisasi saat Sumpah Pemuda diikrarkan pada 28 Oktober 1928.

Kongres Pemuda I dilaksanakan tanggal 30 April – 2 Mei 1926 di Jakarta, dihadiri berbagai organisasi pemuda. Kongres ini berhasil membentuk jaringan yang lebih kokoh untuk mempersatukan diri, yang kemudian dilanjutkan dalam Kongres Pemuda II tahun 1928.

 

Panitia Kongres Pemuda II dibentuk tanggal 12 Agustus 1928 dengan ketuanya Sugondo Joyopuspito. Susunan panitia mewakili wilayah di seluruh Indonesia. Beberapa tokoh panitia kongres adalah Sugondo (PPPI), Joko Marsaid (Jong Java), M Yamin (Jong Sumatranen Bond), Amir Syarifudin (Jong Bataks Bond), Senduk (Jong Celebes), J Leimena (Jong Ambon), Johan Muh. Cai (Jong Islamieten Bond), dan tokoh – tokoh lainnya.

 

Kongres II diselenggarakan 27 – 28 Oktober 1928, dihadiri oleh perwakilan organisasi – organisasi pemuda dari seluruh Indonesia. Dalam kongres ini, keinginan untuk membentuk negara sendiri semakin kuat. Suasana kebangsaan benar – benar tidak bisa dibendung lagi. Akhirnya, tanggal 28 Oktober 1928, dibacakanlah keputusan hasil Kongres Pemuda II, yang berupa ikrar pemuda yang terkenal dengan Sumpah Pemuda.

Kami Putra dan Putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia.

Kami Putra dan Putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.

Kami Putra dan Putri Indonesia menjungjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.

 

Beberapa keputusan penting Kongres Pemuda II, tanggal 27 – 28 Oktober 1928, diantaranya :

1.    Ikrar Sumpah pemuda tanggal 28 Oktober 1928.

2.    Menetapkan lagu Indonesia Raya ciptaan W.R. Supratman sebagai lagu kebangsaan Indonesia.

3.    Menetapkan bendera merah putih sebagai lambang negara Indonesia.

Realisasi hasil kongres adalah didirikannya Indonesia muda tahun 1930. Indonesia Muda berasaskan kebangsaan dan bertujuan Indonesia raya. Pemerintah Belanda sangat menekan rapat-rapat yang diselenggarakan para tokoh pemuda. lagu Indonesia raya dilarang dan penyebutan Indonesia merdeka tidak diperbolehkan. Para tokoh pemuda menyiasati tekanan ini. Pada Kongres III di Yogyakarta tahun 1938, tujuan kemerdekaan nusa dan bangsa diganti dengan menjungjung tinggi martabat nusa dan bangsa.

 

e.    Partai Nasional Indonesia (PNI).

Partai Nasional Indonesia (PNI) didirikan tanggal 4 Juli 1927 di Bandung, dipimpin Ir Soekarno. Tujuan PNI adalah Indonesia merdeka, dengan ideology nasionalisme. PNI mengadakan kegiatan konkret baik politik, sosial maupun ekonomi. Organisasi ini terbuka dan revolusioner, sehingga PNI cepat meraih anggota yang banyak. Pengaruh Soekarno sangat meresap dalam lapisan masyarakat. Keikutsertaan Hatta dalam kegiatan politik Soekarno semakin membuat PNI sangat kuat.

 

Kegiatan politik PNI dianggap mengancam pemerintah Belanda, sehingga para tokoh PNI ditangkap dan diadili tahun 1929. Soekarno, Maskoen, Gatot Mangkupraja dan Supriadinata diadili Belanda. Pembelaan Soekarno di hadapan pengadilan diberi judul “Indonesia Menggugat”. Sukarno dan kawan – kawan di hukum penjara.

Tahun 1931, PNI dibubarkan. Selanjutnya sartono membentuk Partindo. Adapun Muhammad Hatta dan Sutan Syahrir mendirikan organisasi Pendidikan Nasional Indonesia. Para tokoh partai tersebut kemudian ditangkap Belanda dan diasingkan ke Boven Digul, Papua.

 

Selain lima (5) organisasi diatas, ada berbagai organisasi pada masa pergerakan nasional. Sebagai contoh, Pada tahun 1935 berdiri Parindra (Partai Indonesia Raya) dengan beberapa tokoh seperti M. Husni Thamri, R Sukardjo, R Panji Suroso dan Mr Susanto. Gerindo (Gerakan Indonesia) didirian di Jakarta pada bulan April 1937, Pemimpinnya adalah mantan pimpinan Partindo yang dibubarkan tahun 1937, seperti Amir Syarifuddin, Mr. M. Yamin, Mr. Sartono dan Dr AK Gani.

 

Golongan nasionalis mencoba menggunakan Volksraad sebagai media perjuangan nasional. Dengan tujuan memperkuat wakil – wakil bangsa Indonesia, tahun 1930. Husni Thamrin membentuk Fraksi Nasional. pada tahun 1936, seorang anggota Volksraad, Sutarjo mengajukan petisi menuntut kemerdekaan Indonesia dalam masa 10 tahun. Petisi ini kemudian dikenal dengan nama Petisi Sutarjo. Petisi tersebut ditolak Belanda dengan alasan Bangsa Indonesia belum siap untuk merdeka.

Para pejuang pergerakan nasional kecewa dan tidak terlalu berharap kepada Volksraad. Pada tahun 1939, dibentuk federasi / gabungan dari beberapa organisasi politik yang disebut Gabungan Politik Indonesia (GAPI). Semboyan GAPI yang terkenal adalah “Indonesia Berparlemen”.

 

3. Pergerakan Nasional pada Masa Pendudukan Jepang

Kerja paksa pada masa kependudukan jepang dikenal dengan istilah romusha. Romusha menjadi salah satu bukti penderitaan rakyat Indonesia pada masa kependudukan Jepang.

a.    Proses Penguasaan Indonesia

Awal mula tujuan Jepang menguasai Indonesia ialah untuk kepentingan ekonomi dan politik. Jepang merupakan negara industry yang sangat maju dan sangat besar. Jepang sangat menginginkan bahan baku industry yang tersedia banyak di Indonesia untuk kepentingan ekonominya. Indonesia juga merupakan daerah pemasaran industry yang strategis bagi Jepang untuk menghadapi persaingan dengan tentara bangsa – bangsa Barat. Untuk menyamakan jalur pelayaran bagi bahan – bahan mentah dan bahan baku dari ancaman Sekutu serta memuluskan ambisinya menguasai wilayah – wilayah baru, Jepang menggalang kekuatan pasukannya serta mencari dukungan dan bangsa – bangsa Asia.


Perhatikan peta di atas! Peta tersebut menunjukkan gerakan tentara Jepang ketika masuk ke Indonesia. Terdapat tiga tempat penting pendaratan tentara Jepang ketika masuk ke Indonesia, yakni: Tarakan (Kalimantan), Palembang (Sumatra), dan Jakarta (Jawa). Jepang memilih menduduki Ketiga tempat tersebut karena lokasinya sangat strategis dan merupakan pusat perkembangan ekonomi dan politik pada masa kependudukan Belanda.

 

Pada tanggal 8 Desember 1941, Jepang melakukan penyerangan terhadap pangkalan militer AS di Pearl Harbour. Setelah memborbardir Pearl Harbour, Jepang masuk ke negara-negara Asia dari berbagai pintu. Pada tanggal 11 Januari 1942, jepang mendaratkan pasukannya di Tarakan Kalimantan Timur. Jepang menduduki kota minyak Balikpapan pada tanggal 24 januari. Selanjutnya, Jepang menduduki kota – kota lainnya di Kalimantan.

 

Jepang berhasil menguasai Palembang pada tanggal 16 Februari 1942. Setelah menguasai Palembang, Jepang menyerang Pulau jawa. Pulau Jawa merupakan pusat pemerintahan Belanda. Batavia (Jakarta) sebagai pusat perkembangan Pulau jawa berhasil dikuasai Jepang pada tanggal 1 maret 1942. Setelah melakukan berbagai pertempuran, Belanda akhirnya menyerah tanpa syarat kepada Jepang pada tanggal 8 Maret 1942 1942 di Kalijati, Subang – Jawa Barat. Surat perjanjian serah terima kedua belah pihak ditandatangani oleh Letnan Jenderal Ter Poorten (Panglima Angkatan Perang Belanda) dan diserahkan kepada Letnan Jenderal Immamura (Pimpinan Pasukan Jepang). Sejak saat itu seluruh Indonesia berada di bawah kekuasaan Jepang.

 

b. Kebijakan Pemerintah Militer Jepang

Pada saat kependudukannya di Indonesia, Jepang melakukan pembagian tiga daerah pemerintahan militer di Indonesia, yakni :

1.    Pemerintahan Angkatan Darat (Tentara XXV) untuk Sumatra, dengan pusat di Bukit Tinggi.

2.    Pemerintahan Angkatan darat (Tentara XVI) untuk Jawa dan Madura dengan pusat di Jakarta.

3.   Pemerintahan Angkatan Laut (Armada Selatan II) untuk daerah Sulawesi, Kalimantan dan Maluku dengan pusat di Makassar.

 

Jepang menggunakan system pemerintahan berdikari dalam menjalankan pemerintahan di daerah kependudukannya. Berdikari berarti “Berdiri Sendiri”. Maksudnya, pemerintah pusat tidak banyak berperan dalam upaya pemenuhan kebutuhan pasukan di daerah kependudukannya. Dengan demikian, pemerintahan militer Jepang di Indonesia lebih leluasa untuk menerapkan system penjajahan.

 

Jepang melakukan propaganda dengan semboyan “Tiga A” (Jepang Pemimpin Asia, Jepang Pelindung Asia, Jepang Cahaya Asia) untuk menarik simpati rakyat Indonesia. Selain itu, Jepang menjanjikan kemudahan bagi bangsa Indonesia dalam melakukan ibadah, mengibarkan bendera merah putih yang berdampingan dengan bendera Jepang, menggunakan bahasa Indonesia dan menyanyikan lagu kebangsaan “Indonesia Raya” bersama lagu kebangsaan Jepang “Kimigayo”. Kemudahan – kemudahan yang ditawarkan oleh Jepang hanyalah janji manis saja. Sebagai penjajah, Jepang justru lebih kejam dalam menjajah bangsa Indonesia. Jepang melakukan beberapa kebijakan terhadap negara jajahan Indonesia. Program yang paling mendesak bagi Jepang adalah mengerahkan seluruh sumber daya yang ada di Indonesia  untuk tujuan perang. Beberapa kebijakan tersebut antara lain sebagai berikut :                       

1.    Membentuk Organisasi – Organisasi Sosial.

Organisasi – organisasi sosial yang dibentuk oleh jepang diantaranya Gerakan 3A, Pusat tenaga Rakyat, Jawa Hokokai dan Masyumi. Gerakan 3A dipimpin oleh Mr. Syamsudin, dengan tujuan meraih simpati penduduk dan tokoh masyarakat sekitar. Dalam perkembangannya, gerakan ini kurang berhasil sehingga Jepang membentuk organisasi yang lebih menarik.

 

Sebagai ganti Gerakan Tiga A, jepang mendirikan gerakan Pusat tenaga Rakyat (Putera) pada tanggal 1 Maret 1943. Gerakan Putera dipimpin tokoh – tokoh nasional yang sering disebut Empat Serangkai, yaitu Soekarno, Mohammad Hatta, K.H. Mas Mansyur dan Ki hajar Dewantara. Gerakan Putera cukup diminati oleh kalangan tokoh pergerakan Indonesia.

 

Pemerintah Jepang kurang puas dengan kegiatan yang dilakukan oleh gerakan Putera karena para tokoh gerakan Putera memanfaatkan organisasi ini untuk melakukan konsolidasi dengan tokoh – tokoh perjuangan. Pada akhirnya, organisasi Putera dibubarkan oleh Jepang.

Pada tahun 1944, dibentuk Jawa Hokokai (Gerakan Kebaktian Jawa). gerakan ini berdiri di bawah pengawasan para pejabat Jepang. Tujuan pokoknya adalah menggalang dukungan untuk rela berkorban demi pemerintah Jepang.

 

Islam adalah agama yang dianut mayoritas penduduk Indonesia. Jepang merasa harus bisa menarik hati golongan ini. Maka, pada tahun 1943 Jepang membubarkan Majelis Islam A’la Indonesia dan menggantikannya dengan Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia). Masyumi dipimpin oleh KH Hasyim Ashari dan KH Mas Mansur.

 

 

 

2.    Pembentukan Organisasi Semi Militer.

Jepang menyadari pentingnya mengerahkan rakyat Indonesia untuk membantu perang menghadapi Sekutu. Oleh karena itu, Jepang membentuk berbagai organisasi semimiliter, seperti Seinendan, Fujinkai, Keibodan, Heiho dan Pembela Tanah Air (Peta).

 

Organisasi Barisan Pemuda (Seinendan) dibentuk pada 9 maret 1943. Tujuannya adalah memberi bekal bela negara agar siap mempertahankan tanah air nya. Dalam kenyataannya, tujuan itu hanya untuk menarik minat rakyat Indonesia. Maksud sesungguhnya adalah untuk membantu menghadapi tentara Sekutu.

 

Fujinkai merupakan himpunan kaum wanita diatas 15 tahun untuk terikat dalam latihan semi militer. Keibodan merupakan barisan pembantu polisi untuk laki – laki berumur 20 – 25 tahun. Heiho yang didirikan tahun 1943 merupakan organisasi prajurit pembantu tentara jepang. pada saat itu, Jepang sudah mengalami kekalahan di beberapa front pertempuran. Adapun Peta yang didirikan 3 Oktober 1943 merupakan pasukan bersenjata yang memperoleh pendidikan militer secara khusus dari Jepang. kelak, para eks – Peta memiliki peranan besar dalam pertempuran melawan Jepang dan Belanda.

 

3.    Pengerahan Romusha.

Jepang melakukan rekruitmen anggota romusha dengan tujuan mencari bantuan tenaga yang lebih besar untuk membantu perang dan melancarkan aktivitas Jepang. Anggota – anggota Romusha dikerahkan oleh jepang untuk membangun jalan, kubu pertahanan, rel kereta api, jembatan dan sebagainya. jumlah Romusha paling besar berasal dari jawa, yang dikirim ke luar Jawa, bahkan sampai ke Malaya, Myanmar dan Thailand.

 

Sebagian besar Romusha adalah penduduk yang tidak berpendidikan. mereka terpaksa melakukan kerja rodi karena takut kepada jepang. Pada saat mereka bekerja sebagai romusha, makanan yang mereka dapat tidak terjamin, kesehatan sangat minim, sementara pekerjaan sangat berat. Ribuan rakyat Indonesia meninggal akibat romusha.

Mendengar nasib romusha yang sangat menyedihkan, banyak pemuda Indonesia meninggalkan kampungnya. mereka takut akan dijadikan romusha. Akhirnya, sebagian besar desa hanya didiami oleh kaum perempuan, orang tua dan anak – anak.

 

Penjajahan jepang yang sangat menyengsarakan adalah pemaksaan wanita – wanita untuk menjadi Jugun Ianfu. Jugun Ianfu adalah wanita yang dipaksa Jepang untuk menjadi wanita penghibur Jepang di berbagai pos medan pertempuran. Banyak gadis – gadis desa diambil paksa tentara Jepang untuk menjadi Jugun Ianfu. Sebagian mereka tidak kembali walaupun Perang Dunia II telah berakhir.

 

4.    Eksploitasi Kekayaan Alam.

Jepang tidak hanya menguras tenaga rakyat Indonesia. Pengerukan kekayaan alam dan harta benda yang dimiliki bangsa Indonesia jauh lebih kejam daripada pengerukan yang dilakukan oleh Belanda. Semua usaha yang dilakukan di Indonesia harus menunjang semua keperluan perang Jepang.

 

Jepang mengambil alih seluruh asset ekonomi Belanda dan mengawasi secara langsung seluruh usahanya. Usaha perkebunan dan industry harus mendukung untuk keperluan perang, seperti tanaman jarak untuk minyak pelumas. rakyat wajib menyerahkan bahan pangan besar – besaran kepada Jepang. Jepang memanfaatkan Jawa Hokokai dan instansi – instansi pemerintah lainnya. Keadaan inilah yang semakin menyengsarakan rakyat Indonesia.

 

Pada masa panen, rakyat wajib melakukan setor padi sedemikian rupa sehingga mereka hanya membawa pulang padi sekitar 20 % dari panen yang dilakukannya. kondisi ini mengakibatkan musibah kelaparan dan penyakit busung lapar di Indonesia. Banyak penduduk yang memakan umbi – umbian liar, yang sebenarnya hanya pantas untuk makanan ternak.

 

Sikap manis Jepang hanya sebentar. Pada tanggal 20 Maret 1942, dikeluarkan maklumat pemerintah yang isinya berupa larangan pembicaraan tentang pengibaran bendera merah putih dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Hal ini tentu membuat kecewa bangsa Indonesia.

 

c.  Sikap Kaum Pergerakan

Bangsa Indonesia telah melakukan berbagai upaya untuk menanggapi kebijakan Jepang tersebut. Propaganda Jepang sama sekali tidak mempengaruhi para tokoh perjuangan untuk percaya begitu saja. Bagaimanapun, mereka sadar bahwa Jepang adalah penjajah. Bahkan mereka sengaja memanfaatkan organisasi – organisasi pendirian jepang sebagai “batu loncatan” untuk meraih Indonesia merdeka. Beberapa bentuk perjuangan pada zaman jepang adalah sebagai berikut :

1.    Memanfaatkan Organisasi Bentukan Jepang.

Kelompok ini sering disebut kolaborator karena mau bekerja sama dengan penjajah. Sebenarnya, cara ini bentuk perjuangan diplomasi. Tokoh – tokohnya adalah para pemimpin Putera, seperti Sukarno, Mohammad Hatta, Ki Hajar Dewantara dan KH Mas Mansyur. Mereka memanfaatkan Putera sebagai sarana komunikasi dengan rakyat. Akhirnya, Putera justru dijadikan para pemuda Indonesia sebagai ajang kampanye nasionalisme. Pemerintah Jepang menyadari hal tersebut dan akhirnya membubarkan Putera dan digantikan Barisan Pelopor. Sama seperti Putera, Barisan Pelopor yang dipimpin Sukarno ini pun selalu mengkampanyekan perjuangan kemerdekaan.

 

 

2.    Gerakan Bawah Tanah.

Larangan berdirinya partai politik pada zaman Jepang mengakibatkan sebagian tokoh perjuangan melakukan gerakan bawah tanah. Gerakan bawah tanah merupakan perjuangan melalui kegiatan – kegiatan tidak resmi, tanpa sepengetahuan Jepang (Gerakan sembunyi - sembunyi).

 

Dalam melakukan perjuangan, mereka terus melakukan konsolidasi menuju kemerdekaan Indonesia. mereka menggunakan tempat – tempat strategis seperti asrama pemuda untuk melakukan pertemuan – pertemuan. Penggalangan semangat kemerdekaan dan membentuk suatu negara terus mereka kobarkan.

 

Tokoh – tokoh yang masuk dalam garis pergerakan bawah tanah adalah Sutan Sjahrir, Achmad Subarjo, Sukarni, A. maramis, Wikana, Chairul Saleh dan Amir Syarifuddin. Mereka terus memantau Perang pasifik melalui radio – radio bawah tanah. Pada saat itu, Jepang melarang bangsa Indonesia memiliki pesawat komunikasi. Kelompok bawah tanah inilah yang sering disebut golongan radikal / keras karena mereka tidak mengenal kompromi dengan Jepang.

 

3.    Perlawanan Bersenjata.

Disamping perjuangan yang dilakukan dengan memanfaatkan organisasi bentukan Jepang dan gerakan tanah, ada pula perlawanan – perlawanan bersenjata yang dilakukan bangsa Indonesia diantranya sebagai berikut :

a.    Perlawanan Rakyat Aceh.

     Dilakukan oleh Tengku Abdul Djalil, seorang ulama di Cot Plieng Aceh, menentang peraturan – peraturan Jepang. Pada tanggal 10 November 1942, ia melakukan perlawanan. Dalam perlawanan tersebut ia tertangkap dan ditembak mati.

b.   Perlawanan Singaparna, Jawa Barat.

     Dipelopori oleh KH Zainal Mustofa, yang menentang seikerei yakni menghormati Kaisar Jepang. Pada tanggal 24 Februari 1944, meletus perlawanan terhadap tentara Jepang. Kiai Haji Zaianal Mustofa dan beberapa pengikutnya ditangkap, lalu dihukum mati.

c.    Perlawanan Indramayu, Jawa Barat.

     Pada bulan Juli 1944, rakyat Lohbener dan Sindang di Indramayu memberontak terhadap Jepang. Para petani dipimpin H. Madrian menolak pungutan padi yang terlalu tinggi. Akan tetapi, pada akhirnya perlawanan mereka dipadamkan Jepang.

d.   Perlawanan Peta di Blitar, Jawa Timur.

     Perlawanan PETA merupakan perlawanan terbesar yang dilakukan rakyat Indonesia pada masa penjajahan Jepang.

    

     Perlawanan ini dipimpin Supriyadi, seorang Shodanco (Komandan Pleton). Peta tanggal 14 Februari 1945, perlawanan dipadamkan Jepang karena persiapan Supriyadi dkk kurang matang.

    

     Para pejuang Peta yang berhasil ditangkap kemudian diadili di Mahkamah Militer di Jakarta. Beberapa diantaranya dihukum mati, seperti dr Ismail, Muradi, Suparyono, Halir Mangkudidjaya, Sunanto dan Sudarmo. Supriyadi sebagai pemimpin perlawanan tidak diketahui nasibnya. Kemungkinan besar Supriyadi berhasil ditangkap Jepang kemudian di hukum mati sebelum diadili.

 

G. Menjelaskan perubahan masyarakat Indonesia pada masa penjajahan

Pada perjalanan sejarah sejak masa kolonialisme VOC, Pemerintah Hindia Belanda, pemerintah Inggris, dan pendudukan Jepang telah terjadi berbagai perubahan pada masyarakat Indonesia. Terjadinya kolonialisme dan Imperialisme di Indonesia menyebabkan berbagai perubahan masyarakat Indonesia baik aspek geografis, ekonomi, budaya, pendidikan maupun politik.

 

a.    Perubahan Pada Masa Kolonial Barat.

1.    Perluasan Penggunaan Lahan.

Perkebunan di Indonesia telah berkembang sebelum masa penjajahan. Bangsa Indonesia telah memiliki teknologi turun – menurun untuk mengembangkan berbagai teknologi pertanian. Pada masa penjajahan, terjadi perubahan besar dalam perkembangan perkebunan di Indonesia. Penambahan jumlah lahan untuk tanaman ekspor dilakukan diberbagai wilayah di Indonesia. Bukan hanya pemerintah colonial yang mengembangkan lahan perkebunan di Indonesia, tetapi juga perusahaan – perusahaan swasta.

 

Pada masa pemerintah colonial Hindia belanda, banyak perusahaan asing yang menanam investasi di Indonesia. Berhektar – hektar hutan dibuka untuk pembukaan lahan perkebunan .

Contoh Saluran Irigasi Bendung Komering 10 (BK 10) di Desa Gumawang, Belitang Madang Raya, kabupaten OKU timur Sumatera Selatan adalah salah satu saluran yang dibangun sejak masa Hindia Belanda. Daerah OKU Timur yang awalnya hutan belantara berubah menjadi lahan pertanian dan perkebunan yang sangat subur hingga sekarang. Sepanjang aliran irigasi tersebut menjadi lumbung padi Sumatra Selatan hingga kini.

 

2.    Persebaran Penduduk dan Urbanisasi.

Politik Etis terdiri dari irigasi, transmigrasi dan edukasi. Sejarak transmigrasi Indonesia terutama terjadi pada akhir abad XIX. Tujuan utama transmigrasi pada masa tersebut adalah untuk menyebarkan tenaga kerja murah diberbagai perkebunan di Sumatra dan Kalimantan. Pembukaan perkebunan pada masa colonial barat di Indonesia telah berhasil mendorong persebaran penduduk Indonesia.

Munculnya berbagai pusat industry dan perkembangan berbagai fasilitas di kota menjadi daya dorong perkembangan kota – kota. Urbanisasi terjadi hampir di berbagai daerah di Indonesia. Daerah yang awalnya hutan belantara menjadi ramai dan gemerlap karena ditemukannya area pertambangan.

 

Persebaran penduduk Indonesia tidak sebatas dalam lingkungan nasional, tetapi juga lintas negara. Sebagai bukti adalah adanya Negara Suriname di Amerika Latin, didalamnya banyak terdapat warga keturunan suku Jawa. mereka adalah keturunan Jawa yang hidup turun temurun di Suriname sejak penjajahan Belanda. Mereka bisa sampai di Suriname karena tidak lepas dari kebijakan pemerintah belanda untuk mengirim banyak tenaga kerja ke Suriname yang juga merupakan wilayah jajahan Belanda.

 

3.   Pengenalan Tanaman Baru.

Pengaruh pemerintah colonial Barat di satu sisi memiliki pengaruh positif dalam mengenalkan berbagai tanaman dan teknologi dalam pertanian dan perkebunan. Beberapa tanaman andalan ekspor dikenalkan dan dikembangkan di Indonesia. Pengenalan tanaman baru sangat bermanfaat dalam pengembangan pertanian dan perkebunan di Indonesia.

 

4.    Penemuan Tambang – Tambang.

Pembukaan lahan pada masa colonial Barat juga dilakukan untuk pertambangan minyak bumi, batu bara dan logam. Pembukaan lahan untuk pertambangan ini terutama terjadi pada akhir abad XIX dan awal abad XX.

 

 

 

5.    Transportasi dan Komunikasi.

Pada zaman penjajahan Belanda, banyak dibangun jalan raya, rel kereta api dan jaringan telepon. Pembangunan berbagai sarana transportasi dan komunikasi tersebut mendorong mobilitas barang dan jasa yang sangat cepat. Pada transportasi laut juga dibangun berbagai dermaga di berbagai daerah di Indonesia.

 

Contohnya proses pembangunan jalur Anyer – Panarukan yang dibangun pada masa pemerintahan Daendels. Di satu sisi, pembangunan tersebut menimbulkan kesengsaraan rakyat, terutama akibat kerja paksa. Namun di sisi lain, pembangunan jalur tersebut telah mempermudah jalur transportasi dan komunikasi masyarakat Indonesia, khususnya di Jawa. Pembangunan rel kereta api juga dilakukan di berbagai daerah di jawa dan Sumatra.

 

6.    Perkembangan Kegiatan Ekonomi.

Perubahan masyarakat dalam kegiatan ekonomi pada masa colonial terjadi baik dalam kegiatan produksi, konsumsi dan distribusi. Kegiatan produksi dalam pertanian dan perkebunan semakin maju dengan ditemukannya berbagai teknologi pertanian yang bervariasi. Rakyat mulai mengenal tanaman yang tidak hanya untuk dipanen semusim. Pembukaan berbagai perusahaan telah melahirkan berbagai jenis pekerjaan dalam bidang yang berbeda. Sebagai contoh, munculnya kuli – kuli perkebunan, mandor dan administrasi diberbagai perusahaan pemerintah ataupun swasta. kegiatan ekspor – impor juga mengalami kenaikan signifikan pada masa penjajahan Barat. Hal ini tidak lepas dari usaha pemerintah colonial menggenjot jumlah produksi ekspor.

 

7.    Mengenal Uang.

Pada masa sebelum kedatangan bangsa – bangsa Barat, masyarakat biasanya bekerja secara bergotong – royong. Contohnya dalam mengerjakan sawah, setiap kelompok penduduk akan mengerjakan secara bersama – sama dari sawah satu ke sawah lainnya. Pada masa kekuasaan colonial Barat, uang mulai dikenalkan sebagai alat pembayaran jasa tenaga kerja. Keberadaan uang sebagai barang baru dalam kehidupan masyarakat menjadi daya tarik tersendiri. Masyarakat mulai menyenangi uang karena dianggap lebih mudah digunakan.

 

8.    Perubahan Dalam Pendidikan.

Terdapat Dua pendidikan yang dikembangkan pada masa pemerintahan colonial Barat.

a.    Pendidikan yang dikembangkan oleh pemerintah.

b.    Pendidikan yang dikembangkan oleh masyarakat.

 

Pusat – pusat kekuasaan Belanda di Indonesia di berbagai kota di Indonesia menjadi pusat pertumbuhan berbagai sekolah di Indonesia. Banyak sekolah yang telah berdiri sejak zaman penjajahan di kota – kota provinsi di Indonesia. Pada masa penjajahan Belanda juga telah berkembang perguruan tinggi seperti Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Institut Pertanian Bogor (IPB).

 

Pada masa pemerintahan colonial Barat, terjadi diskriminasi pendidikan di Indonesia. Sekolah dibedakan menjadi dua golongan, yakni sekolah untuk bangsa Eropa dan sekolah untuk penduduk pribumi. Hal ini mendorong lahirnya berbagai gerakan pendidikan di Indonesia. Taman siswa yang berdiri di Yogyakarta merupakan salah satu pelopor gerakan pendidikan modern di Indonesia. Sekolah – sekolah yang dipelopori berbagai organisasi pergerakan nasional tumbuh pesat pada awal abad XX.

 

Pengaruh pendidikan modern berdampak pada perluasan lapangan kerja pada masyarakat Indonesia. Munculnya elite intelektual memunculkan jenis pekerjaan baru, seperti guru, administrasi, pegawai pemerintah, dsb.

 

9.    Perubahan Dalam Aspek Politik.

Kejayaan kerajaan – kerajaan pada masa sebelum kedatangan bangsa Barat satu persatu mengalami kemerosotan bahkan keruntuhan. Pada masa kerajaan, rakyat diperintah oleh raja yang merupakan bangsa Indonesia. Pada masa pemerintahan Kolonial barat, rakyat diperintah oleh bangsa asing. Kekuasaan bangsa Indonesia untuk mengatur bangsanya semakin hilang, digantikan dengan kekuasaan bangsa barat. Perubahan inilah yang paling penting untuk diperjuangkan. Tanpa kemerdekaan, bangsa Indonesia sulit mengatur dirinya sendiri.

 

Perubahan dalam system politik juga terjadi dengan dikenalnya system pemerintahan baru. Pada masa kerajaan dikenal raja dan bupati, sementara itu pada masa pemerintahan colonial Barat dikenal Gubernur Jenderal, residen, Bupati dan seterusnya. Para penguasa kerajaan menjadi kehilangan kekuasaannya, digantikan dengan kekuasaan pemerintahan colonial Barat.

 

Terbentuknya pemerintahan Hindia Belanda di satu sisi menguntungkan bangsa Indonesia. Pemerintah Hindia Belanda yang terpusat menyebabkan hubungan yang erta antara rakyat Indonesia dari berbagai daerah. Muncul perasaan senasib dan sepenanggungan dalam bingkai Hindia Belanda.

 

Munculnya berbagai organisasi pergerakan tidak lepas dari ikatan politik Hindia belanda. Sebelum masa penjajahan Hindia belanda, masyarakat Indonesia terkotak – kotak oleh system politik kerajaan. Terdapat puluhan kerajaan di berbagai daerah di Indonesia. Pada masa pemerintah Hindia Belanda, berbagai daerah tersebut disatukan dalam satu identitas, yaitu Hindia belanda.

 

10.   Perubahan Dalam Aspek Budaya.

Berbagai perubahan budaya pada masa penjajahan Belanda adalah dalam seni bangunan, tarian, cara berpakaian, bahasa dan Teknologi.

 

Seni Bangunan dengan Gaya Eropa dapat ditemukan diberbagai kota di Indonesia. Masa penjajahan belanda berpengaruh terhadap teknologi dan seni bangunan di Indonesia. teknologi bangunan modern dikenalkan bangsa barat diberbagai wilayah di Indonesia.

 

Perubahan kesenian juga terjadi terutama di masyarakat perkotaan yang mulai mengenal tarian – tarian barat. Kebiasaan dansa dan minum minuman yang dikenalkan para pejabat Belanda berpengaruh pada perilaku sebagian masyarakat Indonesia.

 

Dalam aspek budaya juga terjadi perubahan kehidupan beragama masyarakat Indonesia. Pengaruh colonial yang lain adalah penyebaran agama Kristen di Indonesia.

 

Agama Kristen diprediksi sampai di Indonesia sejak zaman kuno melalui jalur pelayaran. Menurut Cosmas Indicopleustes dalam bukunya “ Topographica Christiana”, pada abad VI sudah ada komunitas Kristiani di India Selatan, di Pantai Malabar dan di Srilanka. Dari Malabar itu, agama Kristen menyebar ke berbagai daerah. Pada tahun 650, agama Kristen sudah mulai berkembang di Kedah (di Semenanjung Malaya) dan sekitarnya. Pada abad IX, kedah berkembang menjadi pelabuhan dagang yang sangat ramai di jalur pelayaran yang menghubungkan India – Aceh – Barus – Nias melalui Selat Sunda – laut jawa dan selanjutnya ke Tiongkok. Jalur inilah disebut – sebut sebagai jalur penyebaran agama Kristen dari India ke Nusantara.

Penyebaran Agama Kristen menjadi lebih intensif lagi seiring dengan datangnya bangsa – bangsa Barat ke Indonesia pada abad XVI. Kedatangan bangsa – bangsa barat itu semakin memantapkan dan mempercepat penyebaran Agama Kristen di Indonesia. Orang – orang Portugis menyebarkan agama Kristen katolik. Orang – orang Belanda membawa Agama Kristen Protestan.

 

Penyebar Agama Kristen di Indonesia adalah para pastor seperti Fransiskus Xaverius dari Ordo Serikat Yesus. Pastor ini aktif mengunjungi desa-desa di sepanjang pantai Leitimor, kepulauan Lease, Pulau Ternate, Halmahera Utara dan Kepulauan Morotai. Usaha penyebaran agama Katolik ini kemudian dilanjutkan oleh pastor – pastor yang lain. Selanjutnya di Nusa tenggara Timur, seperti Flores, Solor, Timor, agama Katolik berkembang dengan baik sampai sekarang.

 

Agama Kristen Protestan berkembang di Kepulauan Maluku terutama setelah VOC menguasai Ambon, yang dipelopori Zending. Penyebaran Agama Kristen ini juga semakin intensif saat Raffles berkuasa di Indonesia. Agama Katolik dan kemudian juga Kristen Protestan berkembang pesat di Indonesia bagian timur.

 

Pengaruh lainnya dalam bidang budaya adalah pakaian, bahasa, makanan dan jenis pekerjaan baru. Pakaian gaya Eropa tidak hanya berpengaruh dalam lingkungan keratin, tetapi juga masyarakat luas.

 

b.   Perubahan Masyarakat Pada Masa Penjajahan Jepang.

1.    Perubahan Dalam Aspek Geografi.

Adanya eksploitasi kekayaan alam menjadi ciri penting pada masa pendudukan Jepang. Misi untuk memenangkan Perang Dunia II mendorong Jepang menjadikan Indonesia sebagai salah satu basisnya menghadapi tentara Sekutu. Jepang banyak membutuhkan dukungan dalam menghadapi PD II. Lahan perkebunan yang ada pada masa Hindia Belanda merupakan lahan yang menghasilkan untuk jangka waktu lama. Jepang menggerakkan tanaman rakyat yang mendukung Jepang dalam Perang Dunia II. Tanaman Jarak dikembangkan sebagai bahan produksi minyak yang dibutuhkan sebagai mesin perang.

 

Kesengsaraan pada masa pendudukan Jepang menyebabkan besarnya angka kematian. Migrasi terjadi terutama untuk mendudkung perang Jepang menghadapi Sekutu. Banyak rakyat Indonesia yang ikut dalam Romusha ataupun membantu pasukan Jepang di beberapa negara Asia Tenggara untuk membantuperang jepang. Sebagian dari mereka tidak kembali atau tidak diketahui nasibnya. Menurut catatan sejarah, jumlah tenaga kerja yang dikirim ke luar Jawa, bahkan ke luar negeri seperti Burma, Malaya, Vietnam dan Muangthai / Thailand mencapai 300.000 orang. Ratusan ribu orang tersebut banyak yang tidak diketahui nasibnya setelah Perang Dunia II usai.

 

2.    Perubahan Dalam Aspek Ekonomi.

Sistem ekonomi perang Jepang membawa kemunduran dalam bidang perekonomian di Indonesia. Putusnya hubungan dengan perdagangan dunia mempersempit kegiatan perekonomian di Indonesia. Perkebunan tanaman ekspor diganti menjadi lahan pertanian untuk kebutuhan sehari – hari.

 

Pembatasan ekspor menyebabkan sulitnya memperoleh bahan pakaian. Maka, rakyat Indonesia pun mengusahakannya sendiri. Pakaian yang terbuat dari benang goni menjadi tren pada masa pendudukan Jepang.

 

Wajib setor padi dan tingginya pajak pada masa pendudukan Jepang menyebabkan terjadinya kemiskinan luar biasa. Angka kematian sangat tinggi. Sebagai contoh, di Kabupaten Wonosobo Jawa Tengah angka kematian mencapai 50 %. Kematian yang luar biasa berdampak pada penyakit – penyakit sosial lainnya. Gelandangan, pengemis, kriminalitas, semakin berkembang akibat lemahnya kekuatan ekonomi rakyat.

3.    Perubahan Dalam Aspek Pendidikan.

Kegiatan pendidikan dan pengajaran menurun. Sebagai contoh, gedung sekolah dasar menurun dari 21.500 menjadi 13.500 buah, Gedung sekolah lanjutan menurun dari 850 menjadi 20 buah. Kegiatan perguruan tinggi macet. Sementara itu, pengenalan budaya Jepang dilakukan diberbagai sekolah di Indonesia. Bahas Indonesia dapat menjadi bahasa pengantar diberbagai sekolah di Indonesia. Adapun bahasa Jepang menjadi bahasa utama di sekolah – sekolah.

 

Tradisi budaya Jepang dikenalkan di sekolah – sekolah mulai tingkat rendah. Para siswa harus digembleng agar bersemangat Jepang (Nippon Seshin). Para pelajar juga harus menyanyikan lagu Kimigayo (Lagu kebangsaan Jepang) dan lagu – lagu lain, menghormati bendera Hinomura serta melakukan gerak badan (taiso) dan Seikerei.

 

4.    Perubahan Dalam Aspek Politik.

Propaganda Jepang berhasil mempengaruhi masyarakat Indonesia. Dengan alasan untuk membebaskan Indonesia dan penjajahan Belanda, Jepang mulai mendapat simapti rakyat. Dengan kebijakan yang kaku dank eras, secara politik organisasi pergerakan yang pernah ada sulit mengembangkan aktivitasnya. Bahkan, jepang melarang dan membubarkan semua organisasi pergerakan politik yang pernah ada di masa colonial belanda. Hanya MIAI yang kemudian diperbolehkan hidup karena organisasi ini dikenal sangat anti budaya barat (Belanda). Kompetisi selalu memata-matai gerak-gerik organisasi pergerakan nasional. Akibatnya, muncul gerakan-gerakan bawah tanah.

 

Jepang berusaha mendapatkan simpati dan dukungan rakyat dan tokoh – tokoh Indonesia atas kekuasaannya di Indonesia. Akibatnya, hal ini menimbulkan beragam tanggapan dari para tokoh pergerakan nasional. kelompok pertama adalah kelompok yang masih mau bekerja sama dengan jepang, tetapi tetap menggelorakan pergerakan nasional. Para tokoh ini adalah mereka yang muncul dalam berbagai organisasi bentukan jepang. Adapun kelompok kedua adalah mereka yang tidak mau bekerja sama dengan pemerintah jepang dan melakukan gerakan bawah tanah.

 

Pada masa akhir pendudukan Jepang, terjadi revolusi politik di Indonesia, yakni kemerdekaan Indonesia. Peristiwa proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945 menjadi momen penting perjalanan sejarah Indonesia selanjutnya. Kemerdekaan telah membawa perubahan masyarakat dalam segala bidang.

 

5.    Perubahan Dalam Aspek Budaya.

Jepang berusaha “Menjepangkan” Indonesia. Ajaran Shintoisme diajarkan pada masyarakat Indonesia. Kebiasaan menghormat matahari dan menyanyikan lagu Kimigayo merupakan salah satu pengaruh pada masa pendudukan Jepang. Pengaruh budaya ini menimbulkan perlawanan masyarakat pada masa pendudukan Jepang. Pengaruh budaya ini menimbulkan perlawanan di berbagai daerah.

 

Perkembangan Bahasa Indonesia pada masa pendudukan jepang mengalami kemajuan. Pada tanggal 20 Oktober 1943, atas desakan dari beberapa tokoh Indonesia, didirikanlah Komisi (Penyempurnaan) Bahasa Indonesia. Tugas Komisi adalah menentukan istilah – istilah modern dan menyusun suatu tata bahasa normative serta menentukan kata – kata yang umum bagi bahas Indonesia.

 

 

Materi Kelas 7

KISI-KISI UJIAN AKHIR SEMESTER GANJIL KELAS 8

  Hai! Sahabat IPS, senang berjumpa lagi!!! Kali ini saya posting kisi-kisi ujian akhir semester ganjil kelas 7 mata pelajaran IPS   KISI-...