3.3 Memahami
keunggulan dan keterbatasan ruang dalam penawaran dan permintaan, teknologi serta
pengaruhnya terhadap interaksi antarruang bagi kegiatan ekonomi, sosial, budaya, di
Indonesia dan negara-negara ASEAN.
A. Keunggulan
dan Keterbatasan Antarruang serta Peran Pelaku Ekonomi dalam Suatu Perekonomian
1. Menjelaskan
keunggulan dan keterbatasan antarruang dalam permintaan, penawaran, teknologi;
Barang dan jasa yang dibutuhkan manusia
sebagian besar dihasilkan oleh manusia, dan hanya sebagian kecil yang
disediakan langsung oleh alam. Oleh karena itu, manusia harus melakukan
kegiatan untuk menghasilkan barang dan jasa yang biasa disebut dengan istilah
produksi.
Sebagai negara tropis yang memiliki ribuan
pulau dan lautan yang luas, Indonesia mempunyai kekayaan alam yang cukup
banyak. Di daratan, suhu dan curah hujan yang tinggi memungkinkan penduduknya
menanam berbagai macam barang pertanian dan perkebunan. Curah hujan yang tinggi
juga menjamin tersedianya air untuk kepentingan budidaya perikanan darat.
Indonesia juga memiliki laut yang luas dan garis pantai yang sangat panjang.
Potensi ikan di Indonesia cukup banyak.
Indonesia merupakan salah satu negara
penghasil tambang terbesar di dunia. Pengelolaan tambang-tambang tersebut masih
didominasi pihak asing. Kondisi tersebut mengakibatkan tingginya pemasukan
negara dari sektor pertambangan. Pengelolaan sumber daya alam membutuhkan
sumber daya manusia yang baik serta penguasaan teknologi yang unggul. Apakah
saat ini Indonesia sudah memiliki kedua hal tersebut? Bagaimanakah upaya yang
harus kita lakukan agar negara Indonesia mampu mengelola sumber daya secara
mandiri? Diskusikan dengan teman kalian!
2. Menjelaskan
pengertian pelaku ekonomi;
Pelaku
ekonomi adalah orang/lembaga yang melakukan kegiatan ekonomi baik produksi,
konsumsi maupun distribusi.
3. Mendeskripsikan
4 (empat) macam pelaku ekonomi;
Ada 4 macam pelaku ekonomi yaitu: RTK
(Rumah Tangga Keluarga/Konsumen), RTP (Rumah Tangga Perusahaan/Produsen), Rumah
Tangga Pemerintah dan Rumah Tangga Luar Negeri. Keempat rumah tangga tersebut
berperan penting dalam menggerakkan perekonomian suatu daerah atau negara. RTK
berperan dalam melakukan kegiatan konsumsi, RTP berperan dalam melakukan
kegiatan produksi, sedangkan Rumah tangga pemerintah berperan untuk mengatur,
mengendalikan, serta mengadakan control terhadap jalannya roda perekonomian.
Hasil produksi di dalam negeri sebagian digunakan untuk memenuhi kebutuhan
dalam negeri dan sebagian lagi dijual ke luar negeri (ekspor) untuk memenuhi
kebutuhan masyarakat luar negeri. Disamping itu, untuk memenuhi kebutuhan
barang dan jasa di dalam negeri diperlukan barang dan jasa dari luar negeri
(impor). Lembaga/orang yang melakukan kegiatan ekspor dan impor adalah Rumah
Tangga Luar Negeri.
4. Mengidentifikasi
peran pelaku ekonomi;
a. Peran
Rumah Tangga Keluarga/Rumah Tangga Konsumen (RTK)
Rumah tangga konsumen adalah kelompok
masyarakat yang melakukan kegiatan konsumsi barang dan jasa untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya. Rumah tangga konsumen membutuhkan barang dan jasa yang
dihasilkan oleh rumah tangga perusahaan. rumah tangga keluarga/konsumen harus
memiliki pendapatan. Pendapatan rumah tangga keluarga diperoleh dari penggunaan
faktor produksi yang dimilikinya.
Pendapatan rumah tangga keluarga terdiri
atas:
1) Sewa (rent), yaitu balas jasa yang diterima
rumah tangga keluarga karena telah menyewakan tanahnya kepada perusahaan.
2) Upah (wage), yaitu balas jasa yang diterima
rumah tangga keluarga karena telah mengorbankan tenaganya untuk bekerja pada
perusahaan dalam kegiatan produksi.
3) Bunga (interest), yaitu balas jasa yang
diterima rumah tangga keluarga karena telah meminjamkan sejumlah dana untuk
modal usaha perusahaan dalam kegiatan produksi.
4) Laba/keuntungan (profit), yaitu balas jasa
yang diterima rumah tangga keluarga karena telah memberikan kontribusi berupa
tenaga dan pikirannya dalam mengelola perusahaan sehingga perusahaan memperoleh
laba.
Peran rumah tangga
konsumen adalah sebagai:
1). Pemakai (konsumen) barang dan jasa yang
dihasilkan perusahaan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
2). Pemasok faktor produksi kepada rumah tangga
perusahaan untuk melakukan proses produksi.
b. Peran
Rumah Tangga Perusahaan/Rumah Tangga Produsen (RTP)
Rumah tangga perusahaan atau biasa disebut
sebagai produsen merupakan pelaku ekonomi yang berperan sebagai penyedia barang
dan jasa bagi konsumen Peran pertama dari rumah tangga perusahaan adalah
memproduksi barang/jasa.
Barang/jasa yang dihasilkan perusahaan
kemudian ditawarkan kepada konsumen atau pembeli.
Rumah tangga produsen di Indonesia
dikelompokkan menjadi Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milik Swasta
(BUMS), dan Koperasi. Dalam perekonomian, rumah tangga perusahaan berperan
sebagai produsen sekaligus pengguna faktor produksi
Hubungan antara rumah tangga
keluarga/konsumen dan rumah tangga perusahaan/konsumen dapat kalian amati pada
Gambar: Arus lingkar kegiatan ekonomi 2 sektor di bawah ini.
c. Peran Rumah Tangga Pemerintah
1) Pengatur
atau Regulator dalam Perekonomian
Pemerintah berperan sebagai pengatur atau regulator dalam perekonomian
suatu negara. Perekonomian harus diatur sehingga perekonomian dapat
menyejahterakan masyarakat secara adil dan merata.
2) Konsumen
Rumah tangga pemerintah juga memiliki peran
sebagai konsumen. Dalam menjalankan fungsinya sebagai pengatur, pemerintah
membutuhkan sarana dan prasarana penunjang, yang dibeli dari rumah tangga
perusahaan/produsen. Contohnya, kantor dinas pendidikan, untuk
menjalankan aktivitasnya sehari-hari, membutuhkan kertas, printer, dan tinta.
3) Produsen
Selain sebagai konsumen, pemerintah juga
berperan sebagai produsen. Dalam menjalankan perannya sebagai produsen,
pemerintah memproduksi barang atau jasa. Rumah tangga produsen di negara kita
salah satunya berbentuk BUMN (Badan Usaha Milik Negara).Contoh Badan Usaha
Milik Negara adalah PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan PLN (Perusahaan Listrik
Negara).
d. Peran Rumah Tangga Luar Negeri
Peran masyarakat luar negeri dalam
perekonomian terlihat nyata dalam perdagangan internasional.
Contoh perdagangan internasional: Indonesia
mengekspor produk tekstil ke negara Jepang, dan Jepang mengekspor
kendaraan bermotor ke Indonesia.
e. Sumber pendapatan RTK
1. RTK menyediakan faktor produksi
alam, imbalannya RTK mendapat balas jasa berupa sewa
2. RTK menyediakan faktor produksi
modal imbalannya RTK mendapat balas jasa berupa bunga
3. RTK menyediakan faktor produksi
tenaga kerja imbalannya RTK mendapat balas jasa berupa gaji
4. RTK menyediakan faktor produksi
kewirausahaan imbalannya mendapat balas jasa berupa laba
f. Jenis-jenis faktor-faktor produksi:
1. Alam
Faktor produksi alam adalah
segala sesuatu yang disediakan oleh alam yang dapat digunakan sebagai faktor
pendukung produksi barang dan jasa. Pemilik lahan berperan sebagai pemasok
faktor produksi alam kepada perusahaan. Sebagai imbalannya, ia akan mendapat
balas jasa berupa sewa atas faktor produksi yang ditawarkan.
2. Modal
Faktor produksi modal tidak
selalu berwujud uang tapi bisa berupa barang modal seperti mesin, gedung, serta
alat-alat yang digunakan dalam proses produksi. RTK yang meminjamkan faktor
produksi modal dalam bentuk uang akan memperoleh balas jasa berupa bunga.
3. Tenaga Kerja
RTK yang memiliki faktor
produksi tenaga kerja akan memperolah balas jasa berupa gaji/upah. Contoh
faktor produksi tenaga kerja adalah guru, dokter, teknisi, resepsionis, dll.
4. Keahlian/kewirausahaan
Kewirausahaan
adalah kemampuan mengatur, mengorganisasikan, serta mengambil resiko dalam
menjalankan usaha. Keistimewaan dari kewirausahaan terletak kreativitas dan
inovasi. Pelaku kewirausahaan adalah wirausahawan. RTK yang memiliki faktor
produksi kewirausahaan akan mendapat balas jasa berupa keuntungan/laba.
B. Perdagangan Antardaerah atau Antarpulau dan Perdagangan
Internasional
1. Menjelaskan pengertian perdagangan antardaerah/pulau dengan tepat
Perdagangan atau perniagaan merupakan
kegiatan tukar menukar barang atau jasa berdasarkan kesepakatan bersama tanpa
ada unsur pemaksaan. Perdagangan antardaerah atau antarpulau merupakan
perdagangan yang dilakukan oleh penduduk/lembaga suatu daerah atau pulau dengan
penduduk/lembaga suatu daerah atau pulau lain dalam satu batas wilayah negara
atas dasar kesepakatan bersama.
2. Menjelaskan
tujuan perdagangan antarpulau dengan benar
1) Memperoleh Keuntungan
Tujuan utama dilakukan perdagangan
antarpulau adalah untuk memperoleh keuntungan. Keuntungan diperoleh dari
selisih antara harga beli dengan harga jual. Jika barang diproduksi sendiri,
maka keuntungan diperoleh dari selisih antara harga jual dan biaya produksi.
2) Memperluas Jangkauan Pasar
Perdagangan sampai ke luar daerah
atau luar pulau dapat memperluas jangkauan pasar. Jangkauan pasar yang dimaksud
adalah jumlah konsumen yang mengonsumsi barang tersebut semakin banyak dan
tersebar di berbagai daerah.
3. Mengidentifikasi
faktor pendorong perdagangan antarpulau/antardaerah secara benar
a) Perbedaan
Faktor Produksi yang Dimiliki
perbedaan faktor produksi yang dimiliki terutama faktor alam menjadi
pendorong timbulnya perdagangan antar pulau/antardaerah. Contoh: Kab. Bima –
NTB merupakan daerah penghasil Bawang merah dan dijual ke daratan pulau Flores.
Manggarai merupakan daerah penghasil kopi dan kemiri, lalu dikirim ke daerah
pulau Jawa.
b) Perbedaan Tingkat Harga
Antardaerah
Selain perbedaan kekayaan
alam, tingkat harga juga mempengaruhi perdagangan antarpulau/daerah. Contoh
daerah pesisir pantai merupakan daerah penghasil ikan laut yang harganya cukup
murah lalu ikan tersebut dijual ke daerah pedalaman dengan harga yang cukup
mahal.
4. Mengidentifikasi
manfaat perdagangan antarpulau/antardaerah secara benar
a) Menyediakan
alternatif alat pemuas kebutuhan bagi konsumen
b) Meningkatkan
produktivitas
c) Memperluas
kesempatan kerja bagi masyarakat
5. Menjelaskan
pengertian perdagangan antarnegara/internasional dengan benar
Perdagangan antarnegara yang dimaksud adalah individu
atau lembaga dari negara kita yang menjual atau membeli barang dari
individu atau badan yang ada di luar negeri. Terjadinya aktivitas
perdagangan antaranegara akan menimbulkan aktivitas yang dinamakan ekspor
dan impor.
Perdagangan antarnegara atau sering disebut
perdagangan internasional merupakan aktivitas
perdagangan yang dilakukan oleh masyarakat suatu negara dengan masyarakat negara lain atas dasar kesepakatan bersama
6. Menjelaskan
ruang lingkup perdagangan antarnegara/internasional secara tepat;
1. Perpindahan barang/jasa dari suatu negara ke
negara lain
2. Perpindahan modal melalui investasi asing
dari luar negeri ke dalam negeri
3. Perpindahan tenaga kerja dari suatu negara
ke negara lain
4. Perpindahan teknologi dengan mendirikan
pabrik-pabrik di negara lain
5. Penyampaian informasi tentang kepastian
adanya bahan baku dan pangsa pasar
7. Mengidentifikasi
aktivitas perdagangan antarnegara secara tepat;
1) Ekspor
Ekspor merupakan kegiatan menjual barang atau produk
ke luar negeri. Ekspor dilakukan oleh seseorang atau badan. Pelaku ekspor
ini disebut eksportir. Tujuan utama kegiatan ekspor adalah untuk
memperoleh keuntungan. Barang yang diekspor akan dibayar oleh pihak
pembeli dengan alat pembayaran berupa mata uang asing atau mata uang luar
negeri, seperti Dollar. Mata uang asing ini ditampung oleh pemerintah
dan disebut sebagai devisa negara. Devisa yang terkumpul akan digunakan
untuk membiayai impor.
2) Impor
Impor merupakan kegiatan membeli barang dari luar
negeri. Seseorang atau badan yang melakukan impor disebut importir.
Seorang importir membayar barang yang ia beli dengan mata uang
asing.Barang-barang yang di impor oleh Indonesia terdiri dari dua macam,
yaitu migas dan non-migas. Barang-barang yang termasuk dalam kelompok
migas antara lain minyak tanah, bensin, solar, dan elpiji. Adapun
barang-barang yang termasuk dalam kelompok non-migas antara lain adalah
karet, kopi, ikan, kayu
8. Mengidentifikasi
kebijakan pemerintah untuk mendorong ekspor secara cermat;
1) Memberi
Kemudahan Kepada Produsen Barang Ekspor
2) Menjaga
Kestabilan Nilai Tukar Rupiah
3) Membuat
Perjanjian Dagang Internasional
4) Meningkatkan
Promosi
9. Menjelaskan
faktor pendorong ekspor secara tepat;
1) Keadaan
Pasar Luar Negeri
Besar atau kecilnya permintaan dan penawaran dari
berbagai negara dapat memengaruhi harga di pasar dunia.
2) Keuletan
Eksportir untuk Menangkap Peluang Pasar
Seorang
eksportir harus pandai menangkap dan memanfaatkan peluang pasar
3) Kondisi
Sosial, Ekonomi, Politik Suatu Negara
Bidang ekonomi, sosial, dan politik merupakan
bidang yang terkait satu sama lain. Ketika ada ketidakstabilan pada salah
satu bidang, maka bidang lain akan terpengaruh.
10. Mengidentifikasi
manfaat perdagangan antarnegara secara cermat;
1) Memperoleh
Keuntungan
2) Memperoleh
Barang yang Tidak Dapat Diproduksi di dalam Negeri
3) Menjalin
Persahabatan Antarnegara
4) Transfer
Teknologi Modern
11. Menjelaskan
faktor pendorong perdagangan antarnegara secara cermat;
1) Untuk memenuhi kebutuhan barang dan jasa
dalam negeri.
2) Keinginan memperoleh keuntungan dan
meningkatkan pendapatan negara.
3) Adanya perbedaan kemampuan penguasaan ilmu pengetahuan
dan teknologi dalam mengolah sumber daya ekonomi.
4) Adanya kelebihan produk dalam negeri sehingga
perlu pasar baru untuk menjual produk tersebut.
5) Adanya perbedaan keadaan seperti sumber daya
alam, iklim, tenaga kerja, budaya, dan jumlah penduduk yang menyebabkan
adanya perbedaan hasil produksi dan adanya keterbatasan produksi.
6) Keinginan membuka kerja sama, hubungan
politik, dan dukungan dari negara lain.
7) Terjadinya
era globalisasi sehingga tidak satu negara pun di dunia dapat hidup sendiri
12. Menjelaskan
perbedaan perdagangan antar pulau dengan perdagangan antarnegara secara tepat.
Ada tiga perbedaan utama antara perdagangan
antarnegara dan perdagangan
domestik/perdagangan antarpulau,
yaitu sebagai berikut.
1) Peluang
Perdagangan yang Lebih Luas
Pada perdagangan antarnegara, suatu negara
dapat menjual barang/jasanya ke negara lain dan bisa membeli barang/jasa
dari negara lain. Dalam perdagangan antarpulau, kita hanya dapat melakukan
perdagangan antardaerah atau pulau dalam lingkup satu negara. Jika tidak
ada perdagangan antarnegara, orang Indonesia tidak bisa memiliki mobil,
orang Amerika belum dapat makan pisang, seluruh dunia tidak dapat
menikmati film Hollywood, dan lain sebagainya.
2) Adanya
Kedaulatan Bangsa
Pada perdagangan antarnegara, bangsa-bangsa
dapat mengatur aliran barang/ jasa, tenaga kerja, dan keuangan.
Negara-negara menunjukkan kedaulatannya di sini. Sementara di perdagangan
domestik, aliran perdagangan berjalan secara bebas tanpa regulasi yang
berarti dari negara.
3) Penggunaan
Kurs Tukar
Dalam melakukan perdagangan
antarnegara negara-negara menggunakan kurs tukar yang berbeda-beda.
13.Teori Perdagangan Internasional
Perdagangan internasional adalah
perdagangan atau pertukaran suatu barang, jasa, sumber daya yang dilakukan
suatu negara dengan negara lainnya melalui perjanjian atau kerjasama yang sudah
disepakati sebelumnya. Dengan adanya perdagangan internasional membuat
munculnya teori -- teori yang mendasari penyebab terjadinya kegiatan
perdagangan internasional.
·
Teori keunggulan mutlak (Absolute Advantage). Di pelopori oleh Adam
Smith.
Teori ini
menyatakan bahwa perdagangan internasional akan memberikan keuntungan pada
negara yang dapat memproduksi dengan harga yang lebih rendah dibandingkan
dengan harga yang ditetapkan di negara lain. Ilustrasi akan diberikan pada
tabel di bawah ini:
Karena negara A memiliki efisiensi
dalam memproduksi buku sementara negara B memiliki efisiensi dalam memproduksi
pensil, maka perdagangan antara negara A dan B akan memberikan keuntungan jika
A menjual buku dan B menjual pensil
·
Teori keunggulan
komparatif (Comparative Advantage).
Berdasarkan teori ini,
meskipun suatu negara tidak memiliki keunggulan mutlak dalam memproduksi
barang, negara tersebut dapat melakukan perdagangan internasional pada barang
yang paling produktif dan efisien untuk diproduksi. Ilustrasinya akan dibahas
pada tabel berikut ini:
Jika kita lihat
pada dasarnya negara A memiliki keunggulan baik dalam produksi pensil maupiun
buku. Meskipun demikian, biaya relatif pensil yang diproduksi di negara A lebih
besar dibandingkan negara B (1 pensil di negara A = 2 buku di negara A,
sementara 1 pensil di negara B = 1 buku negara B). Oleh karenanya negara A dan
B dapat melakukan perdagangan, dengan A memproduksi buku dan B memproduksi pensil.
Bentuk perdagangan
internasional
·
Perdagangan bilateral
Adalah perdagangan yang dilakukan antar dua negara
·
Perdagangan regional
Adalah perdagangan yang dilakukan oleh negara-negara yang berada pada lingkup
kawasan tertentu, misalnya ASEAN, negara uni Eropa
·
Perdagangan multilateral
Adalah perdagangan antar negara tanpa dibatasi kawasan tertentu
Faktor pendorong
perdagangan internasional
· Ketersediaan sumber daya alam
Tidak semua negara merupakan penghasil rempah-rempah, atau tidak semua
negara merupakan penghasil bahan tambang
· Perbedaan faktor
produksi
Meskipun memiliki sumber daya melimpah, tidak semua negara memiliki modal dan pengetahuan untuk mengolah sumber daya alam tersebut
· Dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri
Tidak semua kebutuhan dalam negeri dapat dipenuhi dengan produksi dalam
negeri.
· Memperoleh keuntungan dari perdagangan antar negara
Keuntungan yang diperoleh meningkat karena semakin besarnya pangsa pasar
dari barang yang diproduksi
·
Keinginan untuk memperluas pasar
Perluasan pasar diperlukan untuk mencapai skala ekonomis dalam berproduksi
·
Keinginan melakukan kerjasama dengan negara lain
Perdagangan internasional dapat menjadi salah satu cara yang dilakukan untuk
mempererat hubungan dengan negara lain sehingga kerjasama dalam bidang lain
dapat tercipta
Manfaat perdagangan
internasional
·
Memperoleh barang yang tidak dapat diproduksi di
negara sendiri
Masyarakat negara Indonesia dapat mengkonsumsi kurma walaupun tidak dapat
tumbuh di Indonesia
·
Memperluas pasar sehingga meningkatkan efisiensi
produksi
Dengan adanya perdagangan internasional maka pasar untuk barang yang diproduksi
di suatu negara akan bertambah sehingga akan meningkatkan skala ekonomis
sehingga biaya produksi semakin murah
·
Memperoleh keuntungan dari spesialisasi
Walau pun A negara dapat memproduksi barang X yang juga diproduksi di negara B,
negara A dapat melakukan spesialisasi pada barang lain yang lebih efisien
diproduksi dan mengimpor barang X dari negara B.
·
Sebagai sumber devisa negara
Adanya perdagangan internasional akan memberikan devisa pada negara yang
menjual barang ke luar negeri. Devisa ini dapat digunakan untuk membeli barang
dari luar negeri yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
·
Mendorong alih teknologi
Dengan melakukan perdagangan dengan negara maju, negara berkembang dapat
mempelajari teknologi yang digunakan, sehingga mendorong peningkatan
pengetahuan akan teknologi di negara berkembang.
C. Penguatan
Ekonomi Maritim dan Agrikultur di Indonesia
1.
Menganalisis model penguatan ekonomi maritim
a. Potensi Ekonomi Maritim
Indonesia
Ekonomi kelautan (marine economy)
merupakan kegiatan ekonomi yang dilakukan di wilayah pesisir dan lautan serta
di darat yang menggunakan sumber daya alam (SDA) dan jasa-jasa lingkungan
kelautan untuk menghasilkan barang dan jasa. Ekonomi maritim (maritime economy)
merupakan kegiatan ekonomi yang mencakup transportasi laut, industri galangan
kapal dan perawatannya, pembangunan dan pengoperasian pelabuhan beserta
industri dan jasa terkait.75% dari total wilayah Indonesia terdiri dari wilayah
perairan/lautan. Wilayah laut Indonesia yang sangat luas merupakan potensi yang
penting dan perlu dipelihara serta ditingkatkan kualitasnya. Berdasarkan
Statistik Perikanan Tahun 2012 dari Food and Agriculture Organization (FAO),
Indonesia merupakan negara peringkat kedua dalam produksi perikanan tangkap dan
peringkat keempat dalam produksi perikanan budidaya. Indonesia juga merupakan
negara kedua dalam hal banyaknya jumlah kapal yang dimiliki setelah Tiongkok
b. Kondisi Ekonomi Maritim di
Indonesia dan Negara-Negara ASEAN
Pembangunan
di bidang kelautan diarahkan untuk mencapai empat tujuan, yakni:
1) Pertumbuhan ekonomi tinggi secara
berkelanjutan.
2) Peningkatan kesejahteraan seluruh pelaku
usaha, khususnya para nelayan,ikan, dan masyarakat kelautan lainnya yang
berskala kecil.
3) Terpeliharanya kelestarian lingkungan dan
sumber daya kelautan.
4) Menjadikan laut sebagai pemersatu dan tegaknya
kedaulatan bangsa
Kondisi ekonomi maritim di Indonesia, dilihat
dari:
a) Sektor
Pelayaran
Industri pelayaran merupakan
infrastruktur dan tulang punggung kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun
dalam realita, industri pelayaran nasional saat ini dalam kondisi belum begitu
baik. Ditinjau dari segi daya saing, pangsa muatan armada kapal nasional masih
tergolong rendah
b) Sektor
Perikanan
Potensi sektor perikanan Indonesia
sangat besar dan sepantasnya Indonesia menjadi negara industri perikanan
terbesar di Asia
c) Sektor
Pariwisata Bahari
Pengembangan pariwisata bahari
diyakini dapat mempunyai efek berganda (multiplier effect) yang dapat menyerap tenaga kerja, meningkatkan
pendapatan masyarakat, mendatangkan
wisatawan yang berasal dari luar negeri (devisa).
c. Strategi dan Kebijakan
Pengembangan Ekonomi Maritim di Indonesia
Pengembangan ekonomi maritim sangat
diperlukan mengingat besarnya potensi ekonomi maritim yang kita
miliki.Kebangkitan ekonomi kelautan Indonesia ditandai dengan perubahan
paradigma pembangunan nasional, dari pembangunan berbasis daratan (land-based
development) menjadi pembangunan berbasis kelautan (ocean-based development).
Bentuk kebijakan lain di bidang ekonomi maritim adalah dalam menyambut ASEAN
Connectivity, Indonesia menyiapkan lima pelabuhan besar.Lima pelabuhan yang
dimaksud adalah Pelabuhan Belawan di Sumatra Utara, Pelabuhan Tanjung Priok di
Jakarta, serta pelabuhan-pelabuhan di Surabaya, Makassar, dan Kalimantan. Dari
47 pelabuhan yang akan dikembangkan di ASEAN, 14 di antaranya ada di Indonesia.
2.
Menganalisis model penguatan agrikultur
Ekonomi agrikultur merupakan upaya
peningkatan perekonomian dengan memberdayakan sektor pertanian. Agrikultur
merupakan kegiatan pemanfaatan sumber daya hayati yang dilakukan manusia untuk
menghasilkan bahan pangan, bahan baku industri, sumber energi, atau untuk mengelola
lingkungan hidupnya
a. Potensi Agrikultur di Indonesia
Salah satu produk pertanian Indonesia
yang berpotensi menjadi andalan adalah produk pertanian segar dalam bentuk
buahbuahan dan sayuran. Produk lain yang turut menjadi andalan adalah rempah-rempah
dan Bahan Bakar Nabati (BBN). Di bidang tanaman pangan, Indonesia memiliki
tanaman unggul, seperti padi, kedelai, kacang tanah, ubi kayu, dan berbagai
varietas yang lain. Sektor pertanian menyerap 35.9% dari total angkatan kerja
di Indonesia dan menyumbang 14.7% bagi pendapatan nasional Indonesia (BPS:
2012).
b. Peran Agrikultur di Indonesia
Pembangunan agrikultur atau pertanian
di Indonesia mempunyai peranan penting, antara lain: potensi sumber daya alam
yang besar dan beragam, pangsa terhadap pendapatan nasional yang cukup besar,
besarnya pangsa terhadap ekspor nasional, besarnya penduduk Indonesia yang
menggantungkan hidupnya pada sektor ini, perannya dalam penyediaan pangan
masyarakat dan menjadi basis pertumbuhan di pedesaan.
c. Hambatan
Pengembangan Agrikultur di Indonesia
Pengembangan di bidang agrikultur di Indonesia mempunyai beberapa
hambatan, antara lain sebagai berikut.
1) Skala
usaha pertanian pada umumnya relatif kecil;
2) Modal
terbatas;
3) Penggunaan
teknologi masih sederhana;
4) Sangat
dipengaruhi musim;
5) Pada
umumnya berusaha dengan tenaga kerja keluarga;
6) Akses
terhadap kredit, teknologi, dan pasar rendah;
7) Pasar
hasil pertanian sebagian besar dikuasai oleh pedagang-pedagang besar sehingga
akan merugikan petani;
8) Alih
fungsi lahan pertanian menjadi lahan nonpertanian;
9) Kurangnya
penyediaan benih yang bermutu bagi petani
3. Strategi
Pengembangan Agrikultur di Indonesia
a. Ekofarming
Strategi ekofarming merupakan
peningkatkan sistem budidaya di sektor pertanian yang ramah lingkungan dan
terintegrasi dengan kearifan lokal di setiap daerah di Indonesia.
b. Distribusi Pupuk Secara Merata
Strategi yang kedua ini, berupa
distribusi pupuk secara merata di seluruh wilayah Indonesia. Langkah yang
ditempuh dalam strategi ini adalah petani diminta menjumlahkan kebutuhan pupuk
untuk kebutuhan tanamnya perhektar selama satu tahun.
c. Perbaikan Irigasi
Pertanian yang berhasil tidak lepas
dari baiknya sistem irigasi yang diterapkan. Oleh karena itu, pemerintah
mengusahakan keterjaminan ketersediaan air untuk pertanian dengan perbaikan
atau pengadaan irigasi yang baik
D. Menganalisis
pendistribusian kembali (redistribusi) pendapatan nasional.
1. Menjelaskan
pengertian redistribusi pendapatan dengan benar;
Redistribusi (pendistribusian kembali)
pendapatan adalah pendistribusian kembali pendapatan masyarakat kelompok kaya
kepada masyarakat kelompok miskin baik berasal dari pajak ataupun
pungutan-pungutan lain. Redistribusi pendapatan dilakukan sebagai salah satu
bentuk jaminan sosial yang dilakukan negara kepada masyarakat
a. Redistribusi vertikal menunjuk pada transfer
uang dari orang kaya ke orang miskin.
Di sini, jaminan sosial merupakan
bentuk dukungan warga masyarakat yang kuat kepada warga masyarakat yang lemah
secara ekonomi.
b. Redistribusi horizontal adalah transfer uang
“antar-kelompok”, yaitu dari kelompok satu ke kelompok lain. Contohnya, dari
laki-laki ke perempuan, dari orang dewasa kepada anak-anak, dari remaja ke
orang tua.
2. Menganalisis program
redistribusi pendapatan dengan kritis;
a. Program
Pemberian Jaminan Akses Kebutuhan Dasar bagi Rakyat Bawah
Langkah awal dalam upaya pemerataan
pendapatan di masyarakat adalah dengan memenuhi kebutuhan rakyat terlebih
dahulu. Kebutuhan tersebut adalah mencakup kebutuhan dasar (sandang, pangan,
papan), akses kesehatan, dan pendidikan. Strategi pemenuhan kebutuhan dasar
rakyat yang dilakukan pemerintah di antaranya Bantuan Langsung Tunai (BLT)
untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari rakyat, Bantuan Tunai Bersyarat (BTB) atau
disebut juga Program Keluarga Harapan (PKH), Jaminan sosial (social security),
Bantuan Operasional Sekolah (BOS), dan Beasiswa untuk memenuhi akses pendidikan
bagi mereka yang kurang mampu, serta Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas)
untuk memenuhi kebutuhan akan kesehatan yang gratis.
b. Program Kredit Lunak dan Penjaminan Kredit
Berbasis Komunitas
Pada tanggal 5 November 2007 telah
diresmikan program Kredit Usaha Rakyat (KUR). Kebijakan ini tentunya merupakan
angin segar yang sudah lama ditunggu oleh masyarakat, khususnya usaha mikro dan
usaha kecil.
c. Pengembangan Usaha atau Industri Kecil
Upaya pemerintah dalam melaksanakan
pemberdayaan UMKM melalui penerapan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat
Mandiri Perdesaan (PNPM Mandiri Perdesaan) merupakan salah satu mekanisme
program pemberdayaan masyarakat yang digunakan PNPM Mandiri dalam upaya
mempercepat pemerataan pendapatan, penanggulangan kemiskinan, dan perluasan
kesempatan kerja di wilayah perdesaan
d. Pemerintah
Bekerja Sama dengan Swasta Lokal dan Asing untukMenjalankan Program Corporate
Social Responsibility (CSR).
Untuk keperluan tersebut, pemerintah
hendaknya melaksanakan prinsip tanggung jawab sosial yang menjadi tumpuan dan
jaminan bahwa segenap lapisan masyarakat secara keseluruhan bisa menikmati
hasil-hasil pembangunan ekonomi yang tengah dilakukan.
e. Pemerintah
Konsisten dalam Mewujudkan Kebijakan Penegakan Hukum dan Keadilan Ekonomi
Peran pemerintah sangatlah besar
sebagai pembuat strategi dan kebijakan-kebijakan dalam menciptakan pembagian
pendapatan di golongan masyarakat yang lebih merata, dan berperan secara aktif
dalam pelaksanaan program pemerataan pendapatan di masyarakat, serta secara
konsisten mewujudkan penegakan hukum sehingga dunia usaha nasional dan asing
dapat melakukan usaha secara berkesinambungan untuk menciptakan lapangan kerja
secara luas demi terciptanya pemerataan pendapatan
3. Menganalisis
strategi pendistribusian kembali pendapatan secara kritis.
Pemerintah
sebagai pembuat kebijakan telah mengusahakan beberapa hal terkait dengan
alternatif pendistribusian pendapatan, yaitu sebagai berikut.
a. Subsidi
Dalam rangka pendistribusian
pendapatan, pemerintah berupaya untuk mendorong usaha kecil dan menengah agar
tetap hidup dan memiliki daya saing. Maka dari itu, pemerintah memberikan
subsidi baik berupa potongan harga ataupun memberikan tambahan modal kepada
produsen.
|
|
Contoh subsidi pupuk kepada petani. Subsidi
pupuk dari pemerintah kepada petani dimaksudkan supaya petani dapat menekan
biaya produksi. Dengan harga pupuk yang lebih rendah, diharapkan para petani
dapat menjual hasil pertanian dengan harga yang lebih rendah sehingga dapat
bersaing.
b. Pengenaan
Pajak
Selain
pemberian subsidi, cara lain yang digunakan pemerintah untuk mendistribusikan
pendapatan adalah dengan pengenaan pajak. Terdapat banyak jenis pajak di
Indonesia, antara lain pajak penghasilan, pajak kendaraan bermotor, pajak
terhadap barang mewah, dan sebagainya. Contohnya, seseorang yang membeli mobil
mewah dari luar negeri dikenakan pajak sebesar 10% dari harga barang mewah
tersebut. Pajak penghasilan adalah pajak yang dibayarkan oleh seseorang yang
sudah berpenghasilan dengan batas minimal penghasilan sebesar angka yang telah
ditentukan pemerintah. Pajak kendaraan bermotor biasanya satu paket dengan perpanjangan
masa berlaku STNK.
Pajak merupakan sumber penerimaan
terbesar negara. Berbagai proyek pemerintah dibiayai dari hasil pembayaran
pajak dari masyarakat. Pemberian subsidi kepada masyarakat juga berasal dari
pendapatan pajak. Dengan demikian, pajak dan subsidi merupakan alat utama dalam
pendistribusian pendapatan. Pajak merupakan sejumlah uang tunai yang dibayarkan
oleh rakyat kepada negara yang sifatnya dapat dipaksakan berdasarkan
undang-undang. Pajak yang diterima pemerintah digunakan untuk membiayai
pembangunan dan hasil pembangunan inilah yang akan kembali ke rakyat.
Jadi, dalam rangka mewujudkan
pemerataan redistribusi pendapatan, pemerintah telah melakukan beberapa usaha
antara lain pemberian subsidi dan pengenaan pajak.
3.4 Menganalisis kronologi,
perubahan, dan kesinambungan ruang (geografis politik, ekonomi,
pendidikan, sosial, budaya) dari masa
penjajahan sampai tumbuhnya
semangat kebangsaan.
A. Mengidentifikasi
Latar Belakang Kedatangan Bangsa-bangsa Barat ke Indonesia.
Mengapa bangsa-bangsa Barat tertarik dengan
kekayaan Indonesia? Kekayaan apa saja yang mendorong kedatangan bangsa-bangsa
Barat ke Indonesia? Beberapa daya tarik dan faktor pendorong bangsa Barat ke
Indonesia antara lain sebagai berikut:
a. Daya Tarik Indonesia bagi
Bangsa-Bangsa Barat
Mengapa
bangsa-bangsa Barat sangat membutuhkan rempah-rempah? Indonesia dan
bangsa-bangsa di Eropa memiliki perbedaan kondisi alam. Lokasi memengaruhi
perbedaan iklim dan kondisi tanah di Indonesia dan Eropa. Hal ini mengakibatkan
hasil bumi yang diperoleh juga berbeda.
Indonesia merupakan
negara yang kaya akan hasil pertanian karena wilayah Indonesia berada pada daerah
tropis yang subur sehingga memungkinkan berbagai tanaman dapat dengan mudah
tumbuh dan berkembang, mengakibatkan bangsa barat berbondong-bondong datang ke
Indonesia.
b. Motivasi 3G (Gold, Gospel,
dan Glory)
Gold,
Gospel, Glory merupakan motivasi Bangsa-bangsa Barat melakukan penjelajahan
samudra. Terkenal dengan sebutan 3G karena memang semboyan tersebut berawalan
dengan huruf “G”, yakni Gold, Glory, dan Gospel. Apa yang dimaksud dengan Gold,
Glory, dan Gospel? Gold artinya emas, yang identik dengan kekayaan. Semboyan
ini menggambarkan bahwa tujuan bangsa Barat ke Indonesia adalah untuk mencari
kekayaan. Itulah yang membuat mereka melakukan ekspedisi dan penjelajahan.
Glory bermakna kejayaan bangsa. Gospel adalah keinginan bangsa Barat untuk
menyebarluaskan atau mengajarkan agama Nasrani khususnya agama Kristen ke
bangsa-bangsa di Asia, Afrika, dan Amerika Selatan.
c. Revolusi Industri
Revolusi
Industri adalah pergantian atau perubahan secara menyeluruh dalam memproduksi
barang dari sebelumnya menggunakan tenaga manusia dan hewan menjadi tenaga
mesin. Penggunaan mesin dalam industri menjadikan produksi lebih efisien,
ongkos produksi dapat ditekan, serta barang dapat diproduksi dalam jumlah besar
dan cepat. Berkembangnya revolusi industri menyebabkan bangsa-bangsa Barat
memerlukan bahan baku yang lebih banyak.
Salah satu pengaruh Revolusi Industri yang
sangat terasa adalah dalam kegiatan transportasi. Penemuan mesin uap yang dapat
dijadikan mesin penggerak perahu merupakan teknologi baru pada masa tersebut.
Perahu dengan mesin uap merupakan penemuan
sangat penting yang mendorong penjelajahan bangsa-bangsa Barat. Penggunaan
mesin uap dapat memperpendek waktu perjalanan.
Selain penemuan mesin uap, Revolusi Industri
didukung berbagai penemuan lain, seperti kompas, mesin pemintal, dan
sebagainya. Penemuan-penemuan tersebut memicu bangsa-bangsa Barat untuk
melakukan berbagai petualangan.
Akibat Revolusi
Industri pada bidang sosial Ekonomi dan sosial politik antara lain:
a.
Bidang sosial
ekonomi
1. Barang melimpah dengan harga murah karena proses
pembuatan yang lebih murah dan cepat
2. Berkembangnya urbanisasi yang menimbulkan kota-kota
dan pusat maritim yang baru. Akibat selanjutnya menurunnya kegiatan pertanian
3. Upah buruh rendah karena melimpahnya tenaga kerja
4. Munculnya kelompok buruh dan kelompok majikan
5. Perdagangan semakin berkembang sampai keluar negeri
kerena terjadi surplus di dalam negeri
b.
Bidang sosial
politik
1.
Terjadinya
revolusi sosial
2.
Munculnya partai
politik
3. Munculnya imperialisme
Dampak revolusi industri bagi bangsa Indonesia:
1.
Indonesia
dijadikan daerah pemasaran bagi bangsa Eropa
2.
Indonesia menjadi
daerah penghasil bahan baku bagi Eropa
3.
Indonesia menjadi
lahan penanaman modal
4.
Indonesia mengenal
teknologi
5.
Indonesia
dijadikan daerah jajahan
Revolusi Industri menyebabkan bangsa barat
datang ke Indonesia
Sejak terjadinya perubahan
secara menyeluruh dalam memproduksi barang yaitu dari menggunakan tenaga
manusia dan hewan menjadi tenaga mesin di Eropa yang disebut Revolusi Industri
mengakibatkan adanya tuntutan penggunaan bahan baku yang lebih banyak dari
sebelumnya. Sementara itu kondisi bahan baku di Eropa jumlahnya terbatas maka
untuk memenuhi kekurangan bahan baku tersebut bangsa Eropa melakukan pencarian
ke negara-negara lain seperti di Amerika, Afrika, dan Asia terutama ke negara
Indonesia yang terkenal akan kekayaan rempah-rempahnya.
B. Menganalisis
Proses Kedatangan Bangsa-bangsa Barat ke Indonesia
Bagaimana proses kedatangan bangsa-bangsa
Barat ke Indonesia? Kegiatan apa saja yang mereka lakukan dalam perjalanan
tersebut?
Perhatikan peta rute kedatangan bangsa Belanda
ke Indonesia di atas! Belanda adalah negara yang paling lama menjajah
Indonesia. Selain Belanda, bangsa-bangsa Barat yang datang ke Indonesia pada
masa penjajahan adalah Portugis, Spanyol, dan Inggris.
Kalian telah mencoba menemukan rute kedatangan bangsa-bangsa Barat ke
Indonesia. Berikut ini uraian yang akan membantumu memahami bangsa-bangsa Barat
datang ke Indonesia.
a.
Kedatangan Bangsa Portugis di Maluku
Perjalanan bangsa Portugis mencari sumber
rempah-rempah diawali dari kota Lisabon, Portugis. Pada tahun 1486, Bartolomeus
Diaz melakukan pelayaran pertama menyusuri pantai barat Afrika. Ia bermaksud
melakukan pelayaran ke India, namun gagal. Portugis mencapai Malaka pada tahun
1511 di bawah pimpinan Alfonso d’Albuquerque. Ia berhasil menguasai Malaka dan
Myanmar. Selanjutnya Portugis menjalin hubungan dagang dengan Maluku. Pada
tahun 1512, bangsa Portugis telah berhasil sampai di Maluku di bawah pimpinan
Antonio de Abreu dan Fransisco Serao.
b. Ekspedisi Bangsa Inggris
Persekutuan dagang milik Inggris diberi nama
EIC (East Indian Company). Di dalamnya bergabung para pengusaha Inggris.
Walaupun Inggris tiba di Kepulauan Nusantara, pengaruhnya tidak terlalu banyak
seperti halnya Belanda. Hal ini disebabkan EIC terdesak oleh Belanda, sehingga
Inggris menyingkir ke India/Asia Selatan dan Asia Timur.
c. Kedatangan Bangsa Belanda di Jayakarta
(Jakarta)
Jayakarta merupakan pelabuhan penting di
Pulau Jawa yang kemudian menjadi markas VOC. Bagaimana proses kedatangan
Belanda di Indonesia? Seorang pelaut Belanda Cornelis de Houtman memimpin
ekspedisi ke Indonesia.
Pada tahun 1595, armada de Houtman mengarungi
ujung selatan Afrika, selanjutnya terus menuju ke arah timur melewati Samudra
Hindia. Pada tahun 1596, armada de Houtman tiba di Pelabuhan Banten melalui
Selat Sunda.
Kedatangan Houtman di Indonesia kemudian
disusul ekspedisi-ekspedisi lainnya. Dengan banyaknya pedagang Belanda di
Indonesia maka muncullah persaingan di antara mereka sendiri.
Untuk mencegah persaingan yang tidak sehat,
pada tahun 1602 didirikan Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC/Perserikatan
Maskapai Hindia Timur) yang merupakan merger (penggabungan) dari
beberapa perusahaan dagang Belanda.
Gubernur Jenderal pertama VOC adalah Pieter Both. Ia mendirikan
pusat perdagangan VOC di Ambon, Maluku. Namun kemudian, pusat dagang
dipindahkan ke Jayakarta (Jakarta) karena VOC memandang bahwa Jawa lebih
strategis sebagai lalu-lintas perdagangan. Selain itu, Belanda ingin
menyingkirkan saingan mereka, yaitu Portugis di Malaka.
Pangeran Jayawikarta (penguasa bagian wilayah
Banten) memberi izin kepada VOC untuk mendirikan kantor dagang di Jayakarta.
Selain memberikan izin kepada VOC, Pangeran
Jayawikarta juga memberikan izin pendirian kantor dagang kepada EIC (Inggris).
Kebijakan ini membuat Belanda merasa tidak menyukai Pangeran Jayakarta.
Gubernur Jendral VOC Jan Pieterszoon Coen
membujuk penguasa Kerajaan Banten untuk memecat Pangeran Jayawikarta, sekaligus
memohon agar izin kantor dagang Inggris EIC dicabut. Pada tanggal 31 Mei 1619,
keinginan VOC dikabulkan raja Banten.
Momentum inilah yang kemudian menjadi mata
rantai kekuasaan VOC dan Belanda pada masa berikutnya. VOC menikmati
keleluasaan dan kelonggaran yang diberikan penguasa Banten.
Jayakarta oleh VOC diubah namanya menjadi
Batavia. VOC mendirikan benteng sebagai tempat pertahanan, pusat kantor dagang,
dan pemerintahan. Pengaruh ekonomi VOC semakin kuat dengan dimilikinya hak
monopoli perdagangan. Masa inilah yang menjadi sandaran perluasan kekuasaan
Belanda pada perjalanan sejarah selanjutnya.
Kondisi
Masyarakat Indonesia Pada Masa Penjajahan
Kondisi
masyarakat Indonesia pada masa penjajahan" mungkin dari kalian
banyak yang bertanya "Apakah dalam masa penjajahan ada sistem perdagangan?
bagaimana cara melakukannya?" untuk menjawab pertanyaan tersebut simaklah
uraian berikut.
1. Pengaruh
Monopoli dalam Perdagangan
Pada awal kedatangannya,
bangsa-bangsa Barat diterima dengan baik oleh rakyat Indonesia. Hubungan
perdagangan tersebut kemudian berubah menjadi hubungan penguasaan atau
penjajahan. VOC terus berusaha memperoleh kekuasaan yang lebih dari sekedar
jual beli. Itulah yang memicu kekecewaan, kebencian, dan perlawanan fisik.
Pada awalnya, VOC meminta
keistimewaan hak-hak dagang. Akan tetapi, dalam perkembangannya menjadi
penguasaan pasar (monopoli). VOC menekan para raja untuk memberikan kebijakan
perdagangan hanya dengan VOC. Monopoli
adalah penguasaan pasar yang dilakukan oleh satu atau sedikit perusahaan. Belanda
memaksa kerajaan-kerajaan di Indonesia untuk menandatangani kontrak monopoli
dengan berbagai cara.
Salah satu caranya adalah politik adu
domba atau dikenal devide et impera. Untuk meluaskan kekuasaan, VOC
mempersiapkan penguasaan dengan cara perang (militer). Beberapa gubernur
jenderal, seperti Antonio van Diemon (1635-1645, Johan Maatsuyeker (1653-1678),
Rijklof van Goens (1678-1681), Cornellis Janzoon Speelman (1681-1684),
merupakan tokoh-tokoh peletak dasar politik ekspansi VOC.
VOC mengalami kebangkrutan pada akhir
abad XVIII. Korupsi dan manajemen perusahaan yang kurang baik menjadi penyebab
utama kebangkrutan VOC. Akhirnya, tanggal 13 Desember 1799, VOC dibubarkan.
2. Pengaruh
Kebijakan Kerja Paksa
Jalur anyer-Panarukan tersebut
memanjang lebih dari 1.000 kilometer dari Cilegon (Banten), Jakarta, Bogor,
Bandung, Cirebon, Semarang, Pati, Surabaya, Probolinggo, hingga Panarukan (Jawa
Timur). Saat ini, jalur tersebut merupakan salah satu jalur transportasi utama
bagi masyarakat di Pulau Jawa. Anyer-Panarukan dibangun 200 tahun yang lalu
oleh pemerintah Gubernur Jenderal Daendels yang merupakan bagian dari Repulik
Bataaf (Prancis). Gubernur Jenderal Daendels, yang memerintah tahun 1808-1811,
melakukan berbagai kebijakan seperti pembangunan militer, jalan raya, perbaikan
pemerintahan, dan perbaikan ekonomi.
Pembanguan jalan Jalur Anyer –
Penarukan sebagian besar menggunakan tenaga manusia. Puluhan ribu penduduk
dikerahkan untuk membangun jalan tersebut tanpa digaji dan tidak menerima
makanan yang layak. Akibatnya ribuan penduduk meninggal karena kelaparan dan
terkena penyakit. Pengerahan penduduk untuk bekerja di proyek Belanda inilah
yang disebut kerja rodi atau kerja paksa.
3. Pengaruh
Sistem Sewa Tanah
Saat Inggris menguasai Indonesia,
Gubernur Jenderal Lord Minto membagi daerah jajahan Hindia Belanda menjadi
empat gubernement, yakni Malaka, Sumatra, Jawa, dan Maluku. Lord Minto
selanjutnya menyerahkan tanggung jawab kekuasaan atas seluruh wilayah itu
kepada Letnan Gubernur Thomas Stamford Raffles. Salah satu kebijakan terkenal
pada masa Raffles adalah sistem sewa tanah atau landrent-system atau landelijk
stelsel.
Sistem tersebut memiliki ketentuan,
antara lain sebagai berikut.
a. Petani harus menyewa tanah meskipun dia adalah
pemilik tanah tersebut.
b Harga sewa tanah tergantung kepada kondisi
tanah.
c. Pembayaran sewa tanah dilakukan dengan uang
tunai.
d. Bagi yang tidak memiliki tanah dikenakan pajak
kepala.
Beberapa
penyebab kegagalan pelaksanaan sistem sewa tanah adalah sebagai berikut.
a. Sulit menentukan besar kecil pajak bagi
pemilik tanah karena tidak semua rakyat memiliki tanah yang sama.
b. Sulit menentukan luas dan tingkat kesuburan
tanah petani.
c. Keterbatasan jumlah pegawai.
d.
Masyarakat desa belum mengenal sistem
uang
4.
Pengaruh
Sistem Tanam Paksa
Pada
tahun 1830 pemerintah Belanda mengalami kesulitan ekonomi karena kekosongan kas
negara. Kondisi ini disebabkan besarnya biaya yang harus dikeluarkan Belanda
dalam menghadapi perang diponegoro (1825-1830) dan perang belgia (1830-1831).
Kesulitan ekonomi tersebut mendorong pemerintahan Belanda mengeksploitasi
Hindia Belanda agar memberikan keuntungan bagi Belanda .Oleh karena itu, pada
1830 pemerintah Belanda mengirimkan Johanes Van den Bosch ke Hindia Belanda
sebagai gubernur jenderal.
Pada masa kepemimpinan di Hindia Belanda Van den Bosch menerapkan
kebijakan tanam paksa atau cultuur stelsel.
Aturan dalam sistem tanam paksa
1. sistem penduduk wajib
menyerahkan seperlima lahan garapannya untuk ditanami tanaman wajib berkualitas
ekspor. Misalnya nila, kopi tembakau, tebu dan kakao.
2. tanah yang disediakan untuk
tanaman wajib dibebaskan dari pembayaran pajak tanah.
3. Hasil panen tanaman wajib
harus diserahkan kepada pemerintah kolonial. Setiap kelebihan hasil panen
dari jumlah pajak harus dibayarkan, dan dikembalikan kepada rakyat.
4. Hasil panentenaga dan waktu
diperlukan untuk menggarap tanaman wajib tidak boleh melebihi tenaga dan jumlah
waktu yang diperlukan untuk menanam padi atau kurang lebih 3 bulan.
5. Penduduk yang tidak memiliki
tanah wajib bekerja selama 66 hari di perkebunan pemerintah.
6. setiap kerusakan atau
kegagalan dalam panen menjadi tanggung jawab pemerintah (jika bukan kesalahan
petani).
7. Pelaksanaan tanam paksa
diserahkan sepenuhnya kepada kepala desa.
Pada tahun 1830, Johannes van den
Bosch menerapkan sistem tanam paksa (cultuur stelsel). Kebijakan ini
diberlakukan karena Belanda menghadapi kesulitan keuangan akibat perang Jawa
atau Perang Diponegoro (1825-1830) dan Perang Belgia (1830- 1831).
Praktik-praktik penekanan dan
pemaksaan terhadap rakyat tersebut antara
lain sebagai berikut.
a. Menurut ketentuan, tanah yang digunakan untuk
tanaman wajib hanya 1/5 dari tanah yang dimiliki rakyat. Namun kenyataannya,
selalu lebih bahkan sampai ½ bagian dari tanah yang dimiliki rakyat.
b. Kelebihan hasil panen tanaman wajib tidak
pernah dibayarkan.
c. Waktu untuk kerja wajib melebihi dari 66 hari,
dan tanpa imbalan yang memadai.
d. Tanah yang digunakan untuk tanaman wajib tetap
dikenakan pajak.
e. Petani lebih mencurahkan banyak perhatian
tenaga dan waktu untuk tanaman ekspor sehingga tidak dapat mengerjakan sawah
dan ladang sendiri.
f. Kegagalan panen tanaman wajib
menjadi tanggung jawab petani.
Akibat tanam paksa
Penderitaan rakyat Indonesia akibat
kebijakan Tanam Paksa ini dapat dilihat dari jumlah angka kematian rakyat
Indonesia yang tinggi akibat kelaparan dan penyakit kekurangan gizi. Pada tahun
1848-1850, karena paceklik, 9/10 penduduk Grobogan, Jawa Tengah mati kelaparan.
Dari jumlah penduduk yang semula 89.000 orang, yang dapat bertahan hanya 9.000
orang. Penduduk Demak yang semula berjumlah 336.000 orang hanya tersisa
sebanyak 120.000 orang. banyak pihak bersimpati dan mengecam praktik Tanam
Paksa. Kecaman tidak hanya datang dari bangsa Indonesia, tetapi juga
orang-orang Belanda antara lain Baron van Hoevel, E.F.E. Douwes Dekker
(Multatuli), dan L. Vitalis
Bagaimana dampak kebijakan kerja paksa bagi
bangsa Indonesia?
Dampak kebijakan
kerja paksa bagi Indonesia adalah terjadi banyak penderitaan dan korban jiwa
yang dialami rakyat Indonesia. Rakyat dipaksa bekerja dan diperbudak dalam
berbagai proyek baik pada pembangunan jalan, pertambangan maupun perkebunan
tanpa diperhatikan asupan makanan dan gaji yang selayaknya diterima.
Sistem tanam paksa
memberikan dampak positif dan dampak negatif bagi bangsa Indonesia dan bangsa
Belanda.
Dampak Positif :
1) Rakyat Indonesia mengenal
teknik jenis-jenis tanaman baru.
2) Rakyat Indonesia mulai
mengenal tanaman dagang yang berorientasi ekspor
Dampak
Negatif :
1)
Kemiskinan
serta penderitaan fisik dan mental yang berkepanjangan.
2)
Kelaparan
dan kematian terjadi di banyak tempat.
Bagaimana keuntungan penerapan tanam paksa
bagi bangsa Indonesia?
Keuntungan penerapan
tanam paksa bagi bangsa Indonesia adalah rakyat menjadi tahu dan mengenal
jenis-jenis tanaman komoditas ekspor serta mendapat pengetahuan tentang
bagaimana bercocok tanam yang baik.
Dampak bagi bangsa Belanda:
1)
Mendatangkan
keuntungan dan kemakmuran rakyat Belanda.
2)
Hutang-hutang Belanda dapat terlunasi.
3)
Penerimaan
pendapatan melebihi anggaran belanja.
4)
Kas Negeri
Belanda yang semula kosong, dapat terpenuhi.
5)
Berhasil
membangun Amsterdam menjadi kota pusat perdagangan dunia.
6)
Perdagangan
berkembang pesat.
5. Perlawanan terhadap Kolonialisme dan
Imperialisme
a. Kolonialisme
Kolonialisme adalah
penguasaan suatu wilayah dan rakyatnya oleh negara lain untuk tujuan-tujuan
yang bersifat militer atau ekonomi.
b. Imperialisme
Imprealisme adalah
usaha untuk menguasai daerah lain atau perluasan daerah jajahan atau kekuasaan.
Tujuannya adalah untuk memperoleh kekayaan, rizki, segala macam kemewahan dunia
dan kebendaan dengan segala macam cara.
Kolonialisme
lebih ditekankan pada penguasaan wilayah sedangkan imperialism lebih mengarah
pada praktek penjajahannya.
a. Perlawanan
terhadap Persekutuan Dagang
1) Sultan Baabullah Mengusir Portugis
Penyebab utamanya adalah Portugis
menghalang-halangi perdagan Banda dan Tidore.
Latar belakang upaya Sultan Baabullah mengusir
Portugis dari Maluku!
Yang menjadi latar
upaya Sultan Baabullah mengusir Portugis dari Maluku adalah tindakan kelicikan
dan kejahatan Portugis sendiri. Portugis pernah menawarkan perjanjian damai
kepada Raja Kerajaan Tidore Sultan Hairun (ayah dari Sultan Baabullah) akan
tetapi Portugis membunuh Sultan Hairun ketika perjanjian damai tersebut
berlangsung. Faktor inilah yang menimbulkan Sultan Baabullah dan rakyatnya
melakukan perjuangan mengusir Portugis.
2) Perlawanan Aceh
Sejak Portugis dapat
menguasai Malaka, Kerajaan Aceh merupakan saingan terberat dalam dunia
perdagangan. Para pedagang muslim segera mengalihkan kegiatan perdagangannya ke
Aceh Darussalam. Melihat kemajuan Aceh ini, Portugis selalu berusaha
menghancurkannya, tetapi selalu menemui kegagalan. Di antara raja-raja Kerajaan
Aceh yang melakukan perlawanan adalah sebagai berikut:
1. Sultan Ali Mughayat Syah (1514–1528)
Berhasil membebaskan
Aceh dari upaya penguasaan bangsa Portugis.
2. Sultan Alaudin Riayat Syah
(1537–1568)
Berani menentang dan
mengusir Portugis yang bersekutu dengan Johor.
3. Sultan Iskandar Muda
(1607–1636)
Raja Kerajaan Aceh
yang terkenal sangat gigih melawan Portugis adalah Iskandar Muda.
Pada tahun 1615 dan 1629, Iskandar Muda melakukan serangan terhadap Portugis di
Malaka. Kemunduran Aceh mulai terlihat setelah Iskandar Muda wafat dan
penggantinya adalah Sultan Iskandar Thani (1636–1841). Tetapi setelah Aceh
dipimpin oleh Sultan Safiatuddin (1641–1675), Aceh tidak bisa berbuat banyak
mempertahankan kebesarannya.
3) Ketangguhan “Ayam Jantan dari Timur”
Ketika VOC datang ke
Maluku untuk mencari rempah-rempah, Makassar juga dijadikan daerah sasaran
untuk dikuasai. VOC melihat Makassar sebagai daerah yang menguntungkan karena
pelabuhannya ramai dikunjungi pedagang dan harga rempah-rempah sangat murah.
VOC ingin menerapkan monopoli perdagangan namun ditentang oleh Sultan
Hasanuddin.
Pada bulan Desember 1666, armada VOC dengan kekuatan 21 kapal yang dilengkapi
meriam, mengangkut 600 tentara yang dipimpin Cornelis Speelman tiba dan
menyerang Makassar dari laut. Arung Palaka dan orang-orang suku Bugis rival
suku Makassar membantu VOC menyerang melalui daratan. Akhirnya VOC dengan
sekutu-sekutu Bugisnya keluar sebagai pemenang. Sultan Hasanuddin dipaksa
menandatangani Perjanjian Bongaya pada tanggal 18 November 1667, yang berisi:
1. Belanda memperoleh
monopoli dagang rempah-rempah di Makassar;
2. Belanda mendirikan
benteng pertahanan di Makassar;
3. Bone dan
kerajaan-kerajaan Bugis lainnya terbebas dari kekuasaan Gowa.
4. Aru Palaka diakui
sebagai Raja Bone
Sultan Hasanuddin
tetap gigih, masih mengobarkan pertempuran-pertempuran. Serangan besar-besaran terjadi
pada bulan April 1668 sampai Juni 1669, namun mengalami kekalahan. Akhirnya
Sultan tak berdaya, namun semangat juangnya menentang VOC masih dilanjutkan
oleh orang-orang Makassar. Karena keberaniannya itu, Belanda memberi julukan Ayam
Jantan dari Timur kepada Sultan Hasanuddin.
Mengapa Sultan Hasanuddin tidak berhasil
mengalahkan pasukan Belanda dalam perang Makassar?
Yang menyebabkan
Sultan Hasanuddin tidak berhasil mengalahkan pasukan Belanda dalam perang
Makasar adalah karena politik adu domba Belanda yaitu dengan meminta bantuan
kepada Sultan Bone, Aru Palaka yang kemudian bersekutu untuk bersama-sama
melawan Kerajaan Gowa.
4) Serangan Mataram terhadap VOC
Setelah berhasil
mempersatukan kerajaan-kerajaan Islam di Jawa, Sultan Agung mengalihkan perhatiannya
pada VOC (Kompeni) di Batavia. VOC di bawah pimpinan Jan Pieterzoon Coen
berusaha mendirikan benteng untuk memperkuat monopolinya di Jawa. Niat VOC
(kompeni) tersebut membuat marah Sultan Agung sehingga mengakibatkan Mataram
sering bersitegang dengan VOC (kompeni)
Serangan pertama
dilakukan pada tahun 1628. Pasukan Mataram dipimpin Tumenggung Baurekso, yang
tiba di Batavia tanggal 22 Agustus 1628. Selanjutnya, menyusul pasukan
Tumenggung Sura Agul-Agul, dan kedua bersaudara yaitu Kiai Dipati Mandurejo dan
Upa Santa.
Serangan kedua
dipersiapkan dengan lebih matang. Serangan dimulai pada tanggal 1 Agustus dan
berakhir 1 Oktober 1629. Perlawanan pasukan Mataram yang kedua terpaksa
mengalami kegagalan karena kekurangan bahan pangan, senjata, terserang wabah
penyakit, dan kelelahan setelah menempuh jarak yang jauh.
b. Perlawanan
terhadap Pemerintah Hindia Belanda
1) Perang Saparua di Ambon
Merupakan
perlawanan rakyat Ambon yang dipimpin Thomas Matulesi (Pattimura). Dalam
perlawanan terhadap Pemerintah Hindia Belanda tersebut, seorang pahlawan wanita
bernama Christina Martha Tiahahu melakukan perlawanan dengan gagah berani.
Perlawanan Pattimura dapat dikalahkan setelah bantuan pasukan Hindia Belanda
dari Jakarta datang. Pattimura bersama tiga pengikutnya ditangkap dan akhirnya
dihukum gantung.
2) Perang Paderi di Sumatra Barat (1821-1838)
Merupakan
perlawanan yang sangat menyita tenaga dan biaya sangat besar bagi rakyat Minang
dan Pemerintah Hindia Belanda. Bersatunya Kaum Paderi (ulama) dan kaum adat
melawan Pemerintah Hindia Belanda menyebabkan Belanda kewalahan memadamkannya.
Bantuan dari Aceh juga datang untuk mendukung pejuang Paderi. Pemerintah Hindia
Belanda benar-benar menghadapi musuh yang tangguh. Belanda menerapkan sistem
pertahanan Benteng Stelsel. Benteng Fort de Kock di Bukit tinggi dan Benteng
Fort van der Cappelen merupakan dua benteng pertahanannya. Dengan siasat
tersebut akhirnya Belanda menang ditandai dengan jatuhnya benteng pertahanan
terakhir Paderi di Bonjol tahun 1837. Tuanku Imam Bonjol kemudian ditangkap,
dan diasingkan ke Priangan, kemudian ke Ambon, dan terakhir di Menado hingga
wafat tahun 1864.
3) Perang Diponegoro (1825-1830)
Perang
Diponegoro merupakan salah satu perang besar perlawanan terhadap Pemerintah Hindia
Belanda. Latar belakang perlawanan Pangeran Diponegoro diawali dari campur
tangan Belanda dalam urusan politik Kerajaan Yogyakarta. Beberapa tindakan
Belanda yang dianggap melecehkan harga diri dan nilai-nilai budaya masyarakat
Yogyakarta menjadi penyebab lain kebencian rakyat kepada Belanda. Perlawanan
terhadap Pemerintah Hindia Belanda.
Pemerintah Hindia Belanda membangun jalan baru
pada bulan Mei 1825. Mereka memasang patok-patok pada tanah leluhur Pangeran
Diponegoro. Terjadi perselisihan saat pengikut Diponegoro Patih Danureja IV
mencabuti patok- patok tersebut. Belanda segera mengutus serdadu untuk
menangkap Pangeran Diponegoro. Perang tidak dapat dihindarkan lagi, pada
tanggal 20 Juli Tegalrejo sebagai basis pengikut Diponegoro direbut dan dibakar
oleh Belanda.
Pada
bulan Maret 1830 Diponegoro bersedia mengadakan perundingan dengan Belanda di
Magelang, Jawa Tengah. Perundingan tersebut hanyalah tipu muslihat Belanda
karena ternyata Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Manado, kemudian ke
Makasar hingga wafat tahun 1855. Setelah berakhirnya Perang Jawa (Diponegoro),
tidak lagi muncul perlawanan yang lebih berat di Jawa.
4) Perang Aceh
Semangat
jihad (perang membela agama Islam) merupakan spirit perlawanan rakyat Aceh
terhadap Pemerintah Hindia Belanda. Jendral Kohler terbunuh saat pertempuran di
depan masjid Baiturrahman Banda Aceh. Kohler meninggal dekat sebuah pohon yang
sekarang diberi nama Pohon Kohler. Siasat konsentrasi stelsel dengan sistem
bertahan dalam benteng besar oleh Belanda tidak berhasil dalam perang itu.
Belanda semakin terdesak, korban semakin besar, dan keuangan terus terkuras.
Perlawanan terhadap Penjajahan Pemerintah Hindia Belanda Snouck Hurgroje
Pemerintah
Hindia Belanda sama sekali kewalahan dan tidak mampu menghadapi secara fisik
perlawanan rakyat Aceh. Menyadari hal tersebut, Belanda mengutus Dr. Snouck
Hurgroje yang memakai nama samaran Abdul Gafar (seorang ahli bahasa, sejarah
,dan sosial Islam) untuk mencari kelemahan rakyat Aceh. Setelah lama belajar di
Arab, Snouck Hugronje memberikan saran-saran kepada Belanda mengenai cara
mengalahkan orang Aceh. Menurut Hurgronje, Aceh tidak mungkin dilawan dengan
kekerasan, sebab karakter orang Aceh adalah pantang menyerah, jiwa jihad orang
Aceh sangat tinggi.
Taktik
yang paling mujarab adalah dengan mengadu domba antara golongan Uleebalang
(bangsawan) dengan ulama. Pemerintah Hindia Belanda kemudian menjanjikan
kedudukan pada Uleebalang yang bersedia damai. Taktik ini berhasil, banyak
Uleebalang yang tertarik pada tawaran Belanda. Belanda memberikan tawaran
kedudukan kepada para Uleebalang apabila kaum ulama dapat dikalahkan. Sejak
tahun 1898 kedudukan Aceh semakin terdesak. Belanda mengumumkan perang Aceh
selesai tahun 1904. Namun demikian perlawanan rakyat Aceh secara sporadis masih
berlangsung hingga tahun 1930-an.
5) Perlawanan Sisingamangaraja, Sumatra Utara
Perlawanan
terhadap Pemerintah Hindia Belanda di Sumatra Utara dipimpin oleh
Sisingamangaraja XII, Perlawanan di Sumatra Utara berlangsung cukup lama, yaitu
selama 24 tahun. Pertempuran diawali dari Bahal Batu sebagai pusat pertahanan
Belanda tahun 1877. Untuk menghadapi Perang Batak (sebutan perang di Sumatra
Utara), Pemerintah Hindia Belanda menarik pasukan dari Aceh. Pasukan
Sisingamangaraja dapat dikalahkan setelah Kapten Christoffel berhasil mengepung
benteng terakhir Sisingamangaraja di Pakpak. Kedua putra beliau Patuan Nagari
dan Patuan Anggi ikut gugur dalam pertempuran tersebut, sehingga seluruh
Tapanuli dapat dikuasai Belanda.
6) Perang Banjar
Perang
Banjar berawal ketika Pemerintah Hindia Belanda ikut campur tangan dalam urusan
pergantian raja di Kerajaan Banjarmasin. Belanda memberi dukungan kepada
Pangeran Tamjid Ullah yang tidak disukai oleh rakyat. Pangeran Antasari dengan
kekuatan 300 prajurit menyerang tambang batu bara milik Belanda di Pengaron
pada tanggal 25 April 1859. Selanjutnya peperangan demi peperangan dilakukan
oleh Pangeran antasari di seluruh wilayah Kerajaan Banjar. Pangeran Antasari
menyerang pos-pos Belanda di Martapura, Hulu Sungai, Riam Kanan, Tanah Laut,
Tabalong, sepanjang sungai Barito sampai ke Puruk Cahu dengan dibantu para
panglima dan prajuritnya yang setia.
Pemberontakan
dilakukan oleh Prabu Anom dan Pangeran Hidayat. Pada tahun 1859, Pangeran
Antasari memimpin perlawanan setelah Prabu Anom tertangkap Belanda, dengan
bantuan pasukan dari Belanda, pasukan Pangeran Antasari dapat didesak. Tahun
1862 Pangeran Hidayat menyerah dan berakhirlah perlawanan rakyat Banjar di
pulau Kalilmantan. Perlawanan baru benar-benar dapat dipadamkan pada tahun 1866.
7) Perang Jagaraga di Bali
Perang
Jagaraga berawal saat Pemerintah Hindia Belanda dan kerajaan di Bali
bersengketa tentang hak tawan karang. Hak tawan karang berisi peraturan bahwa
setiap kapal yang kandas di perairan Bali merupakan hak penguasa di daerah
tersebut. Pemerintah Belanda memprotes Raja Buleleng yang menyita dua kapal
milik Belanda. Raja Buleleng tidak mau menerima tuntutan Belanda untuk
mengembalikan kedua kapalnya, persengketaan ini menyebabkan Belanda melakukan
serangan terhadap kerajaan Buleleng tahun 1846. Belanda berhasil menguasai
kerajaan Buleleng, sementara Raja Buleleng menyingkir ke Jagaraga dengan
dibantu oleh Kerajaan Karangasem.
Setelah
berhasil merebut Benteng Jagaraga, Pemerintah Hindia Belanda melanjutkan
ekspedisi militernya pada tahun 1849. Dua kerajaan Bali, Gianyar dan Klungkung
menjadi sasaran Belanda. Tahun 1906, seluruh kerajaan di Bali jatuh ke pihak
Pemerintah Hindia Belanda setelah rakyat melakukan perang habis-habisan sampai
mati, yang dikenal dengan Perang Puputan.
Strategi Belanda Menghadapi Perlawanan terhadap Pemerintah Hindia
Belanda
1. Memecah
belah bangsa Indonesia.
2. Mengasingkan
para pimpinan perlawanan.
C. Menjelaskan
reaksi bangsa Indonesia terhadap kedatangan bangsa-bangsa barat ke Indonesia;
Sikap masyarakat
Indonesia terhadap kedatangan bangsa-bangsa Barat adalah sebagian besar terjadi
penolakan di berbagai daerah karena menyebabkan banyak penderitaan pada rakyat.
Bangsa Indonesia merasa telah dijajah oleh bangsa-bangsa Barat dan berusaha
untuk mengusirnya dari bumi pertiwi namun seringkali gagal.
Nasib para pedagang
Asia setelah kedatangan bangsa-bangsa Barat adalah mereka mengalami kehilangan
pekerjaan karena pembeli/konsumen yang sebagian besar berasal dari
bangsa-bangsa Barat datang langsung ke sumber penghasil barang dengan melakukan
kolonialisme dan imperialisme.
Perluasan Kolonialisme dan
Imperialisme Barat dan Pengaruhnya bagi Perkembangan Masyarakat Indonesia
Dampak Politik, Sosial, Ekonomi, dan
Budaya dari keberadaan Kolonialisme dan Imperialisme Barat di Indonesia, sebagai
berikut:
1. Perubahan
dalam Bidang Politik
- Baik Daendels maupun Raffles telah
meletakkan dasar pemerintahan modern.Para Bupati dijadikan pegawai negeri dan
diberi gaji, padahal menurut adat, kedudukan bupati adalah turun temurun dan
mendapat upeti dari rakyat.Bupati telah menjadi alat kekuasaan pemerintah
kolonial. Pamog praja yang dulu berdasarkan garis keturunan diubah menjadi
sistem kepegawaian.
- Jawa menjadi pusat pemerintahan dan
membaginya menjadi wilayah perfektuf
- Hukum yang dulu menggunakan hukum adat
diubah menggunakan sistem hukum barat modern
- Belanda dan Inggris juga melakukan
intervensi terhadap persoalan kerajaan, misalnya soal pergantian tahta kerajaan
sehingga imperialis mendominasi politik di Indonesia.Akibatnya peranan elite kerajaan
berkurang dalam bidang politik, bahkan kekuasaan pribumi mulai runtuh.
2. Perubahan
dalam dalam Bidang Sosial
- Pembentukan status sosial dimana yang
tertingi adalah Eropa lalu Asia dan Timur Jauh yang terakhir kaum Pribumi
- Terjadinya penindasan dan pemerasan secara
kejam. Tradisi yang dimiliki oleh bangsa Indonesia, Seperti upacara dan tata
cara yang berlaku dalam lingkungan istana menjadi sanga sederhana, bahkan
cenderung dihilangkan. Tradisi tersebut secara perlahan-lahan digantikan oleh tradisi
pemerintah belanda.
- Daerah Indonesia terisolasi di laut sehingga
kehidupan berkembang ke pedalaman. Kemunduran perdagangan di laut secara tak
langsung menimbulkan budaya feodalisme di pedalaman. Dengan feodalisme rakyat
pribumi dipaksa untuk tunduk/patuh pada tuan tanah Barat/Timur Asing. Sehingga
kehidupan penduduk Indonesia megalami kemerosotan.
3. Perubahan
dalam Bidang Ekonomi
- Belanda membuka tambang minyak bumi di
Tarakan Kaltim
- Belanda membangun rel kereta api untuk
memperlancar arus perdagagngan
- Liberialisme ekonomi
- Eksploitasi ekonomi, monopoli dagang VOC
menyebabkan mundurnya perdagangan nusantara di panggung perdagangan
internasional. Peranan syahbandar digantikan oleh para pejabat Belanda
Kebijakan tanam paksa sampai sistem
ekonomi liberal menjadikan Indonesia sebagai penghasil bahan mentah.
Eksportirnya dilakukan oleh bangsa Belanda, pedagang perantara dipegang oleh
orang timur asing terutama bangsa Cina dan bangsa Indonesia hanya menjadi
pengecer, sehingga tidak memiliki jiwa wiraswasta jenis tanaman baru serta cara
memeliharanya.
Dengan dilaksanakannya politik pintu
terbuka, maka pengusaha pribumi yang modalnya kecil kalah bersaing sehingga
gulung tikar.
Perkebunan di Jawa berkembang
sedangkan di Sumatra kesulitan tenaga kerja sehingga dilakukan program
transmigrasi.
Untuk mendukung program penanaman
modal Barat di Indonesia pemerintah Belanda membangun : Irigasi, waduk, jalan
raya, jalan kereta api dan pelabuhan. Untuk pembangunan tersebut digunakan
tenaga secara paksa dengan sistem rodi (kerja paksa)
Dengan memperkenalkan sistem sewa
tanah, terjadi pergeseran dari sistem ekonomi barang ke sistem ekonomi uang
yang juga menyebar di kalangan petani.
4. Perubahan
dalam Bidang Budaya
- Tindakan pemerintah Belanda untuk menghapus
kedudukan menurut adat penguasa pribumi dan menjadikan mereka pegawai
pemerintah, merutuhkan kewibawaan tradisional penguasa pribumi.
- Upacara dan tatacara yang berlaku di istana
kerajaan juga disederhanakan dengan demikian ikatan tradisi dalam kehidupan
pribumi menjadi lemah.
- Dengan merosotnya peranan politik maka para
elit politik baik raja maupun bangsawan mengalihkan perhatiannya ke bidang seni
budaya. Contoh Paku Buwono V memerintahkan penulisan serat Centhini, R.Ng
Ronggo Warsito menyusun Kitab Pustakaraya Purwa, Mangkunegara IV menyusun kitab
Wedatama dan lain-lain.
- Budaya Barat berkembang secara meluas, bahkan
merusak sendi-sendi kehidupan budaya tradisional yang dimiliki oleh bangsa
Indonesia. Sebagai contohnya, kebiasaan minum minuman keras yang dilakukan oleh
golongan bangsawan. Kebiasaan tersebut bukan milik asli bangsa Indonesia,
tetapi kebiasaan yang berlaku di kalangan bangsa Barat yang dibawa oleh para
penjajah (Westernisasi menyebar lewat jalur pendidikan dan pemerintahan).
- Birokrat menggunakan bahasa belanda sebagai
simbol status mereka
- Masuknya agama katholik dan protestan
E. Menganalisis
pergerakan kebangsaan Indonesia dalam memperjuangkan secara kritis
1. Latar
Belakang munculnya Nasionalisme Indonesia
Pada Awal Abad XX, corak perjuangan bangsa
Indonesia berubah dari yang bersifat kedaerahan menuju perjuangan yang bersifat
nasional. Bangsa Indonesia telah menemukan identitas kebangsaan sebagai
pengikat perjuangan bersama. Paham kebangsaan atau nasionalisme telah tumbuh
dan menjelma menjadi sarana perjuangan yang sangat kuat.
Ditinjau dari asal pengaruhnya, pergerakan
nasional dilatarbelakangi berbagai kejadian di dalam negeri Indonesia dan
berbagai kejadian di luar negeri. Berbagai kejadian dari dalam negeri atau
sering disebut faktor internal yang melatarbelakangi pergerakan nasional,
misalnya perluasan pendidikan, kegagalan perjuangan diberbagai daerah, rasa
senasib sepenanggungan dan perkembangan berbagai organisasi etnik kedaerahan.
Adapun berbagai hal dari luar Indonesia (Faktor Eksternal) yang
melatarbelakangi terjadinya pergerakan nasional, antara lain munculnya paham –
paham baru di dunia seperti Pan – Islamisme, nasionalisme, sosialisme,
liberalisme dan demokrasi. Beberapa peristiwa seperti kemenangan Jepang atas
Rusia dalam perang 1905 dan perkembangan berbagai organisasi pergerakan
nasional di berbagai negara juga menjadi faktor eksternal pendorong pergerakan
nasional di Indonesia.
A. Perluasan pendidikan
Pemerintah Hindia
belanda menerapkan kebijakan Politik Etis pada tahun 1901, yaitu dalam bidang
irigasi / pengairan, emigrasi / transmigrasi dan edukasi / pendidikan. Tiga
kebijakan tersebut sebenarnya bertujuan memperbaiki kondisi masyarakat yang
semakin terpuruk. namun, pelaksanaan kebijakan politik etis tetap lebih
berpihak kepada penjajah. Dalam
pelaksanaannya, banyak penyelewengan dalam Politik Etis, seperti :
1. Irigasi hanya ditujukan untuk kepentingan perkebunan Belanda.
2. Emigrasi / Transmigrasi hanya untuk mengirim orang-orang Jawa keluar
Jawa guna dijadikan buruh perkebunan dengan upah murah.
3. Pendidikan hanya sampai tingkat rendah, yang bertujuan memenuhi pegawai
rendahan. Pendidikan tinggi hanya untuk orang Belanda dan sebagian anak pejabat.
Segi positif yang
paling dirasakan bangsa Indonesia adalah pendidikan. Semakin banyak orang
Indonesia berpendidikan modern, yang kemudian mempelopori gerakan pendidikan,
sosial dan politik. Pengaruh pendidikan inilah yang melahirkan para tokoh pemimpin
gerakan nasional Indonesia.
Pendidikan adalah
investasi peradaban. Melalui pendidikan akan tertanamkan pengetahuan dan
kesadaran nasionalisme bangsa Indonesia. Secara bertahap, mulai masuk abad XX,
kesempatan memperoleh pendidikan bagi rakyat Indonesia semakin besar. hal ini
dipengaruhi kebijakan baru pemerintah Hindia Belanda melalui Politik Etis
(Politik Balas Budi).
Politik colonial
liberal yang memeras rakyat Indonesia menimbulkan keprihatinan sebagian
masyarakat Belanda. C Theodore van Deventer menuangkan kritiknya dalam sebuah
majalh de Gids yang berjudul Een Eereschuld atau debt of Honour (Hutang Budi /
Hutang Kehormatan) yang terbit pada tahun 1899. Van Deventer mengusulkan agar
Belanda melakukan balas budi untuk bangsa Indonesia. Balas Budi yang diusulkan
adalah dengan melakukan educatie, emigratie dan irrigatie (edukasi /
pendidikan, emigrasi/perpindahan penduduk dan irigasi / pengairan). kebijakan
Politik Etis memungkinkan berdirinya sekolah – sekolah di berbagai daerah di
Indonesia.
Mulai abad XX,
perkembangan pendidikan yang diselenggarakan swasta juga semakin banyak.
Perkembangan pendidikan bukan hanya diselenggarakan oleh pemerintah, tetapi
juga oleh berbagai organisasi sosial dan keagamaan. Misionaris (Agama Katolik)
dan Zending (Agama Kristen protestan) mendirikan berbagai sekolah di pusat –
pusat penyebaran agama Kristen. Di beberapa kota berkembang pendidikan
berdasarkan keagamaan, seperti Muhammadiyah, Persatuan Islam, nahdatul Ulama,
dan sebagainya. Sekolah kebangsaan juga tumbuh, seperti Taman Siswa dan sekolah
– sekolah yang didirikan organisasi pergerakan.
Pendidikan sangat
besar peranannya dalam menumbuhkembangkan nasionalisme. Pendidikan menyebabkan
terjadinya transformasi ide dan pemikiran yang mendorong semangat pembaharuan
masyarakat.
B. Kegagalan perjuangan diberbagai daerah
Bangsa Indonesia
menyadari berbagai penyebab kegagalan perjuangan kemerdekaan pada masa lalu.
Salah satu penyebab kegagalan perjuangan tersebut adalah perlawanan yang
bersifat kedaerahan.
Memasuki abad XX,
corak perjuangan bangsa Indonesia berubah dari bersifat kedaerahan menuju
perjuangan yang bersifat nasional. Bangsa Indonesia menemukan identitas
kebangsaan sebagai perekat perjuangan bersama. Paham kebangsaan atau
nasionalisme telah tumbuh dan menjelma menjadi sarana perjuangan yang sangat
kuat. Corak perjuangan nasional bangsa Indonesia ditandai dengan momentum
penting, yaitu diikrarkannya Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928
C. Rasa senasip sepenanggungan
Perluasan kekuasaan Barat di
Indonesia telah mempengaruhi perubahan politik, ekonomi dan sosial bangsa
Indonesia. tekanan pemerintah Hindia Belanda pada bangsa Indonesia telah
memunculkan perasaan kebersamaan rakyat Indonesia sebagai bangsa terjajah. Hal
inilah yang mendorong tekad bersama untuk menghimpun kebersamaan dalam
pergerakan kebangsaan Indonesia.
D. Perkembangan organisasi etnis, kedaerahan dan
keagamaan
Organisasi pergerakan
nasional tidaka muncul begitu saja. Awalnya, organisasi yang berdiri di
Indonesia adalah organisasi etnis, kedaerahan dan keagamaan. Berbagai
organisasi tersebut sering melakukan pertemuan hingga akhirnya muncul ide untuk
mengikatkan diri dalam organisasi yang bersifat nasional.
Organisasi etnis
banyak didirikan para pelajar perantau di kota – kota besar. Mereka membentuk
perkumpulan berdasarkan latar belakang etnis. Beberapa contohnya antara lain
Serikat Pasundan serta Perkumpulan Kaum Betawi yang dipelopori oleh M Husni
Thamrin. Selain organisasi etnis, muncul juga beberapa organisasi kedaerahan
seperti Trikoro Dharmo (1915), Jong Java (1915) dan Jong Somatranen Bond
(1917).
Berbagai organisasi
bernapaskan keagamaan pada awal abad XX sangat mempengaruhi perkembangan
kebangsaan Indonesia. Beberapa organisasi bernapas keagamaan yang muncul pada
masa awal abad XX antara lain Jong Islamiten Bond, Muda Kristen Jawi,
Muhammadiyah, Nahdatul Ulama (NU) didirikan oleh para kyai pada tanggal 31
januari 1926 di Jawa Timur dengan pimpinan pertama KH M Hasyim Asy’ari. NU
cepat berkembang terutama di Jawa karena basis pesantren yang sangat banyak di
Jawa.
Kaum wanita juga aktif
berperan dalam berbagai organisasi baik organisasi sosial maupun politik. Peran
serta perempuan dalam memperjuangkan kemerdekaan telah ada sejak dahulu.
Beberapa tokoh pejuang wanita zaman dulu adalah RA Kartini, Dewi Sartika dan
Maria Walanda Maramis. RA Kartini adalah putri bupati Jepara Jawa tengah yang
memperjuangkan emansipasi (persamaan derajat) antara laki – laki dan perempuan.
Beliau mendirikan sekolah khusus untuk perempuan.
E.
Berkembangnya
berbagai paham baru
Paham – paham baru seperti Pan –
Islamisme, nasionalisme, liberalism, sosialisme dan demokrasi menjadi salah
satu pendorong pergerakan nasional Indonesia. Paham – paham tersebut
mengajarkan bagaimana langkah – langkah memperbaiki kondisi kehidupan bangsa
Indonesia. Berbagai paham tersebut mempengaruhi berbagai organisasi pergerakan
nasional Indonesia.
F. Berbagai peristiwa dan pengaruh dari luar negeri
Berbagai peristiwa di
luar negeri yang turut menjadi pendorong pergerakan kebangsaan Indonesia adalah
sebagai berikut:
1. Kemenangan Jepang atas Rusia Pada
Tahun 1905.
Pada tahun
1904 – 1905 terjadi peperangan Jepang melawan Rusia. Rusia adalah bangsa Eropa,
sedangkan Jepang adalah bangsa Asia. Tentara Jepang berhasil mengalahkan Rusia
dan menjadi inspirasi negara-negara lain bahwa orang Asia bisa mengalahkan
bangsa Barat. Bangsa-bangsa Asia pun semakin yakin mampu melawan penjajah.
2. Berkembangnya Nasionalisme di berbagai
Negara.
Pada abad XX, negara-negara terjajah di Asia
dan Afrika menunjukkan perjuangan pergerakan kebangsaan. Di India, wilayah
jajahan Inggris, muncul pergerakan dengan tokoh-tokohnya Mahatma Gandhi dan
Muhammad Ali Jinnah. Di Filipina, Jose Rizal memimpin perlawanan terhadap
penjajah Spanyol. Di Tiongkok, muncul dr. Sun Yat Sen, yang terkenal dengan
gerakan pembaharuannya
F. Mendeskripsikan perjuangan pergerakan
kebangsaan pada masa pendudukan Jepang.
2. Organisasi
Pergerakan Nasional
a. Budi Utomo (BU).
Pada awal abad XX,
sudah banyak mahasiswa di kota – kota besar terutama di Pulau Jawa. Sekolah
kedokteran bernama STOVIA (School tot Opleideing van Inlandsche Artsen)
terdapat di Batavia (Jakarta). Para tokoh mahasiswa kedokteran sepakat untuk
memperjuangkan nasib rakyat Indonesia dengan memajukan pendidikan rakyat. Pada
tanggal 20 Mei 1908, mereka sepakat mendirikan sebuah organisasi bernama Budi
Utomo (BU) dan memilih dr Sutomo sebagai ketua. Tokoh lain pendiri Budi Utomo
adalah Gunawan, Cipto mangunkusumo dan RT Ario Tirtokusumo.
b. Sarekat Islam (SI).
Pada masa penjajahan,
Pasar Klewer di Solo atau Surakarta, Jawa Tengah telah ramai oleh para pedagang
Indonesia, Arab dan Tiongkok. Akibat persaingan yang tidak sehat antara
pedagang pribumi dan pedagang Tiongkok, pada tahun 1911 didirikan Serikat
Dagang Islam (SDI) oleh KH Samanhudi dan RM Tirtodisuryo di Solo. Tujuan utama
pada awalnya adalah melindungi kepentingan pedagang pribumi dari ancaman
pedagang Tiongkok. Saat itu, para pedagang Tiongkok menguasai perdagangan di
pasar, menggeser para pedagang local yang kurang pendidikan dan pengalaman.
Dalam Kongres di
Surabaya tanggal 30 September 1912, SDI berusaha menjadi Sarekat Islam (SI).
Perubahan nama dimaksudkan agar kegiatan organisasi lebih terbuka ke bidang –
bidang lain, tidak hanya perdagangan. Pada tahun1913, SI dipimpin oleh Haji
Umar Said Cokroaminoto. Perjuangan SI sangat menarik rakyat karena kegiatannya
yang membela rakyat. Pada tahun 1915, jumlah anggota SI mencapai 800.000.
Pada tahun 1923, SI
berubah nama menjadi Partai Sarekat Islam (PSI) yang bersifat non kooperatif
terhadap Belanda. Tahun 1927 PSI, menetapkan tujuan pergerakan secara jelas,
yaitu Indonesia merdeka berasaskan Islam.
c. Indische Partij (IP).
Indische Partij (IP)
adalah partai politik pertama di Indonesia. Ada tiga orang yang merupakan
pendiri IP yang terkenal dengan sebutan tiga serangkai, yakni E.F.E. Douwes
Dekker (Danudirjo Setiabudi), R.M. Suwardi Suryaningrat dan dr Cipto
mangunkusumo. Indische Partij dideklarasikan tanggal 25 Desember 1912. Tujuan
utama IP sangat jelas, yakni mengembangkan semangat nasionalisme bangsa
Indonesia. Keanggotaannya pun terbuka bagi semua golongan tanpa memandang suku,
agama dan ras.
Pada tahun 1913,
Belanda mempersiapkan pelaksanan perayaan 100 tahun pembebasannya dari
kekuasaan Prancis. Belanda meminta rakyat Indonesia untuk turut memperingati
hari tersebut. Para tokoh Indische Partij menentang rencana tersebut. Suwardi
Suryaningrat menulis artikel yang dimuat dalam harian De Expres, dengan judul
“Als Ik een Nederlander was (Seandainya Aku Orang Belanda). Suwardi mengecam
Belanda, katanya : Bagaimana mungkin bangsa terjajah (Indonesia) disuruh
merayakan kemerdekaan penjajah. Pemerintah Belanda marah dengan sikap para
tokoh Indische Partij. Akhirnya Douwes dekker, Tjipto Mangukusumo dan Suwardi Suryaningrat
ditangkap dan dibuang ke Belanda.
d. Perhimpunan Indonesia (PI).
Semula bernama
Indische Vereeniging, PI didirikan oleh orang – orang Indonesia di Belanda pada
tahun 1908. Pada tahun 1922, Indische Vereeniging berubah nama menjadi
Indonesische Vereeniging dengan kegiatan utama politik. Pada tahun 1925 berubah
menjadi Perhimpunan Indonesia (PI). Nama majalahnya Hindia Putra, yang kemudian
berubah menjadi Indonesia Merdeka.
Tujuan utama PI adalah
mencapai Indonesia merdeka, memperoleh suatu pemerintahan Indonesia yang
bertanggung jawab kepada seluruh rakyat. Tokoh – tokoh PI adalah Mohammad
Hatta, Ali Sastroamijoyo, Abdulmajid Joyoadiningrat, Iwa Kusumasumantri, Sastro
Mulyono, sartono, Gunawan Mangunkusumo, dan Nazir datuk Pamuncak.
Pada tahun 1925, PI secara tegas mengeluarkan manifesto arah
perjuangan, yaitu :
1. Indonesia bersatu, menyingkirkan
perbedaan, dapat mematahkan kekuasaan penjajah.
2. Diperlukan aksi massa yang percaya
pada kekuatan sendiri untuk mencapai Indonesia Merdeka.
3. Melibatkan seluruh lapisan masyarakat
merupakan sarat mutlak untuk perjuangan kemerdekaan.
4. Anasir yang berkuasa dan esensial
dalam tiap – tiap masalah politik.
5. Penjajahan telah merusak dan
demoralisasi jiwa dan fisik bangsa, sehingga normalisasi jiwa dan materi perlu
dilakukan secara sungguh – sung.
Manifesto 1925 sangat
menggugah kesadaran bangsa Indonesia serta sangat mempengaruhi pola pergerakan
nasional bangsa Indonesia. Gagasan manifesto 1925 terealisasi saat Sumpah
Pemuda diikrarkan pada 28 Oktober 1928.
Kongres Pemuda I
dilaksanakan tanggal 30 April – 2 Mei 1926 di Jakarta, dihadiri berbagai
organisasi pemuda. Kongres ini berhasil membentuk jaringan yang lebih kokoh
untuk mempersatukan diri, yang kemudian dilanjutkan dalam Kongres Pemuda II
tahun 1928.
Panitia Kongres Pemuda
II dibentuk tanggal 12 Agustus 1928 dengan ketuanya Sugondo Joyopuspito.
Susunan panitia mewakili wilayah di seluruh Indonesia. Beberapa tokoh panitia
kongres adalah Sugondo (PPPI), Joko Marsaid (Jong Java), M Yamin (Jong
Sumatranen Bond), Amir Syarifudin (Jong Bataks Bond), Senduk (Jong Celebes), J
Leimena (Jong Ambon), Johan Muh. Cai (Jong Islamieten Bond), dan tokoh – tokoh
lainnya.
Kongres II
diselenggarakan 27 – 28 Oktober 1928, dihadiri oleh perwakilan organisasi –
organisasi pemuda dari seluruh Indonesia. Dalam kongres ini, keinginan untuk
membentuk negara sendiri semakin kuat. Suasana kebangsaan benar – benar tidak
bisa dibendung lagi. Akhirnya, tanggal 28 Oktober 1928, dibacakanlah keputusan
hasil Kongres Pemuda II, yang berupa ikrar pemuda yang terkenal dengan Sumpah
Pemuda.
|
Kami Putra dan Putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu,
tanah Indonesia. Kami Putra dan Putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa
Indonesia. Kami Putra dan Putri Indonesia menjungjung bahasa persatuan, Bahasa
Indonesia. |
Beberapa keputusan penting Kongres Pemuda II, tanggal 27 – 28 Oktober
1928, diantaranya :
1. Ikrar Sumpah pemuda tanggal 28 Oktober 1928.
2. Menetapkan lagu Indonesia Raya ciptaan W.R. Supratman sebagai lagu
kebangsaan Indonesia.
3. Menetapkan bendera merah putih sebagai lambang negara Indonesia.
Realisasi hasil
kongres adalah didirikannya Indonesia muda tahun 1930. Indonesia Muda
berasaskan kebangsaan dan bertujuan Indonesia raya. Pemerintah Belanda sangat
menekan rapat-rapat yang diselenggarakan para tokoh pemuda. lagu Indonesia raya
dilarang dan penyebutan Indonesia merdeka tidak diperbolehkan. Para tokoh
pemuda menyiasati tekanan ini. Pada Kongres III di Yogyakarta tahun 1938,
tujuan kemerdekaan nusa dan bangsa diganti dengan menjungjung tinggi martabat
nusa dan bangsa.
e. Partai Nasional Indonesia (PNI).
Partai Nasional
Indonesia (PNI) didirikan tanggal 4 Juli 1927 di Bandung, dipimpin Ir Soekarno.
Tujuan PNI adalah Indonesia merdeka, dengan ideology nasionalisme. PNI
mengadakan kegiatan konkret baik politik, sosial maupun ekonomi. Organisasi ini
terbuka dan revolusioner, sehingga PNI cepat meraih anggota yang banyak.
Pengaruh Soekarno sangat meresap dalam lapisan masyarakat. Keikutsertaan Hatta
dalam kegiatan politik Soekarno semakin membuat PNI sangat kuat.
Kegiatan politik PNI
dianggap mengancam pemerintah Belanda, sehingga para tokoh PNI ditangkap dan
diadili tahun 1929. Soekarno, Maskoen, Gatot Mangkupraja dan Supriadinata
diadili Belanda. Pembelaan Soekarno di hadapan pengadilan diberi judul
“Indonesia Menggugat”. Sukarno dan kawan – kawan di hukum penjara.
Tahun 1931, PNI
dibubarkan. Selanjutnya sartono membentuk Partindo. Adapun Muhammad Hatta dan
Sutan Syahrir mendirikan organisasi Pendidikan Nasional Indonesia. Para tokoh
partai tersebut kemudian ditangkap Belanda dan diasingkan ke Boven Digul,
Papua.
Selain lima (5) organisasi diatas, ada
berbagai organisasi pada masa pergerakan nasional. Sebagai contoh, Pada tahun
1935 berdiri Parindra (Partai Indonesia Raya) dengan beberapa tokoh seperti M.
Husni Thamri, R Sukardjo, R Panji Suroso dan Mr Susanto. Gerindo (Gerakan
Indonesia) didirian di Jakarta pada bulan April 1937, Pemimpinnya adalah mantan
pimpinan Partindo yang dibubarkan tahun 1937, seperti Amir Syarifuddin, Mr. M.
Yamin, Mr. Sartono dan Dr AK Gani.
Golongan nasionalis mencoba menggunakan
Volksraad sebagai media perjuangan nasional. Dengan tujuan memperkuat wakil –
wakil bangsa Indonesia, tahun 1930. Husni Thamrin membentuk Fraksi Nasional.
pada tahun 1936, seorang anggota Volksraad, Sutarjo mengajukan petisi menuntut
kemerdekaan Indonesia dalam masa 10 tahun. Petisi ini kemudian dikenal dengan
nama Petisi Sutarjo. Petisi tersebut ditolak Belanda dengan alasan Bangsa
Indonesia belum siap untuk merdeka.
Para pejuang pergerakan nasional kecewa dan
tidak terlalu berharap kepada Volksraad. Pada tahun 1939, dibentuk federasi /
gabungan dari beberapa organisasi politik yang disebut Gabungan Politik
Indonesia (GAPI). Semboyan GAPI yang terkenal adalah “Indonesia Berparlemen”.
3. Pergerakan
Nasional pada Masa Pendudukan Jepang
Kerja paksa pada masa
kependudukan jepang dikenal dengan istilah romusha. Romusha menjadi salah satu
bukti penderitaan rakyat Indonesia pada masa kependudukan Jepang.
a.
Proses Penguasaan
Indonesia
Awal mula tujuan
Jepang menguasai Indonesia ialah untuk kepentingan ekonomi dan politik. Jepang
merupakan negara industry yang sangat maju dan sangat besar. Jepang sangat
menginginkan bahan baku industry yang tersedia banyak di Indonesia untuk
kepentingan ekonominya. Indonesia juga merupakan daerah pemasaran industry yang
strategis bagi Jepang untuk menghadapi persaingan dengan tentara bangsa –
bangsa Barat. Untuk menyamakan jalur pelayaran bagi bahan – bahan mentah dan
bahan baku dari ancaman Sekutu serta memuluskan ambisinya menguasai wilayah –
wilayah baru, Jepang menggalang kekuatan pasukannya serta mencari dukungan dan
bangsa – bangsa Asia.
Perhatikan peta di
atas! Peta tersebut menunjukkan gerakan tentara Jepang ketika masuk ke
Indonesia. Terdapat tiga tempat penting pendaratan tentara Jepang ketika masuk
ke Indonesia, yakni: Tarakan (Kalimantan), Palembang (Sumatra), dan Jakarta
(Jawa). Jepang memilih menduduki Ketiga tempat tersebut karena lokasinya sangat
strategis dan merupakan pusat perkembangan ekonomi dan politik pada masa
kependudukan Belanda.
Pada tanggal 8
Desember 1941, Jepang melakukan penyerangan terhadap pangkalan militer AS di
Pearl Harbour. Setelah memborbardir Pearl Harbour, Jepang masuk ke negara-negara
Asia dari berbagai pintu. Pada tanggal 11 Januari 1942, jepang mendaratkan
pasukannya di Tarakan Kalimantan Timur. Jepang menduduki kota minyak Balikpapan
pada tanggal 24 januari. Selanjutnya, Jepang menduduki kota – kota lainnya di
Kalimantan.
Jepang berhasil
menguasai Palembang pada tanggal 16 Februari 1942. Setelah menguasai Palembang,
Jepang menyerang Pulau jawa. Pulau Jawa merupakan pusat pemerintahan Belanda.
Batavia (Jakarta) sebagai pusat perkembangan Pulau jawa berhasil dikuasai
Jepang pada tanggal 1 maret 1942. Setelah melakukan berbagai pertempuran,
Belanda akhirnya menyerah tanpa syarat kepada Jepang pada tanggal 8 Maret 1942
1942 di Kalijati, Subang – Jawa Barat. Surat perjanjian serah terima kedua
belah pihak ditandatangani oleh Letnan Jenderal Ter Poorten (Panglima Angkatan
Perang Belanda) dan diserahkan kepada Letnan Jenderal Immamura (Pimpinan Pasukan
Jepang). Sejak saat itu seluruh Indonesia berada di bawah kekuasaan Jepang.
b.
Kebijakan Pemerintah Militer Jepang
Pada saat
kependudukannya di Indonesia, Jepang melakukan pembagian tiga daerah
pemerintahan militer di Indonesia, yakni :
1. Pemerintahan Angkatan Darat (Tentara
XXV) untuk Sumatra, dengan pusat di Bukit Tinggi.
2. Pemerintahan Angkatan darat (Tentara
XVI) untuk Jawa dan Madura dengan pusat di Jakarta.
3. Pemerintahan Angkatan Laut (Armada
Selatan II) untuk daerah Sulawesi, Kalimantan dan Maluku dengan pusat di
Makassar.
Jepang
menggunakan system pemerintahan berdikari dalam menjalankan pemerintahan di
daerah kependudukannya. Berdikari berarti “Berdiri Sendiri”. Maksudnya,
pemerintah pusat tidak banyak berperan dalam upaya pemenuhan kebutuhan pasukan
di daerah kependudukannya. Dengan demikian, pemerintahan militer Jepang di
Indonesia lebih leluasa untuk menerapkan system penjajahan.
Jepang melakukan
propaganda dengan semboyan “Tiga A” (Jepang Pemimpin Asia, Jepang Pelindung Asia,
Jepang Cahaya Asia) untuk menarik simpati rakyat Indonesia. Selain itu, Jepang
menjanjikan kemudahan bagi bangsa Indonesia dalam melakukan ibadah, mengibarkan
bendera merah putih yang berdampingan dengan bendera Jepang, menggunakan bahasa
Indonesia dan menyanyikan lagu kebangsaan “Indonesia Raya” bersama lagu
kebangsaan Jepang “Kimigayo”. Kemudahan – kemudahan yang ditawarkan oleh Jepang
hanyalah janji manis saja. Sebagai penjajah, Jepang justru lebih kejam dalam
menjajah bangsa Indonesia. Jepang melakukan beberapa kebijakan terhadap negara
jajahan Indonesia. Program yang paling mendesak bagi Jepang adalah mengerahkan
seluruh sumber daya yang ada di Indonesia
untuk tujuan perang. Beberapa
kebijakan tersebut antara lain sebagai berikut :
1. Membentuk Organisasi – Organisasi Sosial.
Organisasi –
organisasi sosial yang dibentuk oleh jepang diantaranya Gerakan 3A, Pusat
tenaga Rakyat, Jawa Hokokai dan Masyumi. Gerakan 3A dipimpin oleh Mr.
Syamsudin, dengan tujuan meraih simpati penduduk dan tokoh masyarakat sekitar.
Dalam perkembangannya, gerakan ini kurang berhasil sehingga Jepang membentuk
organisasi yang lebih menarik.
Sebagai ganti Gerakan
Tiga A, jepang mendirikan gerakan Pusat tenaga Rakyat (Putera) pada tanggal 1
Maret 1943. Gerakan Putera dipimpin tokoh – tokoh nasional yang sering disebut
Empat Serangkai, yaitu Soekarno, Mohammad Hatta, K.H. Mas Mansyur dan Ki hajar
Dewantara. Gerakan Putera cukup diminati oleh kalangan tokoh pergerakan
Indonesia.
Pemerintah Jepang
kurang puas dengan kegiatan yang dilakukan oleh gerakan Putera karena para
tokoh gerakan Putera memanfaatkan organisasi ini untuk melakukan konsolidasi
dengan tokoh – tokoh perjuangan. Pada akhirnya, organisasi Putera dibubarkan
oleh Jepang.
Pada tahun 1944,
dibentuk Jawa Hokokai (Gerakan Kebaktian Jawa). gerakan ini berdiri di bawah
pengawasan para pejabat Jepang. Tujuan pokoknya adalah menggalang dukungan
untuk rela berkorban demi pemerintah Jepang.
Islam adalah agama
yang dianut mayoritas penduduk Indonesia. Jepang merasa harus bisa menarik hati
golongan ini. Maka, pada tahun 1943 Jepang membubarkan Majelis Islam A’la
Indonesia dan menggantikannya dengan Masyumi (Majelis Syuro Muslimin
Indonesia). Masyumi dipimpin oleh KH Hasyim Ashari dan KH Mas Mansur.
2. Pembentukan Organisasi Semi Militer.
Jepang menyadari
pentingnya mengerahkan rakyat Indonesia untuk membantu perang menghadapi
Sekutu. Oleh karena itu, Jepang membentuk berbagai organisasi semimiliter,
seperti Seinendan, Fujinkai, Keibodan, Heiho dan Pembela Tanah Air (Peta).
Organisasi Barisan
Pemuda (Seinendan) dibentuk pada 9 maret 1943. Tujuannya adalah memberi bekal
bela negara agar siap mempertahankan tanah air nya. Dalam kenyataannya, tujuan
itu hanya untuk menarik minat rakyat Indonesia. Maksud sesungguhnya adalah
untuk membantu menghadapi tentara Sekutu.
Fujinkai merupakan
himpunan kaum wanita diatas 15 tahun untuk terikat dalam latihan semi militer.
Keibodan merupakan barisan pembantu polisi untuk laki – laki berumur 20 – 25
tahun. Heiho yang didirikan tahun 1943 merupakan organisasi prajurit pembantu
tentara jepang. pada saat itu, Jepang sudah mengalami kekalahan di beberapa
front pertempuran. Adapun Peta yang didirikan 3 Oktober 1943 merupakan pasukan
bersenjata yang memperoleh pendidikan militer secara khusus dari Jepang. kelak,
para eks – Peta memiliki peranan besar dalam pertempuran melawan Jepang dan
Belanda.
3. Pengerahan Romusha.
Jepang melakukan
rekruitmen anggota romusha dengan tujuan mencari bantuan tenaga yang lebih
besar untuk membantu perang dan melancarkan aktivitas Jepang. Anggota – anggota
Romusha dikerahkan oleh jepang untuk membangun jalan, kubu pertahanan, rel
kereta api, jembatan dan sebagainya. jumlah Romusha paling besar berasal dari
jawa, yang dikirim ke luar Jawa, bahkan sampai ke Malaya, Myanmar dan Thailand.
Sebagian besar Romusha
adalah penduduk yang tidak berpendidikan. mereka terpaksa melakukan kerja rodi
karena takut kepada jepang. Pada saat mereka bekerja sebagai romusha, makanan
yang mereka dapat tidak terjamin, kesehatan sangat minim, sementara pekerjaan sangat
berat. Ribuan rakyat Indonesia meninggal akibat romusha.
Mendengar nasib
romusha yang sangat menyedihkan, banyak pemuda Indonesia meninggalkan
kampungnya. mereka takut akan dijadikan romusha. Akhirnya, sebagian besar desa
hanya didiami oleh kaum perempuan, orang tua dan anak – anak.
Penjajahan jepang yang
sangat menyengsarakan adalah pemaksaan wanita – wanita untuk menjadi Jugun
Ianfu. Jugun Ianfu adalah wanita yang dipaksa Jepang untuk menjadi wanita
penghibur Jepang di berbagai pos medan pertempuran. Banyak gadis – gadis desa
diambil paksa tentara Jepang untuk menjadi Jugun Ianfu. Sebagian mereka tidak
kembali walaupun Perang Dunia II telah berakhir.
4. Eksploitasi Kekayaan
Alam.
Jepang tidak hanya
menguras tenaga rakyat Indonesia. Pengerukan kekayaan alam dan harta benda yang
dimiliki bangsa Indonesia jauh lebih kejam daripada pengerukan yang dilakukan
oleh Belanda. Semua usaha yang dilakukan di Indonesia harus menunjang semua
keperluan perang Jepang.
Jepang mengambil alih
seluruh asset ekonomi Belanda dan mengawasi secara langsung seluruh usahanya.
Usaha perkebunan dan industry harus mendukung untuk keperluan perang, seperti
tanaman jarak untuk minyak pelumas. rakyat wajib menyerahkan bahan pangan besar
– besaran kepada Jepang. Jepang memanfaatkan Jawa Hokokai dan instansi –
instansi pemerintah lainnya. Keadaan inilah yang semakin menyengsarakan rakyat
Indonesia.
Pada masa panen,
rakyat wajib melakukan setor padi sedemikian rupa sehingga mereka hanya membawa
pulang padi sekitar 20 % dari panen yang dilakukannya. kondisi ini
mengakibatkan musibah kelaparan dan penyakit busung lapar di Indonesia. Banyak
penduduk yang memakan umbi – umbian liar, yang sebenarnya hanya pantas untuk
makanan ternak.
Sikap manis Jepang
hanya sebentar. Pada tanggal 20 Maret 1942, dikeluarkan maklumat pemerintah
yang isinya berupa larangan pembicaraan tentang pengibaran bendera merah putih
dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Hal ini tentu membuat kecewa bangsa
Indonesia.
c. Sikap Kaum Pergerakan
Bangsa Indonesia telah
melakukan berbagai upaya untuk menanggapi kebijakan Jepang tersebut. Propaganda
Jepang sama sekali tidak mempengaruhi para tokoh perjuangan untuk percaya
begitu saja. Bagaimanapun, mereka sadar bahwa Jepang adalah penjajah. Bahkan
mereka sengaja memanfaatkan organisasi – organisasi pendirian jepang sebagai
“batu loncatan” untuk meraih Indonesia merdeka. Beberapa bentuk perjuangan pada zaman jepang adalah sebagai berikut :
1. Memanfaatkan Organisasi Bentukan Jepang.
Kelompok ini sering disebut kolaborator
karena mau bekerja sama dengan penjajah. Sebenarnya, cara ini bentuk perjuangan
diplomasi. Tokoh – tokohnya adalah para pemimpin Putera, seperti Sukarno,
Mohammad Hatta, Ki Hajar Dewantara dan KH Mas Mansyur. Mereka memanfaatkan
Putera sebagai sarana komunikasi dengan rakyat. Akhirnya, Putera justru
dijadikan para pemuda Indonesia sebagai ajang kampanye nasionalisme. Pemerintah
Jepang menyadari hal tersebut dan akhirnya membubarkan Putera dan digantikan
Barisan Pelopor. Sama seperti Putera, Barisan Pelopor yang dipimpin Sukarno ini
pun selalu mengkampanyekan perjuangan kemerdekaan.
2. Gerakan Bawah Tanah.
Larangan berdirinya partai politik
pada zaman Jepang mengakibatkan sebagian tokoh perjuangan melakukan gerakan
bawah tanah. Gerakan bawah tanah merupakan perjuangan melalui kegiatan –
kegiatan tidak resmi, tanpa sepengetahuan Jepang (Gerakan sembunyi - sembunyi).
Dalam melakukan perjuangan, mereka
terus melakukan konsolidasi menuju kemerdekaan Indonesia. mereka menggunakan
tempat – tempat strategis seperti asrama pemuda untuk melakukan pertemuan –
pertemuan. Penggalangan semangat kemerdekaan dan membentuk suatu negara terus
mereka kobarkan.
Tokoh – tokoh yang masuk dalam garis
pergerakan bawah tanah adalah Sutan Sjahrir, Achmad Subarjo, Sukarni, A.
maramis, Wikana, Chairul Saleh dan Amir Syarifuddin. Mereka terus memantau
Perang pasifik melalui radio – radio bawah tanah. Pada saat itu, Jepang
melarang bangsa Indonesia memiliki pesawat komunikasi. Kelompok bawah tanah
inilah yang sering disebut golongan radikal / keras karena mereka tidak
mengenal kompromi dengan Jepang.
3. Perlawanan Bersenjata.
Disamping perjuangan yang dilakukan
dengan memanfaatkan organisasi bentukan Jepang dan gerakan tanah, ada pula
perlawanan – perlawanan bersenjata yang dilakukan bangsa Indonesia diantranya
sebagai berikut :
a. Perlawanan Rakyat Aceh.
Dilakukan
oleh Tengku Abdul Djalil, seorang ulama di Cot Plieng Aceh, menentang peraturan
– peraturan Jepang. Pada tanggal 10 November 1942, ia melakukan perlawanan.
Dalam perlawanan tersebut ia tertangkap dan ditembak mati.
b. Perlawanan Singaparna,
Jawa Barat.
Dipelopori
oleh KH Zainal Mustofa, yang menentang seikerei yakni menghormati Kaisar
Jepang. Pada tanggal 24 Februari 1944, meletus perlawanan terhadap tentara
Jepang. Kiai Haji Zaianal Mustofa dan beberapa pengikutnya ditangkap, lalu
dihukum mati.
c. Perlawanan Indramayu,
Jawa Barat.
Pada
bulan Juli 1944, rakyat Lohbener dan Sindang di Indramayu memberontak terhadap
Jepang. Para petani dipimpin H. Madrian menolak pungutan padi yang terlalu
tinggi. Akan tetapi, pada akhirnya perlawanan mereka dipadamkan Jepang.
d. Perlawanan Peta di
Blitar, Jawa Timur.
Perlawanan
PETA merupakan perlawanan terbesar yang dilakukan rakyat Indonesia pada masa
penjajahan Jepang.
Perlawanan
ini dipimpin Supriyadi, seorang Shodanco (Komandan Pleton). Peta tanggal 14
Februari 1945, perlawanan dipadamkan Jepang karena persiapan Supriyadi dkk
kurang matang.
Para
pejuang Peta yang berhasil ditangkap kemudian diadili di Mahkamah Militer di
Jakarta. Beberapa diantaranya dihukum mati, seperti dr Ismail, Muradi,
Suparyono, Halir Mangkudidjaya, Sunanto dan Sudarmo. Supriyadi sebagai pemimpin
perlawanan tidak diketahui nasibnya. Kemungkinan besar Supriyadi berhasil
ditangkap Jepang kemudian di hukum mati sebelum diadili.
G. Menjelaskan
perubahan masyarakat Indonesia pada masa penjajahan
Pada perjalanan sejarah sejak masa
kolonialisme VOC, Pemerintah Hindia Belanda, pemerintah Inggris, dan pendudukan
Jepang telah terjadi berbagai perubahan pada masyarakat Indonesia. Terjadinya
kolonialisme dan Imperialisme di Indonesia menyebabkan berbagai perubahan
masyarakat Indonesia baik aspek geografis, ekonomi, budaya, pendidikan maupun
politik.
a. Perubahan Pada Masa
Kolonial Barat.
1. Perluasan Penggunaan Lahan.
Perkebunan di
Indonesia telah berkembang sebelum masa penjajahan. Bangsa Indonesia telah
memiliki teknologi turun – menurun untuk mengembangkan berbagai teknologi
pertanian. Pada masa penjajahan, terjadi perubahan besar dalam perkembangan
perkebunan di Indonesia. Penambahan jumlah lahan untuk tanaman ekspor dilakukan
diberbagai wilayah di Indonesia. Bukan hanya pemerintah colonial yang
mengembangkan lahan perkebunan di Indonesia, tetapi juga perusahaan –
perusahaan swasta.
Pada masa pemerintah
colonial Hindia belanda, banyak perusahaan asing yang menanam investasi di
Indonesia. Berhektar – hektar hutan dibuka untuk pembukaan lahan perkebunan .
Contoh Saluran Irigasi
Bendung Komering 10 (BK 10) di Desa Gumawang, Belitang Madang Raya, kabupaten
OKU timur Sumatera Selatan adalah salah satu saluran yang dibangun sejak masa
Hindia Belanda. Daerah OKU Timur yang awalnya hutan belantara berubah menjadi
lahan pertanian dan perkebunan yang sangat subur hingga sekarang. Sepanjang aliran
irigasi tersebut menjadi lumbung padi Sumatra Selatan hingga kini.
2. Persebaran Penduduk dan Urbanisasi.
Politik Etis terdiri
dari irigasi, transmigrasi dan edukasi. Sejarak transmigrasi Indonesia terutama
terjadi pada akhir abad XIX. Tujuan utama transmigrasi pada masa tersebut
adalah untuk menyebarkan tenaga kerja murah diberbagai perkebunan di Sumatra
dan Kalimantan. Pembukaan perkebunan pada masa colonial barat di Indonesia
telah berhasil mendorong persebaran penduduk Indonesia.
Munculnya berbagai
pusat industry dan perkembangan berbagai fasilitas di kota menjadi daya dorong
perkembangan kota – kota. Urbanisasi terjadi hampir di berbagai daerah di
Indonesia. Daerah yang awalnya hutan belantara menjadi ramai dan gemerlap
karena ditemukannya area pertambangan.
Persebaran penduduk
Indonesia tidak sebatas dalam lingkungan nasional, tetapi juga lintas negara.
Sebagai bukti adalah adanya Negara Suriname di Amerika Latin, didalamnya banyak
terdapat warga keturunan suku Jawa. mereka adalah keturunan Jawa yang hidup
turun temurun di Suriname sejak penjajahan Belanda. Mereka bisa sampai di
Suriname karena tidak lepas dari kebijakan pemerintah belanda untuk mengirim
banyak tenaga kerja ke Suriname yang juga merupakan wilayah jajahan Belanda.
3. Pengenalan Tanaman Baru.
Pengaruh pemerintah
colonial Barat di satu sisi memiliki pengaruh positif dalam mengenalkan
berbagai tanaman dan teknologi dalam pertanian dan perkebunan. Beberapa tanaman
andalan ekspor dikenalkan dan dikembangkan di Indonesia. Pengenalan tanaman
baru sangat bermanfaat dalam pengembangan pertanian dan perkebunan di
Indonesia.
4. Penemuan Tambang – Tambang.
Pembukaan lahan pada
masa colonial Barat juga dilakukan untuk pertambangan minyak bumi, batu bara
dan logam. Pembukaan lahan untuk pertambangan ini terutama terjadi pada akhir
abad XIX dan awal abad XX.
5. Transportasi dan Komunikasi.
Pada zaman penjajahan
Belanda, banyak dibangun jalan raya, rel kereta api dan jaringan telepon.
Pembangunan berbagai sarana transportasi dan komunikasi tersebut mendorong
mobilitas barang dan jasa yang sangat cepat. Pada transportasi laut juga
dibangun berbagai dermaga di berbagai daerah di Indonesia.
Contohnya proses
pembangunan jalur Anyer – Panarukan yang dibangun pada masa pemerintahan
Daendels. Di satu sisi, pembangunan tersebut menimbulkan kesengsaraan rakyat,
terutama akibat kerja paksa. Namun di sisi lain, pembangunan jalur tersebut
telah mempermudah jalur transportasi dan komunikasi masyarakat Indonesia,
khususnya di Jawa. Pembangunan rel kereta api juga dilakukan di berbagai daerah
di jawa dan Sumatra.
6. Perkembangan Kegiatan Ekonomi.
Perubahan masyarakat
dalam kegiatan ekonomi pada masa colonial terjadi baik dalam kegiatan produksi,
konsumsi dan distribusi. Kegiatan produksi dalam pertanian dan perkebunan
semakin maju dengan ditemukannya berbagai teknologi pertanian yang bervariasi.
Rakyat mulai mengenal tanaman yang tidak hanya untuk dipanen semusim. Pembukaan
berbagai perusahaan telah melahirkan berbagai jenis pekerjaan dalam bidang yang
berbeda. Sebagai contoh, munculnya kuli – kuli perkebunan, mandor dan
administrasi diberbagai perusahaan pemerintah ataupun swasta. kegiatan ekspor –
impor juga mengalami kenaikan signifikan pada masa penjajahan Barat. Hal ini
tidak lepas dari usaha pemerintah colonial menggenjot jumlah produksi ekspor.
7. Mengenal Uang.
Pada masa sebelum
kedatangan bangsa – bangsa Barat, masyarakat biasanya bekerja secara bergotong
– royong. Contohnya dalam mengerjakan sawah, setiap kelompok penduduk akan
mengerjakan secara bersama – sama dari sawah satu ke sawah lainnya. Pada masa
kekuasaan colonial Barat, uang mulai dikenalkan sebagai alat pembayaran jasa
tenaga kerja. Keberadaan uang sebagai barang baru dalam kehidupan masyarakat
menjadi daya tarik tersendiri. Masyarakat mulai menyenangi uang karena dianggap
lebih mudah digunakan.
8. Perubahan Dalam Pendidikan.
Terdapat Dua
pendidikan yang dikembangkan pada masa pemerintahan colonial Barat.
a. Pendidikan yang dikembangkan oleh
pemerintah.
b. Pendidikan yang dikembangkan oleh
masyarakat.
Pusat – pusat
kekuasaan Belanda di Indonesia di berbagai kota di Indonesia menjadi pusat
pertumbuhan berbagai sekolah di Indonesia. Banyak sekolah yang telah berdiri
sejak zaman penjajahan di kota – kota provinsi di Indonesia. Pada masa
penjajahan Belanda juga telah berkembang perguruan tinggi seperti Institut
Teknologi Bandung (ITB) dan Institut Pertanian Bogor (IPB).
Pada masa pemerintahan
colonial Barat, terjadi diskriminasi pendidikan di Indonesia. Sekolah dibedakan
menjadi dua golongan, yakni sekolah untuk bangsa Eropa dan sekolah untuk
penduduk pribumi. Hal ini mendorong lahirnya berbagai gerakan pendidikan di
Indonesia. Taman siswa yang berdiri di Yogyakarta merupakan salah satu pelopor
gerakan pendidikan modern di Indonesia. Sekolah – sekolah yang dipelopori
berbagai organisasi pergerakan nasional tumbuh pesat pada awal abad XX.
Pengaruh pendidikan
modern berdampak pada perluasan lapangan kerja pada masyarakat Indonesia.
Munculnya elite intelektual memunculkan jenis pekerjaan baru, seperti guru,
administrasi, pegawai pemerintah, dsb.
9. Perubahan Dalam Aspek Politik.
Kejayaan kerajaan –
kerajaan pada masa sebelum kedatangan bangsa Barat satu persatu mengalami
kemerosotan bahkan keruntuhan. Pada masa kerajaan, rakyat diperintah oleh raja
yang merupakan bangsa Indonesia. Pada masa pemerintahan Kolonial barat, rakyat
diperintah oleh bangsa asing. Kekuasaan bangsa Indonesia untuk mengatur
bangsanya semakin hilang, digantikan dengan kekuasaan bangsa barat. Perubahan
inilah yang paling penting untuk diperjuangkan. Tanpa kemerdekaan, bangsa
Indonesia sulit mengatur dirinya sendiri.
Perubahan dalam system
politik juga terjadi dengan dikenalnya system pemerintahan baru. Pada masa
kerajaan dikenal raja dan bupati, sementara itu pada masa pemerintahan colonial
Barat dikenal Gubernur Jenderal, residen, Bupati dan seterusnya. Para penguasa
kerajaan menjadi kehilangan kekuasaannya, digantikan dengan kekuasaan
pemerintahan colonial Barat.
Terbentuknya
pemerintahan Hindia Belanda di satu sisi menguntungkan bangsa Indonesia.
Pemerintah Hindia Belanda yang terpusat menyebabkan hubungan yang erta antara
rakyat Indonesia dari berbagai daerah. Muncul perasaan senasib dan
sepenanggungan dalam bingkai Hindia Belanda.
Munculnya berbagai organisasi
pergerakan tidak lepas dari ikatan politik Hindia belanda. Sebelum masa
penjajahan Hindia belanda, masyarakat Indonesia terkotak – kotak oleh system
politik kerajaan. Terdapat puluhan kerajaan di berbagai daerah di Indonesia.
Pada masa pemerintah Hindia Belanda, berbagai daerah tersebut disatukan dalam
satu identitas, yaitu Hindia belanda.
10. Perubahan Dalam Aspek
Budaya.
Berbagai perubahan
budaya pada masa penjajahan Belanda adalah dalam seni bangunan, tarian, cara
berpakaian, bahasa dan Teknologi.
Seni Bangunan dengan
Gaya Eropa dapat ditemukan diberbagai kota di Indonesia. Masa penjajahan
belanda berpengaruh terhadap teknologi dan seni bangunan di Indonesia.
teknologi bangunan modern dikenalkan bangsa barat diberbagai wilayah di
Indonesia.
Perubahan kesenian
juga terjadi terutama di masyarakat perkotaan yang mulai mengenal tarian –
tarian barat. Kebiasaan dansa dan minum minuman yang dikenalkan para pejabat
Belanda berpengaruh pada perilaku sebagian masyarakat Indonesia.
Dalam aspek budaya
juga terjadi perubahan kehidupan beragama masyarakat Indonesia. Pengaruh
colonial yang lain adalah penyebaran agama Kristen di Indonesia.
Agama Kristen
diprediksi sampai di Indonesia sejak zaman kuno melalui jalur pelayaran.
Menurut Cosmas Indicopleustes dalam bukunya “ Topographica Christiana”, pada
abad VI sudah ada komunitas Kristiani di India Selatan, di Pantai Malabar dan
di Srilanka. Dari Malabar itu, agama Kristen menyebar ke berbagai daerah. Pada
tahun 650, agama Kristen sudah mulai berkembang di Kedah (di Semenanjung
Malaya) dan sekitarnya. Pada abad IX, kedah berkembang menjadi pelabuhan dagang
yang sangat ramai di jalur pelayaran yang menghubungkan India – Aceh – Barus –
Nias melalui Selat Sunda – laut jawa dan selanjutnya ke Tiongkok. Jalur inilah
disebut – sebut sebagai jalur penyebaran agama Kristen dari India ke Nusantara.
Penyebaran Agama
Kristen menjadi lebih intensif lagi seiring dengan datangnya bangsa – bangsa
Barat ke Indonesia pada abad XVI. Kedatangan bangsa – bangsa barat itu semakin
memantapkan dan mempercepat penyebaran Agama Kristen di Indonesia. Orang –
orang Portugis menyebarkan agama Kristen katolik. Orang – orang Belanda membawa
Agama Kristen Protestan.
Penyebar Agama Kristen
di Indonesia adalah para pastor seperti Fransiskus Xaverius dari Ordo Serikat
Yesus. Pastor ini aktif mengunjungi desa-desa di sepanjang pantai Leitimor,
kepulauan Lease, Pulau Ternate, Halmahera Utara dan Kepulauan Morotai. Usaha
penyebaran agama Katolik ini kemudian dilanjutkan oleh pastor – pastor yang
lain. Selanjutnya di Nusa tenggara Timur, seperti Flores, Solor, Timor, agama
Katolik berkembang dengan baik sampai sekarang.
Agama Kristen
Protestan berkembang di Kepulauan Maluku terutama setelah VOC menguasai Ambon,
yang dipelopori Zending. Penyebaran Agama Kristen ini juga semakin intensif
saat Raffles berkuasa di Indonesia. Agama Katolik dan kemudian juga Kristen
Protestan berkembang pesat di Indonesia bagian timur.
Pengaruh lainnya dalam
bidang budaya adalah pakaian, bahasa, makanan dan jenis pekerjaan baru. Pakaian
gaya Eropa tidak hanya berpengaruh dalam lingkungan keratin, tetapi juga
masyarakat luas.
b. Perubahan Masyarakat Pada Masa Penjajahan
Jepang.
1. Perubahan Dalam Aspek Geografi.
Adanya eksploitasi
kekayaan alam menjadi ciri penting pada masa pendudukan Jepang. Misi untuk
memenangkan Perang Dunia II mendorong Jepang menjadikan Indonesia sebagai salah
satu basisnya menghadapi tentara Sekutu. Jepang banyak membutuhkan dukungan
dalam menghadapi PD II. Lahan perkebunan yang ada pada masa Hindia Belanda
merupakan lahan yang menghasilkan untuk jangka waktu lama. Jepang menggerakkan
tanaman rakyat yang mendukung Jepang dalam Perang Dunia II. Tanaman Jarak
dikembangkan sebagai bahan produksi minyak yang dibutuhkan sebagai mesin
perang.
Kesengsaraan pada masa
pendudukan Jepang menyebabkan besarnya angka kematian. Migrasi terjadi terutama
untuk mendudkung perang Jepang menghadapi Sekutu. Banyak rakyat Indonesia yang
ikut dalam Romusha ataupun membantu pasukan Jepang di beberapa negara Asia
Tenggara untuk membantuperang jepang. Sebagian dari mereka tidak kembali atau
tidak diketahui nasibnya. Menurut catatan sejarah, jumlah tenaga kerja yang
dikirim ke luar Jawa, bahkan ke luar negeri seperti Burma, Malaya, Vietnam dan
Muangthai / Thailand mencapai 300.000 orang. Ratusan ribu orang tersebut banyak
yang tidak diketahui nasibnya setelah Perang Dunia II usai.
2. Perubahan Dalam Aspek Ekonomi.
Sistem ekonomi perang
Jepang membawa kemunduran dalam bidang perekonomian di Indonesia. Putusnya
hubungan dengan perdagangan dunia mempersempit kegiatan perekonomian di
Indonesia. Perkebunan tanaman ekspor diganti menjadi lahan pertanian untuk
kebutuhan sehari – hari.
Pembatasan ekspor
menyebabkan sulitnya memperoleh bahan pakaian. Maka, rakyat Indonesia pun
mengusahakannya sendiri. Pakaian yang terbuat dari benang goni menjadi tren
pada masa pendudukan Jepang.
Wajib setor padi dan
tingginya pajak pada masa pendudukan Jepang menyebabkan terjadinya kemiskinan
luar biasa. Angka kematian sangat tinggi. Sebagai contoh, di Kabupaten Wonosobo
Jawa Tengah angka kematian mencapai 50 %. Kematian yang luar biasa berdampak
pada penyakit – penyakit sosial lainnya. Gelandangan, pengemis, kriminalitas,
semakin berkembang akibat lemahnya kekuatan ekonomi rakyat.
3. Perubahan Dalam Aspek
Pendidikan.
Kegiatan pendidikan
dan pengajaran menurun. Sebagai contoh, gedung sekolah dasar menurun dari
21.500 menjadi 13.500 buah, Gedung sekolah lanjutan menurun dari 850 menjadi 20
buah. Kegiatan perguruan tinggi macet. Sementara itu, pengenalan budaya Jepang
dilakukan diberbagai sekolah di Indonesia. Bahas Indonesia dapat menjadi bahasa
pengantar diberbagai sekolah di Indonesia. Adapun bahasa Jepang menjadi bahasa
utama di sekolah – sekolah.
Tradisi budaya Jepang
dikenalkan di sekolah – sekolah mulai tingkat rendah. Para siswa harus
digembleng agar bersemangat Jepang (Nippon Seshin). Para pelajar juga harus
menyanyikan lagu Kimigayo (Lagu kebangsaan Jepang) dan lagu – lagu lain,
menghormati bendera Hinomura serta melakukan gerak badan (taiso) dan Seikerei.
4. Perubahan Dalam Aspek
Politik.
Propaganda Jepang
berhasil mempengaruhi masyarakat Indonesia. Dengan alasan untuk membebaskan
Indonesia dan penjajahan Belanda, Jepang mulai mendapat simapti rakyat. Dengan
kebijakan yang kaku dank eras, secara politik organisasi pergerakan yang pernah
ada sulit mengembangkan aktivitasnya. Bahkan, jepang melarang dan membubarkan
semua organisasi pergerakan politik yang pernah ada di masa colonial belanda.
Hanya MIAI yang kemudian diperbolehkan hidup karena organisasi ini dikenal
sangat anti budaya barat (Belanda). Kompetisi selalu memata-matai gerak-gerik organisasi
pergerakan nasional. Akibatnya, muncul gerakan-gerakan bawah tanah.
Jepang berusaha
mendapatkan simpati dan dukungan rakyat dan tokoh – tokoh Indonesia atas
kekuasaannya di Indonesia. Akibatnya, hal ini menimbulkan beragam tanggapan
dari para tokoh pergerakan nasional. kelompok pertama adalah kelompok yang
masih mau bekerja sama dengan jepang, tetapi tetap menggelorakan pergerakan
nasional. Para tokoh ini adalah mereka yang muncul dalam berbagai organisasi
bentukan jepang. Adapun kelompok kedua adalah mereka yang tidak mau bekerja
sama dengan pemerintah jepang dan melakukan gerakan bawah tanah.
Pada masa akhir
pendudukan Jepang, terjadi revolusi politik di Indonesia, yakni kemerdekaan
Indonesia. Peristiwa proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945 menjadi
momen penting perjalanan sejarah Indonesia selanjutnya. Kemerdekaan telah
membawa perubahan masyarakat dalam segala bidang.
5. Perubahan Dalam Aspek
Budaya.
Jepang berusaha
“Menjepangkan” Indonesia. Ajaran Shintoisme diajarkan pada masyarakat
Indonesia. Kebiasaan menghormat matahari dan menyanyikan lagu Kimigayo
merupakan salah satu pengaruh pada masa pendudukan Jepang. Pengaruh budaya ini
menimbulkan perlawanan masyarakat pada masa pendudukan Jepang. Pengaruh budaya
ini menimbulkan perlawanan di berbagai daerah.
Perkembangan Bahasa
Indonesia pada masa pendudukan jepang mengalami kemajuan. Pada tanggal 20
Oktober 1943, atas desakan dari beberapa tokoh Indonesia, didirikanlah Komisi
(Penyempurnaan) Bahasa Indonesia. Tugas Komisi adalah menentukan istilah –
istilah modern dan menyusun suatu tata bahasa normative serta menentukan kata –
kata yang umum bagi bahas Indonesia.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar