Kamis, 22 Mei 2025

MEMAHAMI DAMPAK PERUBAHAN IKLIM TERHADAP KEHIDUPAN EKONOMI, SOSIAL, DAN BUDAYA MASYARAKAT

 Materi IPS Kelas 7 Kumer

Perubahan iklim merupakan perubahan jangka panjang pada pola cuaca dan suhu global akibat interaksi manusia yang merusak alam. Perubahan iklim berkaitan erat dengan pemanasan global. Pemanasan global adalah kenaikan suhu bumi yang berlangsung selama satu dekade terakhir.

Perubahan iklim yang terjadi beberapa tahun belakangan ini membawa perubahan besar tidak hanya pada lingkungan saja, tetapi juga pada aspek kehidupan manusia, baik ekonomi, sosial, maupun budaya masyarakat. Dampak utama perubahan iklim tersebut meliputi:

1.   Dampak Ekonomi

  • Sektor Perikanan, pemanasan global menyebabkan suhu air laut naik, dan meningkatnya keasaman laut akan memengaruhi ekosistem laut dan perikanan. Akibatnya mata pencaharian nelayan dan industri perikanan terganggu.
  • Kerusakan Infrastruktur, dampak pemanasan global adalah terjadinya bencana alam seperti banjir, angin puting beliung, dan kekeringan. Bencana alam tersebut menyebabkan rusaknya infrastruktur yang telah dibangun.
  • Pergeseran Pasar Tenaga Kerja, pemanasan global memengaruhi produktivitas pada sektor pertanian, perikanan, dan pariwisata menurun. Akibatnya banyak orang kehilangan pekerjaan. Di sisi lain sektor energi terbarukan, seperti energi surya, angin, dan geothermal mengalami pertumbuhan sehingga permintaan tenaga kerja meningkat.  
  • Sektor Pertanian, pola cuaca yang tidak menentu seperti kekeringan dan banjir mengakibatkan produktivitas pertanian menurun bahkan gagal panen. Akibatnya bahan pangan langka dan harganya mahal.

2.   Dampak Sosial

  • Migrasi Penduduk, bencana alam yang terus terjadi di berbagai wilayah menyebabkan masyarakat yang terdampak mengungsi ke tempat yang lebih aman. Bahkan ada yang direlokasi secara permanen. Hal ini menunjukkan pemanasan global menyebabkan terjadinya migrasi penduduk.
  • Kesehatan Masyarakat Terganggu, pemanasan global tentu mengakibatkan terjadinya bencana alam. Setiap bencana alam akan menimbulkan berbagai penyakit seperti diare, malaria, demam berdarah, dan infeksi saluran penapasan akut (ISPA). Selain itu pemanasan global menyebabkan gangguan psikologis seperti stress pada masyarakat. 
  • Meningkatnya Kemiskinan, banjir, kekeringan, suhu dan keasaman laut yang meningkat memengaruhi kehidupan masyarakat seperti petani, dan nelayan. Produktivitas pertanian menurun, dan gagal panen pada petani, serta terganggunya mata pencaharian nelayan menyebabkan angka kemiskinan meningkat.

3.   Dampak Budaya

  • Terganggunya Tempat Bersejarah, pemanasan global mengakibatkan es di kutub mencair sehingga permukaan air laut naik. Akibatnya tempat-tempat bersejarah dan situs-situs arkeologi terancam punah. Misalnya kenaikan air laut akan menenggelamkan tempat dan situs bersejarah.
  • Pergeseran Identitas Budaya, masyarakat yang hidupnya bergantung pada alam akan kehilangan identitas budayanya jika alamnya sudah rusak. Misalnya jika lahan pertanian rusak maka ritual adat tidak dapat dilaksanakan. 
  •  Perubahan Cara Hidup, perubahan iklim menyebabkan terganggunya ekosistem alam. Masyarakat adat yang hidupnya bergantung pada alam akan kehilangan mata pencahariannya. Mereka harus mengubah cara hidup dengan mengolah alam dengan pola adaptasi terhadap perubahan iklim.

Perubahan iklim memberi dampak besar terhadap perubahan pada aspek ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat. Mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim sangat penting agar perubahan pada aspek ekonomi, sosial, dan budaya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

 

FAKTOR PENYEBAB PERUBAHAN IKLIM

Perubahan iklim dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya adalah faktor alam, dan faktor manusia. Faktor utama terjadinya perubahan iklim adalah aktivitas manusia terutama yang berkaitan dengan emisi gas rumah kaca.

1.  Faktor Alam: letusan gunung berapi dapat melepaskan gas-gas seperti Karbon Dioksida (CO2), Metana (CH4). Gas-gas ini berperan besar terhadap peningkatan suhu bumi dan berkontribusi pada efek rumah kaca.

2.   Faktor Manusia

  • Deforestasi; proses penggundulan hutan untuk pertanian dan perkebunan, pembangunan infrastruktur, serta pertambangan menyebabkan jumlah hutan berkurang. Akibatnya suhu bumi meningkat dan memperburuk pemanasan global. Hutan. berfungsi untuk menyerap gas Karbon Dioksida (CO2) dan melepaskan gas Oksigen (O2) untuk pernapasan manusia.  
  • Gas Rumah Kaca: aktivitas manusia seperti penggundulan hutan, perubahan penggunaan lahan, pertanian dan peternakan, serta pembakaran fosil (batu bara, minyak, dan gas) terutama pada industri dan pertambangan menghasilkan gas Karbon Dioksida (CO2), Metana (CH4), Nitrous Oxide (N2O) di atmosfer. Gas-gas ini menyerap dan memerangkap panas sehingga suhu udara di lapisan atmosfer meningkat (pemanasan global). Kenaikan suhu ini mengakibatkan lapisan es di kutub utara dan selatan mencair, sehingga permukaan air laut naik, serta perubahan pola cuaca yang ekstrem.

 

 

 

UPAYA MITIGASI BENCANA UNTUK MENUNJANG SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS (SDGs) DALAM KONTEKS LOKAL, REGIONAL, DAN GLOBAL

Materi IPS Kelas 7 Kumer 


Pengenalan tentang SDGs dan Mitigasi Bencana

SDGs adalah rencana global berisi 17 tujuan untuk menciptakan dunia yang lebih baik terutama dalam hal ekonomi, sosial, dan lingkungan. Sedangkan mitigasi bencana adalah upaya untuk mengurangi resiko dan dampak dari bencana alam. SDGs dan mitigasi bencana sangat penting karena membantu kita membangun masa depan yang lebih aman dan berkelanjutan.

Hubungan Antara SDGs dengan Mitigasi Bencana

SDGs dan mitigasi bencana saling terkait karena keduanya berupaya menciptakan dunia yang lebih aman dan berkelanjutan. Tujuan 13 SDGs berkaitan dengan penanganan perubahan iklim, berkaitan dengan mitigasi bencana karena perubahan iklim disertai dengan meningkatnya bencana alam.

Mampu  memahami konsep dan strategi mitigasi bencana serta hubungannya dengan pencapaian SDGs.

Konsep dan Strategi Mitigasi Bencana

Mitigasi bencana bertujuan untuk mengurangi risiko atau bahaya dari bencana. Sama seperti kita berusaha mengamankan diri kita dari berbagai risiko. Agar masyarakat tahu diperlukan sosialisasi dan pelatihan menghadapi bencana. Masyarakat diharapkan untuk membuat bangunan tahan gempa, melestarikan lingkungan dengan melakukan penghijauan untuk mencegah longsor.

Strategi Mitigasi Bencana

  • Pemantauan: memantau kondisi yang bisa menyebabkan bencana, seperti curah hujan atau aktivitas gunung berapi agar dampak dari bencana berkurang.
  • Peringatan Dini: memberikan informasi tentang potensi bencana sehingga masyarakat bisa bersiap-siap.  
  • Pemetaan Risiko: menentukan daerah mana yang paling berisiko terkena bencana.
  • Sosialisasi dan Penyuluhan: Menjelaskan cara menghadapi bencana dan apa yang harus dilakukan.
  • Pelatihan: memberikan pelatihan kepada masyarakat tentang cara menghadapi bencana.

Hubungannya dengan Pencapaian SDGs

SDGs 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan): Mitigasi bencana membantu menciptakan kota yang tahan terhadap bencana, misalnya dengan pembangunan infrastruktur yang kuat dan pemanfaatan lahan yang berkelanjutan.

SDGs 15 (Kehidupan di Darat): Mitigasi bencana juga penting untuk melindungi ekosistem dan keanekaragaman hayati, seperti melalui penanaman pohon untuk mencegah longsor.

Dengan memahami konsep dan strategi mitigasi bencana, serta hubungannya dengan SDGs, kita bisa bersama-sama menciptakan masyarakat yang lebih tangguh dan berkelanjutan dalam menghadapi bencana.

Mampu menjelaskan bagaimana upaya mitigasi bencana berkontribusi terhadap pencapaian SDGs, terutama SDGs 11 (kota dan pemukiman yang berkelanjutan), SDGs 13 (tindakan iklim), dan SDGs 15 (kehidupan di darat).

Upaya mitigasi bencana sangat penting untuk mencapai SDGs, terutama SDGs 11, 13, dan 15. Mitigasi bencana membantu menciptakan kota dan permukiman yang aman dan berkelanjutan (SDGs 11), mengurangi dampak perubahan iklim (SDGs 13), dan menjaga ekosistem di darat (SDGs 15).

1.  Mitigasi Bencana dan SDGs 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan):

a.   Membangun kota yang tangguh:

Mitigasi bencana seperti pembangunan infrastruktur yang tahan gempa, pemetaan wilayah rawan banjir, dan penerapan aturan tata ruang yang memperhatikan risiko bencana, membuat kota lebih tahan terhadap dampak bencana. Hal ini membantu mencapai target SDGs 11.5 untuk mengurangi jumlah kematian dan kerugian ekonomi akibat bencana.

b.   Meningkatkan kualitas hidup:

Mitigasi bencana juga berdampak pada peningkatan kualitas hidup. Misalnya, dengan adanya sistem peringatan dini bencana, masyarakat dapat lebih siap dan aman menghadapi bencana, mengurangi stres dan ketakutan. Hal ini juga berdampak pada kualitas kesehatan masyarakat.

c.    Menuju pembangunan yang berkelanjutan:

Dengan mitigasi bencana, kota dapat berkembang secara berkelanjutan. Pemilihan lokasi permukiman yang aman, pembangunan infrastruktur yang tidak merusak lingkungan, dan pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan, semua ini merupakan bagian dari mitigasi bencana yang berkontribusi pada SDGs 11.

2.   Mitigasi Bencana dan SDGs 13 (Tindakan Iklim):

a.   Memperkuat adaptasi dan mitigasi perubahan iklim:

Upaya mitigasi bencana dapat membantu memperkuat adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Contohnya, pembangunan infrastruktur yang tahan perubahan iklim (seperti jalan yang tahan banjir atau bangunan yang tahan panas), pengelolaan air yang lebih baik, dan pemeliharaan ekosistem yang dapat menyerap karbon.

b.   Mengurangi emisi gas rumah kaca:

Mitigasi bencana juga dapat berkontribusi pada pengurangan emisi gas rumah kaca. Misalnya, dengan membangun infrastruktur yang efisien energi, menggunakan energi terbarukan, dan mengurangi penggunaan bahan-bahan yang berbahaya bagi lingkungan.

c.    Menjaga ekosistem yang rentan:

Bencana alam sering kali berdampak pada ekosistem. Mitigasi bencana dapat membantu menjaga ekosistem yang rentan, seperti hutan bakau, lahan basah, dan wilayah pesisir. Ini penting untuk menjaga keseimbangan alam dan mengurangi dampak perubahan iklim.

3.   Mitigasi Bencana dan SDGs 15 (Kehidupan di Darat):

a.   Melindungi keanekaragaman hayati:

Bencana alam dapat mengancam keanekaragaman hayati. Mitigasi bencana dapat membantu melindungi habitat dan spesies yang terancam. Misalnya, dengan menjaga kelestarian hutan, mencegah erosi tanah, dan mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan.

b.   Memperbaiki kualitas tanah:

Bencana seperti banjir dan tanah longsor dapat merusak kualitas tanah. Mitigasi bencana dapat membantu memperbaiki kualitas tanah, seperti dengan melakukan penanaman kembali, membangun drainase yang baik, dan menggunakan pupuk organik.

c.    Meningkatkan ketahanan ekosistem:

Mitigasi bencana yang baik dapat meningkatkan ketahanan ekosistem terhadap perubahan iklim dan bencana alam. Misalnya, dengan membangun hutan lindung, menjaga kebersihan sungai, dan mengurangi penggunaan pestisida.

Mitigasi bencana adalah bagian utama dari upaya mencapai SDGs, khususnya SDGs 11, 13, dan 15. Dengan membangun kota yang tangguh, memperkuat adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, dan menjaga ekosistem yang sehat, kita dapat mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan yang lebih luas.

Upaya mitigasi bencana sangat penting untuk mencapai SDGs, terutama SDGs 11, 13, dan 15. Mitigasi bencana membantu menciptakan kota dan pemukiman yang aman dan berkelanjutan (SDGs 11), mengurangi dampak perubahan iklim (SDGs 13), dan menjaga ekosistem daratan (SDGs 15).

1.    SDGs 11: Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan

v Mitigasi bencana membantu mencapai SDGs 11 dengan:

v Menciptakan kota yang tangguh: Bangunan yang tahan gempa, sistem drainase yang baik, dan rencana tata ruang yang mempertimbangkan risiko bencana.

v Meningkatkan keselamatan warga: Pelatihan kebencanaan, simulasi evakuasi, dan sistem peringatan dini.

v Mengurangi dampak ekonomi: Pengendalian kerugian akibat bencana yang dapat mengganggu stabilitas ekonomi kota.

2.    SDGs 13: Tindakan Iklim

v Mitigasi bencana juga berkontribusi pada SDGs 13 karena:

v Mencegah dan mengurangi dampak perubahan iklim: Dengan mempersiapkan diri terhadap risiko bencana seperti banjir, kekeringan, dan kebakaran hutan yang seringkali terkait dengan perubahan iklim.

v Mengembangkan solusi berbasis alam: Misalnya, penanaman pohon untuk mencegah erosi dan mengurangi risiko banjir.

v Meningkatkan kesadaran masyarakat: Pentingnya adaptasi terhadap perubahan iklim dan mitigasi bencana.

3.    SDGs 15: Kehidupan di Darat

     Mitigasi bencana penting untuk SDGs 15 karena:

  • Melindungi ekosistem daratan: mitigasi dapat mencegah kerusakan hutan, lahan basah, dan ekosistem lainnya akibat bencana.
  • Meningkatkan keanekaragaman ha
    yati: Dengan mencegah hilangnya habitat dan spesies akibat bencana.
  • Membantu pemulihan ekosistem: Setelah bencana, mitigasi dapat membantu pemulihan ekosistem yang rusak.

Dengan demikian, upaya mitigasi bencana merupakan bagian integral dari pencapaian SDGs, khususnya SDGs 11, 13, dan 15, karena membantu menciptakan kota dan pemukiman yang berkelanjutan, mengurangi dampak perubahan iklim, dan melindungi kehidupan di darat.

 

BACA MATERINYA YA...., JIKA BELUM JELAS SILAHKAN TANYAKAN KE GURU

Materi Kelas 7

MEMAHAMI LEMBAGA SOSIAL

  Materi IPS Kelas 8   PROSES TERBENTUKNYA LEMBAGA SOSIAL (IKTP 1) Interaksi sosial merupakan kunci dari semua kehidupan sosial, sebab t...