Rabu, 13 Mei 2026

TUGAS 6 IPS

 

                                                                              KELAS 7

Dikerjakan Secara Kelompok dengan ketentuan sebagai berikut: 1 kelompok terdiri dari 5 orang, kelompok 1 nomor urut 1-5 pada absen, kelompok 2 nomor urut 6-10 pada absen, kelompok 3 nomor urut 11-15 pada absen, kelompok 4 nomor urut 16-21 pada absen, kelompok 5 nomor urut 22-27 pada absen.

Dikumpulkan pada guru IPS masing-masing! 

  1. Di Wilayah Lingko milik warga di Cibal Barat, pohon-pohon di sekitar sumber mata air mulai berkurang karena ditebang oleh masyarakat. Jelaskan mengapa tindakan menanam kembali pohon di area tersebut merupakan bentuk mitigasi bencana yang mendukung SDG 15 (Ekosistem Darat)!
  2. Jika kamu melihat banyak sampah plastik berserakan di sekitar Pasar Inpres Ruteng, jelaskan langkah-langkah Reduce, Reuse, dan Recycle yang bisa dilakukan oleh para pedagang dan pembeli di sana!
  3. Banyak warga di pedalaman Manggarai yang belum mendapatkan listrik maksimal. Jelaskan mengapa kita yang tinggal harus menghemat listrik dan apa hubungannya dengan SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim)!
  4. Sebutkan 3 urutan upaya mitigasi bencana akibat perubahan iklim yang paling mungkin kamu lakukan sebagai siswa SMP di lingkungan sekolahmu di Manggarai!
  5. Bayangkan kamu adalah ketua OSIS. Buatlah satu rencana kegiatan bersama teman-teman sekolah untuk membantu masyarakat sekitar sekolah agar aman dari banjir saat musim hujan tiba (Hubungkan dengan aksi mitigasi lingkup sekolah/masyarakat). 

 

TUGAS 5 IPS


 KELAS 7

Silanglah jawaban yang menurut Anda paling benar!

1.SDGs adalah rencana global yang terdiri dari 17 tujuan untuk menciptakan dunia yang lebih baik. Apa tujuan utama dari SDGs menurut pernyataan tersebut?

A. Membabat semua hutan untuk area perkebunan kopi.

B. Meningkatkan penggunaan bahan bakar fosil untuk industri.

C. Membangun gedung pencakar langit sebanyak-banyaknya di Ruteng.

D.  Menciptakan dunia yang lebih baik dalam hal ekonomi, sosial, dan lingkungan

2.Di Kabupaten Manggarai, sering terjadi hujan lebat yang berisiko menyebabkan banjir. Tindakan membangun lubang biopori di halaman sekolah untuk mengurangi risiko banjir disebut dengan ....

A. Rehabilitasi bencana

B. Mitigasi bencana

C. Evakuasi bencana

D. Adaptasi bencana

3.Banyak masyarakat Manggarai mulai beralih menggunakan lampu LED yang hemat energi di rumah. Tindakan ini mendukung pencapaian SDG nomor ....

A. SDG 7 (Energi Bersih dan Terjangkau)

B. SDG 15 (Ekosistem Darat)

C. SDG 1 (Tanpa Kemiskinan)

D. SDG 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan)

4.Mengapa menumpuknya sampah di TPA (Tempat Pemrosesan Akhir) bisa memperparah perubahan iklim?

A. Sampah membuat suhu bumi menjadi lebih dingin.

B. Sampah mengeluarkan oksigen yang terlalu banyak.

C. Sampah menyerap semua gas karbon dioksida.

D. Sampah menghasilkan gas metana (CH4) yang berbahaya bagi atmosfer.

5. Para siswa di SMP di Cibal Barat melakukan penanaman pohon di lahan gundul bekas kebakaran hutan. Kegiatan ini disebut ....

A. Edukasi

B. Deforestasi

C. Afiliasi

D. Reboisasi

6. Seorang siswa selalu membawa 'Tumbler' atau botol minum sendiri ke sekolah agar tidak membeli air minum kemasan plastik. Tindakan ini merupakan contoh mitigasi di lingkup ....

A. Global

B. Individu (Diri Sendiri)

C. Sekolah

D. Masyarakat

7.Di daerah pegunungan Manggarai yang dingin, beberapa orang masih sering membakar sampah di halaman rumah. Apa tindakan yang lebih baik sesuai prinsip 3R?

A. Membakar sampah pada malam hari saja.

B. Mengubur semua sampah plastik di dalam tanah.

C. Membuang sampah ke sungai agar terbawa air.

D. Mengolah sampah organik menjadi pupuk (kompos).

8.Jika warga Desa di Reo dan Ruteng rutin melakukan kerja bakti membersihkan selokan, maka hasil yang diharapkan sesuai SDG 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan) adalah ....

A. Desa menjadi aman dari bencana banjir saat hujan deras.

B. Suhu bumi meningkat drastis.

C. Hutan menjadi gundul.

D.  Harga beras menjadi murah.

9. Apa perbedaan mendasar antara mitigasi dan adaptasi perubahan iklim?

A. Keduanya tidak memiliki perbedaan.

B. Mitigasi bersifat pencegahan, adaptasi bersifat penyesuaian.

C. Mitigasi bersifat penyesuaian, adaptasi bersifat pencegahan.

D. Mitigasi dilakukan pemerintah, adaptasi dilakukan siswa.

10.Penggunaan kendaraan umum seperti angkot di Ruteng lebih disarankan daripada menggunakan motor pribadi untuk setiap orang. Hal ini bertujuan untuk ....

A. Menghasilkan lebih banyak gas oksigen.

B. Mempercepat penebangan hutan.

C. Meningkatkan polusi udara.

D. Mengurangi pelepasan gas Carbon Dioksida ke atmosfer.

 

Jumat, 08 Mei 2026

MEMAHAMI DAMPAK PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA DALAM MASYARAKAT YANG MAJEMUK

 

 Materi IPS Kelas 8

 Pengertian Perubahan Sosial Budaya (IKTP 1)

Perubahan sosial budaya terjadi akibat berbagai faktor internal dan eksternal, yang kemudian memicu proses seperti difusi, akulturasi, asimilasi, dan akomodasi. Proses ini akhirnya mengubah struktur sosial, pola pikir, serta perilaku masyarakat, yang berdampak pada nilai dan norma yang berlaku baik secara positif maupun negatif.

Alur Perubahan Sosial Budaya (IKTP 2)

1.Pemicu Perubahan: Perubahan dimulai dari faktor Internal (seperti penemuan baru atau konflik internal) atau faktor Eksternal (seperti bencana alam, perubahan iklim, atau pengaruh budaya asing). Contoh: Masuknya program pemerintah yang membawa teknologi traktor untuk menggantikan cangkul (pengaruh budaya luar/inovasi).

2. Proses Perubahan: Setelah pemicu muncul, masyarakat akan mengalami fase transisi melalui:

a.  Difusi: Penyebaran unsur baru.

Contoh: Petani mulai mengenal cara menggunakan traktor melalui demonstrasi langsung di sawah.

b. Akulturasi: Perpaduan budaya tanpa menghilangkan budaya asli.

Contoh: Petani tetap menggunakan sistem gotong-royong untuk membajak sawah, namun sekarang dilakukan secara kolektif dengan traktor, bukan lagi manual. Budaya kerja sama tetap ada, tapi medianya berubah.

c.  Asimilasi: Peleburan budaya hingga menjadi identitas baru.

Contoh: Setelah bertahun-tahun, cara bertani tradisional hampir hilang. Para petani muda kini menganggap bertani harus menggunakan mesin dan teknologi digital; identitas "petani tradisional" melebur menjadi "petani modern".

d. Akomodasi: Penyesuaian untuk meredam potensi konflik.

Contoh: Muncul konflik antara petani tua yang ingin mempertahankan cara lama dan petani muda yang ingin efisiensi. Akomodasi terjadi melalui kesepakatan pembagian jadwal sewa traktor bagi semua warga agar tidak ada yang dirugikan.

3.Hasil Akhir: Terjadi pergeseran pada struktur sosial (cara masyarakat terorganisir), pola pikir (paradigma), dan perilaku masyarakat.

Contoh: Struktur sosial di desa berubah; muncul kelompok "operator mesin" yang memiliki status sosial baru. Pola pikir petani berubah dari "sekadar bertahan hidup" menjadi "orientasi pasar dan keuntungan".

4. Dampak: Perubahan ini secara langsung memengaruhi sistem nilai (apa yang dianggap penting) dan norma (aturan perilaku) yang berlaku dalam masyarakat tersebut.

   Contoh: Nilai kesabaran dalam proses fisik mulai digantikan oleh nilai efisiensi dan kecepatan. Norma lama tentang "kewajiban menyumbang tenaga" bergeser menjadi "kewajiban membayar iuran sewa mesin".

Perubahan sosial pada contoh di atas sebenarnya memiliki hubungan sebab dan akibat.

Pemicu (traktor) memaksa masyarakat untuk berproses (belajar, beradaptasi, berkonflik, dan berdamai). Proses tersebut secara kolektif mengubah struktur (posisi sosial petani) dan pola pikir. Akhirnya, dampak terlihat dari berubahnya apa yang mereka anggap "benar" (nilai) dan "cara berperilaku" (norma).
 

Bentuk-Bentuk Perubahan Sosial Budaya (IKTP 3)

Perubahan sosial budaya adalah perubahan yang terjadi di masyarakat yang mempengaruhi cara kita bergaul, bekerja, dan menjalani tradisi. Di Manggarai, kita bisa melihat perubahan ini dalam kehidupan sehari-hari.

1.Perubahan Lambat (Evolusi)

Perubahan yang terjadi pelan-pelan, sedikit demi sedikit, dan butuh waktu lama.

Contoh: dulu, nenek moyang kita di Manggarai menumbuk padi menggunakan Lumpung/lesung (ngencung). Sekarang, hampir semua sudah beralih menggunakan mesin penggiling padi. Perubahan ini tidak terjadi dalam semalam, tapi butuh waktu bertahun-tahun sampai semua orang terbiasa.

2.Perubahan Cepat (Revolusi)

Perubahan yang terjadi secara mendadak dan membawa pengaruh besar dalam waktu singkat.

Contoh: Masuknya Smartphone dan Internet di desa-desa Manggarai. Hanya dalam hitungan tahun, cara orang Manggarai berkomunikasi (dari surat/kabar lewat orang, jadi WhatsApp) dan cara mencari hiburan (dari cerita lisan ke TikTok/YouTube) berubah sangat cepat.

3.Perubahan Kecil

Perubahan yang terjadi tapi tidak mengubah struktur dasar atau aturan di masyarakat.

Contoh: Perubahan Gaya Rambut anak sekolah di Manggarai. Dulu mungkin rambut harus rapi biasa, sekarang banyak siswa mengikuti tren potongan rambut seperti artis Korea. Meskipun gaya rambut berubah, aturan adat dan sopan santun kepada orang tua tetap sama.

4.Perubahan Besar

Perubahan yang dampaknya dirasakan oleh hampir seluruh lapisan masyarakat dan mengubah cara hidup.

Contoh: Berkembangnya Pariwisata di Labuan Bajo. Ini mengubah masyarakat yang dulunya mayoritas nelayan atau petani, sekarang banyak yang menjadi pemandu wisata, pemilik penginapan, atau sopir travel. Hal ini mengubah pola ekonomi dan cara kerja orang Manggarai secara luas.

5.Perubahan yang Direncanakan

Perubahan yang memang sengaja dibuat oleh pihak tertentu (seperti pemerintah) untuk tujuan kemajuan.

Contoh: pembangunan Jalan Trans Flores atau pengaspalan jalan masuk ke desa-desa di Manggarai. Pemerintah merencanakan ini agar akses transportasi lancar, sehingga hasil bumi (kopi, cengkih) lebih mudah dijual ke pasar atau pelabuhan.

6.Perubahan yang Tidak Direncanakan

Perubahan yang terjadi di luar kendali manusia dan biasanya mendadak.

Contoh: bencana Tanah Longsor yang sering terjadi saat musim hujan di jalur Ruteng-Reo, yang memaksa warga mengubah rute perjalanan atau pindah tempat tinggal secara mendadak.

 

Faktor Penyebab Perubahan Sosial Budaya (IKTP 4)

Faktor penyebab perubahan secara umum dibagi menjadi dua, yaitu faktor internal (dari dalam masyarakat) dan faktor eksternal (dari luar masyarakat).

1. Faktor Internal

a. Bertambah atau Berkurangnya Penduduk

Pertumbuhan populasi menuntut perubahan dalam pengelolaan sumber daya dan pemukiman.

Contoh: Pembangunan perumahan baru di area persawahan atau lereng bukit di wilayah Pagal. Semakin padat penduduk, interaksi sosial yang dulunya sangat komunal (paguyuban) mulai bergeser menjadi lebih individual karena keterbatasan lahan dan ruang gerak.

b. Penemuan Baru (Inovasi)

Masuknya teknologi baru yang mengubah cara hidup masyarakat.

Contah: Penggunaan mesin perontok padi (thresher) oleh petani di Cibal. Dahulu, proses memanen dilakukan dengan cara tradisional (duat-dodo) yang melibatkan banyak orang dan kental dengan gotong royong. Kini, penggunaan mesin mempercepat kerja namun mengurangi intensitas interaksi sosial dalam tradisi panen tersebut.

c. Konflik dalam Masyarakat

Pertentangan antar kelompok yang memicu perubahan aturan atau tatanan.

Contoh: Perselisihan batas tanah ulayat (lingko) antar kampung atau antar keluarga. Konflik ini seringkali berujung pada perubahan sistem pembagian lahan dari yang bersifat lisan/adat menjadi pengurusan sertifikat tanah secara legal di kantor pertanahan.

2. Faktor Eksternal

a. Perubahan Lingkungan Alam

Bencana alam atau perubahan kondisi geografis yang memaksa manusia beradaptasi.

Contoh Kontekstual: Dampak tanah longsor di jalur Ruteng-Reo (wilayah Cibal). Ketika akses jalan utama terputus dalam waktu lama, masyarakat harus mencari rute alternatif atau mengubah pola distribusi hasil bumi. Hal ini memicu perubahan strategi ekonomi warga lokal untuk bertahan hidup.

b. Pengaruh Kebudayaan Masyarakat Lain

Masuknya nilai-nilai dari luar melalui media komunikasi atau migrasi.

Contoh Kontekstual: Perubahan gaya berpakaian dan bahasa anak muda di Manggarai. Melalui media sosial, tren fashion modern dan penggunaan bahasa gaul mulai menggeser penggunaan busana adat (songke, sapu) dan bahasa daerah dalam percakapan sehari-hari di ruang publik.

Dampak Positif Perubahan Sosial Budaya (KKTP 5)

1. Inovasi Teknologi, Penggunaan alat modern yang membuat pekerjaan lebih efektif dan efisien. Contoh: Penggunaan Learning Management System (LMS) seperti Google Classroom untuk tugas.

2.Pendidikan Terbuka, Akses ilmu pengetahuan semakin luas tanpa batasan jarak, usia, atau gender. Contoh, Siswa di desa bisa mengikuti kursus coding atau bahasa asing secara online.

3.Kesadaran HAM, Meningkatnya penghormatan terhadap hak, kesetaraan, dan martabat setiap individu. Contoh, Adanya kampanye anti-perundungan (bullying) dan perlindungan hak anak di sekolah.

4.Pola Pikir Rasional, Masyarakat lebih mengedepankan logika dan ilmu pengetahuan daripada mitos. Contoh: Masyarakat lebih memilih berobat ke dokter atau puskesmas daripada ke dukun.

5.Integrasi Sosial, Perubahan yang mendorong persatuan meski terdapat perbedaan budaya. Contoh: Kolaborasi siswa dari berbagai latar belakang suku dalam proyek kelompok di kelas.

Dampak Negatif Perubahan Sosial Budaya (KKTP 6)

1. Lunturnya Gotong Royong, Orang lebih suka bekerja sendiri atau membayar jasa daripada saling membantu. Contoh: Saat panen cengkih atau kopi, petani lebih memilih membayar buruh harian daripada sistem tukar tenaga secara gantian (sistem dodo) dengan tetangga.

2.Kesenjangan Sosial, Terlihat perbedaan mencolok antara si kaya dan si miskin dalam gaya hidup. Contoh: Munculnya rumah-rumah bertingkat mewah yang sangat kontras di sebelah rumah bambu atau rumah bantuan sosial di pinggiran kota Ruteng.

3. Konflik Sosial, Pertengkaran akibat perbedaan pandangan antara aturan lama dan cara baru. Contoh: Perselisihan dalam keluarga saat menentukan besarnya belis (mahar), karena anak muda ingin lebih sederhana sementara orang tua ingin tetap sesuai adat lama.

4.Kesenjangan Budaya (Cultural Lag), Teknologi sudah maju, tetapi perilaku pemakainya masih tertinggal. Contoh: Banyaknya anak muda yang sudah memiliki ponsel canggih, namun menggunakannya untuk menyebar berita bohong (hoax) atau berkata kasar di grup WhatsApp.

Strategi Menjaga Integrasi Bangsa (IKTP 7)

1.Meningkatkan Pendidikan Multikultural, Memahami dan menghargai bahwa setiap teman memiliki latar belakang budaya, agama, atau bahasa yang berbeda namun tetap satu derajat. Contoh Nyata: Siswa di sekolah menghargai teman yang menggunakan dialek bahasa Manggarai yang berbeda (misalnya perbedaan dialek wilayah Cibal, Reok, atau Ruteng) tanpa mengejeknya.

2.Mengedepankan Nilai Toleransi dan Musyawarah, Mendahulukan diskusi untuk mencapai kesepakatan bersama dan menghormati perbedaan pendapat agar tidak terjadi perpecahan. Contoh Nyata: Saat menentukan tujuan karyawisata kelas atau pembagian tugas kelompok, siswa melakukan pemungutan suara atau diskusi bersama daripada memaksakan kehendak sendiri.

3.Peran Aktif Lembaga Sosial dan Pendidikan, Sekolah dan komunitas masyarakat bekerja sama menciptakan aturan dan kegiatan yang menyatukan perbedaan. Contoh Nyata: Pihak sekolah mengundang tokoh adat atau tokoh agama setempat untuk memberikan ceramah tentang pentingnya menjaga persaudaraan (Lonto Leok) di lingkungan sekolah.

4.Penguatan Karakter melalui Kegiatan Kokurikuler, Belajar nilai-nilai kebaikan dan kerja sama melalui kegiatan di luar jam pelajaran formal, namun tetap berkaitan dengan kurikulum. Contoh Nyata: Mengikuti kegiatan pramuka atau proyek penguatan profil pelajar Pancasila (P5) dengan tema kearifan lokal, seperti latihan tarian Tiba Meka atau permainan Caci bersama teman-teman dari kelas yang berbeda.

Daftar Pustaka

1.  Soekanto, Soerjono. (2012). Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Pers

2.  Kemendikbud. (2018). IPS SMP Kelas VIII. Jakarta: Balitbang.

3.  Setiawan, Iwan, dkk. (2018). Ilmu Pengetahuan Sosial SMP/MTs Kelas VIII. Jakarta: Kemendikbud RI.

4. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2021). Buku Panduan Guru Ilmu Pengetahuan Sosial untuk SMP Kelas VIII. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan.

5. Supardi, dkk. (2021). Ilmu Pengetahuan Sosial untuk SMP Kelas VIII. Jakarta: Kemendikbudristek.

6. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2022). Buku Panduan Guru Ilmu Pengetahuan Sosial untuk SMP/MTs Kelas VIII. Jakarta: Pusat Perbukuan.

7. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2022). Ilmu Pengetahuan Sosial untuk SMP/MTs Kelas VIII (Buku Siswa). Jakarta: Pusat Perbukuan.

 

 

Materi Kelas 7

LKPD IPS KELAS 8: TANGGAP DARURAT BENCANA GEMPA

  A.    PEMAHAMAN KONSEP MATERI     1. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Kebutuhan (Studi Kasus Gempa Manggarai) Kebutuhan manusia ...