
Materi IPS Kelas 8
Pengertian Perubahan Sosial Budaya (IKTP
1)
Perubahan sosial budaya terjadi akibat berbagai
faktor internal dan eksternal, yang kemudian memicu proses seperti difusi,
akulturasi, asimilasi, dan akomodasi. Proses ini akhirnya mengubah struktur
sosial, pola pikir, serta perilaku masyarakat, yang berdampak pada nilai dan
norma yang berlaku baik secara positif maupun negatif.
Alur Perubahan Sosial Budaya (IKTP
2)
1.Pemicu Perubahan: Perubahan dimulai dari faktor Internal (seperti penemuan baru atau
konflik internal) atau faktor Eksternal (seperti bencana alam, perubahan iklim,
atau pengaruh budaya asing). Contoh:
Masuknya program pemerintah yang membawa teknologi traktor untuk menggantikan
cangkul (pengaruh budaya luar/inovasi).
2. Proses Perubahan: Setelah pemicu muncul, masyarakat akan mengalami fase transisi
melalui:
a.
Difusi: Penyebaran unsur baru.
Contoh: Petani mulai
mengenal cara menggunakan traktor melalui demonstrasi langsung di sawah.
b.
Akulturasi: Perpaduan budaya tanpa menghilangkan
budaya asli.
Contoh: Petani tetap
menggunakan sistem gotong-royong untuk membajak sawah, namun sekarang dilakukan
secara kolektif dengan traktor, bukan lagi manual. Budaya kerja sama tetap ada,
tapi medianya berubah.
c.
Asimilasi: Peleburan budaya hingga menjadi
identitas baru.
Contoh: Setelah
bertahun-tahun, cara bertani tradisional hampir hilang. Para petani muda kini
menganggap bertani harus menggunakan mesin dan teknologi digital; identitas
"petani tradisional" melebur menjadi "petani modern".
d.
Akomodasi: Penyesuaian untuk meredam potensi
konflik.
Contoh:
Muncul konflik antara petani tua yang ingin mempertahankan cara lama dan petani
muda yang ingin efisiensi. Akomodasi terjadi melalui kesepakatan pembagian
jadwal sewa traktor bagi semua warga agar tidak ada yang dirugikan.
3.Hasil Akhir: Terjadi pergeseran pada struktur sosial (cara masyarakat
terorganisir), pola pikir (paradigma), dan perilaku masyarakat.
Contoh: Struktur sosial di desa berubah; muncul kelompok
"operator mesin" yang memiliki status sosial baru. Pola pikir petani
berubah dari "sekadar bertahan hidup" menjadi "orientasi pasar
dan keuntungan".
4. Dampak: Perubahan ini secara langsung memengaruhi sistem nilai (apa yang
dianggap penting) dan norma (aturan perilaku) yang berlaku dalam masyarakat
tersebut.
Contoh: Nilai kesabaran dalam proses fisik mulai digantikan oleh nilai
efisiensi dan kecepatan. Norma lama tentang "kewajiban menyumbang
tenaga" bergeser menjadi "kewajiban membayar iuran sewa mesin".
Perubahan
sosial pada contoh di atas sebenarnya memiliki hubungan sebab dan akibat.
Pemicu (traktor) memaksa masyarakat untuk berproses (belajar, beradaptasi,
berkonflik, dan berdamai). Proses tersebut secara kolektif mengubah struktur
(posisi sosial petani) dan pola pikir. Akhirnya,
dampak terlihat dari berubahnya apa yang mereka anggap "benar"
(nilai) dan "cara berperilaku" (norma).
Bentuk-Bentuk Perubahan Sosial Budaya (IKTP 3)
Perubahan sosial budaya adalah perubahan yang
terjadi di masyarakat yang mempengaruhi cara kita bergaul, bekerja, dan
menjalani tradisi. Di Manggarai, kita bisa melihat perubahan ini dalam
kehidupan sehari-hari.
1.Perubahan Lambat (Evolusi)
Perubahan yang terjadi pelan-pelan, sedikit demi sedikit, dan butuh
waktu lama.
Contoh: dulu, nenek moyang kita di Manggarai menumbuk padi menggunakan
Lumpung/lesung (ngencung). Sekarang, hampir semua sudah beralih menggunakan
mesin penggiling padi. Perubahan ini tidak terjadi dalam semalam, tapi butuh
waktu bertahun-tahun sampai semua orang terbiasa.
2.Perubahan Cepat (Revolusi)
Perubahan yang terjadi secara mendadak dan membawa pengaruh besar dalam
waktu singkat.
Contoh: Masuknya Smartphone dan Internet di desa-desa Manggarai. Hanya
dalam hitungan tahun, cara orang Manggarai berkomunikasi (dari surat/kabar
lewat orang, jadi WhatsApp) dan cara mencari hiburan (dari cerita lisan ke
TikTok/YouTube) berubah sangat cepat.
3.Perubahan
Kecil
Perubahan yang terjadi tapi tidak mengubah
struktur dasar atau aturan di masyarakat.
Contoh: Perubahan Gaya Rambut anak sekolah di
Manggarai. Dulu mungkin rambut harus rapi biasa, sekarang banyak siswa
mengikuti tren potongan rambut seperti artis Korea. Meskipun gaya rambut
berubah, aturan adat dan sopan santun kepada orang tua tetap sama.
4.Perubahan
Besar
Perubahan yang dampaknya dirasakan oleh hampir seluruh lapisan
masyarakat dan mengubah cara hidup.
Contoh: Berkembangnya Pariwisata di Labuan Bajo. Ini mengubah
masyarakat yang dulunya mayoritas nelayan atau petani, sekarang banyak yang
menjadi pemandu wisata, pemilik penginapan, atau sopir travel. Hal ini mengubah
pola ekonomi dan cara kerja orang Manggarai secara luas.
5.Perubahan
yang Direncanakan
Perubahan yang memang sengaja dibuat oleh pihak tertentu (seperti
pemerintah) untuk tujuan kemajuan.
Contoh: pembangunan Jalan Trans Flores atau pengaspalan jalan masuk ke
desa-desa di Manggarai. Pemerintah merencanakan ini agar akses transportasi
lancar, sehingga hasil bumi (kopi, cengkih) lebih mudah dijual ke pasar atau
pelabuhan.
6.Perubahan
yang Tidak Direncanakan
Perubahan yang terjadi di luar kendali manusia dan biasanya mendadak.
Contoh: bencana Tanah Longsor yang sering terjadi saat musim hujan di
jalur Ruteng-Reo, yang memaksa warga mengubah rute perjalanan atau pindah
tempat tinggal secara mendadak.
Faktor Penyebab Perubahan Sosial Budaya (IKTP 4)
Faktor penyebab perubahan secara umum dibagi
menjadi dua, yaitu faktor internal (dari dalam masyarakat) dan faktor eksternal
(dari luar masyarakat).
1. Faktor Internal
a. Bertambah
atau Berkurangnya Penduduk
Pertumbuhan populasi menuntut perubahan dalam pengelolaan sumber daya
dan pemukiman.
Contoh: Pembangunan perumahan baru di area persawahan atau lereng bukit
di wilayah Pagal. Semakin padat penduduk, interaksi sosial yang dulunya sangat
komunal (paguyuban) mulai bergeser menjadi lebih individual karena keterbatasan
lahan dan ruang gerak.
b. Penemuan
Baru (Inovasi)
Masuknya teknologi baru yang mengubah cara hidup masyarakat.
Contah: Penggunaan mesin perontok padi (thresher) oleh petani di Cibal.
Dahulu, proses memanen dilakukan dengan cara tradisional (duat-dodo) yang
melibatkan banyak orang dan kental dengan gotong royong. Kini, penggunaan mesin
mempercepat kerja namun mengurangi intensitas interaksi sosial dalam tradisi
panen tersebut.
c. Konflik
dalam Masyarakat
Pertentangan antar kelompok yang memicu perubahan aturan atau tatanan.
Contoh: Perselisihan batas tanah ulayat (lingko) antar kampung atau
antar keluarga. Konflik ini seringkali berujung pada perubahan sistem pembagian
lahan dari yang bersifat lisan/adat menjadi pengurusan sertifikat tanah secara
legal di kantor pertanahan.
2. Faktor Eksternal
a. Perubahan
Lingkungan Alam
Bencana alam atau perubahan kondisi geografis yang memaksa manusia
beradaptasi.
Contoh Kontekstual: Dampak tanah longsor di jalur Ruteng-Reo (wilayah
Cibal). Ketika akses jalan utama terputus dalam waktu lama, masyarakat harus
mencari rute alternatif atau mengubah pola distribusi hasil bumi. Hal ini
memicu perubahan strategi ekonomi warga lokal untuk bertahan hidup.
b. Pengaruh
Kebudayaan Masyarakat Lain
Masuknya nilai-nilai dari luar melalui media komunikasi atau migrasi.
Contoh Kontekstual: Perubahan gaya berpakaian dan bahasa anak muda di
Manggarai. Melalui media sosial, tren fashion modern dan penggunaan bahasa gaul
mulai menggeser penggunaan busana adat (songke, sapu) dan bahasa daerah dalam
percakapan sehari-hari di ruang publik.
Dampak Positif Perubahan Sosial Budaya (KKTP 5)
1. Inovasi Teknologi, Penggunaan alat modern yang membuat pekerjaan lebih
efektif dan efisien. Contoh: Penggunaan Learning
Management System (LMS) seperti Google
Classroom untuk tugas.
2.Pendidikan Terbuka, Akses ilmu pengetahuan semakin luas tanpa batasan
jarak, usia, atau gender. Contoh, Siswa di desa bisa mengikuti kursus coding atau bahasa asing secara online.
3.Kesadaran HAM, Meningkatnya penghormatan terhadap hak, kesetaraan, dan
martabat setiap individu. Contoh, Adanya kampanye anti-perundungan (bullying) dan perlindungan hak anak di
sekolah.
4.Pola Pikir Rasional, Masyarakat lebih mengedepankan logika dan ilmu
pengetahuan daripada mitos. Contoh: Masyarakat lebih memilih berobat ke dokter
atau puskesmas daripada ke dukun.
5.Integrasi Sosial, Perubahan yang mendorong persatuan meski terdapat
perbedaan budaya. Contoh: Kolaborasi siswa dari berbagai latar belakang suku
dalam proyek kelompok di kelas.
Dampak Negatif Perubahan Sosial Budaya (KKTP 6)
1. Lunturnya Gotong Royong, Orang lebih suka bekerja sendiri atau membayar
jasa daripada saling membantu. Contoh: Saat panen cengkih atau kopi, petani
lebih memilih membayar buruh harian daripada sistem tukar tenaga secara gantian
(sistem dodo) dengan tetangga.
2.Kesenjangan Sosial, Terlihat perbedaan mencolok antara si kaya dan si
miskin dalam gaya hidup. Contoh: Munculnya rumah-rumah bertingkat mewah yang
sangat kontras di sebelah rumah bambu atau rumah bantuan sosial di pinggiran
kota Ruteng.
3. Konflik Sosial, Pertengkaran akibat perbedaan pandangan antara aturan
lama dan cara baru. Contoh: Perselisihan dalam keluarga saat menentukan
besarnya belis (mahar), karena anak muda ingin lebih sederhana sementara orang
tua ingin tetap sesuai adat lama.
4.Kesenjangan Budaya (Cultural Lag),
Teknologi sudah maju, tetapi perilaku pemakainya masih tertinggal. Contoh:
Banyaknya anak muda yang sudah memiliki ponsel canggih, namun menggunakannya
untuk menyebar berita bohong (hoax)
atau berkata kasar di grup WhatsApp.
Strategi Menjaga Integrasi Bangsa (IKTP
7)
1.Meningkatkan Pendidikan
Multikultural, Memahami dan menghargai bahwa setiap teman memiliki latar
belakang budaya, agama, atau bahasa yang berbeda namun tetap satu derajat. Contoh
Nyata: Siswa di sekolah menghargai teman yang menggunakan dialek bahasa
Manggarai yang berbeda (misalnya perbedaan dialek wilayah Cibal, Reok, atau
Ruteng) tanpa mengejeknya.
2.Mengedepankan Nilai Toleransi
dan Musyawarah, Mendahulukan diskusi untuk mencapai kesepakatan bersama dan
menghormati perbedaan pendapat agar tidak terjadi perpecahan. Contoh Nyata:
Saat menentukan tujuan karyawisata kelas atau pembagian tugas kelompok, siswa
melakukan pemungutan suara atau diskusi bersama daripada memaksakan kehendak
sendiri.
3.Peran Aktif Lembaga Sosial
dan Pendidikan, Sekolah dan komunitas masyarakat bekerja sama menciptakan
aturan dan kegiatan yang menyatukan perbedaan. Contoh Nyata: Pihak sekolah
mengundang tokoh adat atau tokoh agama setempat untuk memberikan ceramah
tentang pentingnya menjaga persaudaraan (Lonto Leok) di lingkungan sekolah.
4.Penguatan Karakter melalui
Kegiatan Kokurikuler, Belajar nilai-nilai kebaikan dan kerja sama melalui
kegiatan di luar jam pelajaran formal, namun tetap berkaitan dengan kurikulum.
Contoh Nyata: Mengikuti kegiatan pramuka atau proyek penguatan profil pelajar
Pancasila (P5) dengan tema kearifan lokal, seperti latihan tarian Tiba Meka
atau permainan Caci bersama teman-teman dari kelas yang berbeda.
Daftar
Pustaka
1. Soekanto,
Soerjono. (2012). Sosiologi
Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Pers
2.
Kemendikbud. (2018). IPS SMP Kelas VIII. Jakarta:
Balitbang.
3.
Setiawan, Iwan, dkk. (2018). Ilmu Pengetahuan Sosial SMP/MTs Kelas VIII. Jakarta:
Kemendikbud RI.
4. Kementerian Pendidikan,
Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2021). Buku
Panduan Guru Ilmu Pengetahuan Sosial untuk SMP Kelas VIII. Jakarta: Pusat
Kurikulum dan Perbukuan.
5. Supardi, dkk. (2021). Ilmu Pengetahuan Sosial untuk SMP Kelas VIII. Jakarta:
Kemendikbudristek.
6. Kementerian
Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2022). Buku Panduan Guru Ilmu
Pengetahuan Sosial untuk SMP/MTs Kelas VIII. Jakarta: Pusat Perbukuan.
7. Kementerian
Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2022). Ilmu Pengetahuan Sosial
untuk SMP/MTs Kelas VIII (Buku Siswa). Jakarta: Pusat Perbukuan.